Share
div id='fb-root'/>

Kaya tidak diukur dengan banyaknya harta

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bertakwa itu dimana saja

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutkanlah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapuskannya dan berakhlaqlah dengan sesama dengan akhlaq yang baik.”(HR Tirmidzi 1987)

Mudahkan Kesulitan Saudara Kita

“Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”(HR Muslim 2699)

Segeralah Bertaubat

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133)

Bersemangatlah untuk Beramal Shalih

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97)

Showing posts with label nasehat. Show all posts
Showing posts with label nasehat. Show all posts

Tuesday, February 25, 2014

Kisah Anak Umur 10 Tahun Hafal Al Qur'an

Kisah Pembelajaran Abdullah, Hafidz Al Qur'an Usia 10 Tahun
Ayahnya, Farid Fadhillah, bercerita:

Dari beberapa orang yang nanya ke saya bahwa mereka tidak bisa mendidik anak-anak hafidz dan hafidzoh karena mereka sendiri tidak hafidz, sementara anak-anak sekolah di sekolah umum. Ana beri gambaran keadaan Abdullah dan uminya sebagai guru utamanya. Abdullah termasuk anak yang lambat bicaranya. Dia baru berbicara di usianya 4.5 tahun.

Sementara ibunya bukanlah hafidhoh, bukan ustadzah, hanya orang biasa saja. Abdullah pun sekolah di sekolah umum bukan pesantren. Bukan pula sekolah tahfidz sebagaimana umumnya di jumpai di Saudi. Abdullah mulai belajar al quran dari saya dengan panduan kitab IQRA yang melegenda itu. Usianya 4.5 tahunan ketika itu. Dan mulai menghafal al quran dengan bimbingan uminya di usia menjelang 5 tahun.

Dia menghafal dari potongan suku kata. Uminya membaca dia mengikuti per suku kata.. berpuluh-puluh kali. Setelah hafal suku kata tersebut pindah ke suku kata berikutnya. Terus berpuluh-puluh kali di ulangi. Sampai dapat 1 baris. Kemudian di ulangi lagi 1 baris tersebut berpuluh-piluh kali. Sampai dia hafal betul. Setelah itu baru pindah ke baris ke 2...

Sehari ketika itu hanya dapat 1 atau 2 baris saja tergantung kondisi abdullah. Oya Abdullah menghafal dari belakang ke depan. Kecuali al Fatihah. Jadi surat pertama setelah al Fatihah adalah an-Naas dst. Sampai al-Baqoroh. Esok harinya dia akan mengulangi lagi apa yang dia hafalkan hari sebelumnya. Sebelum dia menambah 1 atau 2 baris lagi hari ini. Terus begitu hingga dapat 1 surat. Setelah itu barulah dia mengulangi-ulangi surat tersebut di satu hari itu saja. Dia akan murojaah lagi ketika sudah dapat satu halaman.

Uminya luar biasa sabar membimbing hafalan per suku kata ini sampai Abdullah hafal 2 juz terakhir, yakni 29 dan 30. Setelah itu barulah dinaikkan hafapannya menjadi 4 baris sehari hingga setengah halaman maksimum. Karena dia juga harus belajar pelajaran lainnya. Hafalan 4 baris hingga setengah halaman perhari ini berlangsung kira-kira sampai juz ke 20.

Selama masa aktif sekolah paling-paling dapat 2 juz saja. Dia dapat banyak hafalan ketika musim liburan. Tentunya semakin lama semakin cepat hafalannya. Sampai-sampai ketika sudah kurang 5 atau 6 juz terakhir dia sanggup menghafal hingga 4.5 halaman perharinya. Seingat saya al-Baqarah selesai dalam waktu kira-kira 2 minggu. Pas ketika musim liburan antar semester di Saudi.

Kalau musim liburan sekolah Abdullah start menghafal setelah sarapan pagi kira-kira pukul 6 pagi waktu Saudi. Terus selama 2 jam dia menghafal sampai kira-kira pukul 8, kemudian istirahat setengah jam kemudian hafalan lagi samapi jam 10, kemudian istirahat lagi setengah jam, kemudian lanjut lagi hingga jam 12. Kemudian sholat dhuhur dan makan siang dan istirahat hingga pukul 2 siang. Kemudian pukul 3 siang lanjut lagi sampai waktu ashar. Setelah ashar lanjut lagi hingga maghrib.

Dan istri saya mendidik hafalan adeknya Abdullah yaitu Abdurrahman juga. Yang alhamdulillah sudah dapat 12 juz. Abdullah hafalan sendiri, uminya nerima setoran adiknya. Setelah adiknya selesai nyetor hafalan gantian Abdullah yang setor sementara adiknya hafalan sendiri, terus begitu. Istri saya hampir tiap malam sampai sakit punggung akibat lamanya duduk untuk nyimak hafalan dan setoran anak-anak.

Sudah 5 tahun lebih seperti itu. Sekarang Abdullah tinggal murojaah terus. Fokus dipindah ke Abdurrahman. Dalam 1 tahun kedepan giliran adeknya Abdurrahman yaitu Abdurrazzaq sudah menunngu juga.

Subhanallah...

=====

Sekian cerita beliau. Cerita di atas saya dapatkan langsung dari pak Farid selaku ayah dari Abdullah, dan beliau sudah izinkan utk share cerita di atas.

Sumber: Page Status Nasehat


Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Friday, October 12, 2012

Pernahkah Merasa Rugi ketika Kesempatan Beribadah Hilang!?


بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:
Apakah Anda pernah kehilangan uang?
Bukankah Anda akan sangat merasa kehilangan dan kerugian
Apakah Anda pernah kehilangan perhiasan dan harta yang berharga?
Bukankah Anda akan sangat merasa kehilangan dan kerugian yang sangat mendalam
Apakah Anda pernah kehilangan kesempatan emas dalam perkara dunia?
Bagaimana perasaan Anda, merasa sangat rugi dan kehilangankah?
TETAPI…
APAKAH ANDA MERASA RUGI DAN KEHILANGAN KETIKA ADA KESEMPATAN UNTUK BERIBADAH?
APAKAH ANDA MERASA RUGI DAN KEHILANGAN…
KETIKA ANDA KETINGGALAN SHALAT SHUBUH ATAU SHALAT FARDHU LAINNYA?
KETINGGALAN SHALAT BERJAMAAH?
KETINGGALAN MEMBACA AL QURAN?
DAN KETINGGALAN IBADAH-IBADAH AGUNG LAINNYA? LALU KENAPA HARUS MERASA RUGI!?!

KAWANKU PEMBACA SEIMAN…

Sebagian besar orang merasa sangat rugi dan kehilangan ketika perkara dunia tidak jadi dia dapatkan, bahkan tidak sedikit berputus asa, depresi, stress dan lainnya. Padahal dunia  dan perhiasaan di dalamnya dibandingkan surga di akhirat adalah hanya sedikit, tidak kekal, tidak baik dan menggiurkan serta melalaikan.

Mari perhatikan nash-nash berikut:
{وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ} [آل عمران: 185]
Artinya: “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” QS. Ali Imran
{قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى } [النساء: 77]
 Artinya: “Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa.” QS. An NIsa’:77.
{ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ } [الأنعام: 32]
 Artinya: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”. QS. Al An’am:32. 
{ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ} [التوبة: 38]
Artinya: “Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.”
{وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ } [الرعد: 26]
Artinya: “Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” QS. Ar Ra’du:26 
{وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى} [القصص: 60]
Artinya: “Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” 
{بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17)} [الأعلى: 16، 17]
Artinya:
87:16. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.
87:17. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. QS. Al A’la: 16-17.
Kenapa harus merasa rugi dan kehilangan ketika kesempatan beribadah hilang?
Jawabannya:
Karena merasa rugi dan kehilangan ketika kesempatan beibadah hilang adalah lifestyle nya para shahabat nabi radhiyallahu ‘anhum, orang orang yang diridhai oleh Allah Ta’ala. Dan sudah seharusnya kita mencontoh mereka.
Mari perhatikan hadits berikut…
أَنَّ دَاوُدَ بْنَ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِى وَقَّاصٍ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ كَانَ قَاعِدًا عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ إِذْ طَلَعَ خَبَّابٌ صَاحِبُ الْمَقْصُورَةِ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ أَلاَ تَسْمَعُ مَا يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ إِنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ خَرَجَ مَعَ جَنَازَةٍ مِنْ بَيْتِهَا وَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ تَبِعَهَا حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ مِنْ أَجْرٍ كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُحُدٍ ». فَأَرْسَلَ ابْنُ عُمَرَ خَبَّابًا إِلَى عَائِشَةَ يَسْأَلُهَا عَنْ قَوْلِ أَبِى هُرَيْرَةَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَيْهِ فَيُخْبِرُهُ مَا قَالَتْ وَأَخَذَ ابْنُ عُمَرَ قَبْضَةً مِنْ حَصَى الْمَسْجِدِ يُقَلِّبُهَا فِى يَدِهِ حَتَّى رَجَعَ إِلَيْهِ الرَّسُولُ فَقَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ صَدَقَ أَبُو هُرَيْرَةَ. فَضَرَبَ ابْنُ عُمَرَ بِالْحَصَى الَّذِى كَانَ فِى يَدِهِ الأَرْضَ ثُمَّ قَالَ لَقَدْ فَرَّطْنَا فِى قَرَارِيطَ كَثِيرَةٍ.
Artinya: “Bahwa Daud bin Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash bercerita bahwa bapaknya (Amir bin Sa’ad bin Ab Waqqash) pernah bercerita, ia pernah duduk bersama Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ketika itu datang Khabbab tukang Al Maqshurah, ia berkata: “Wahai Abdullah bin Umar, apakah Anda tidak mendegar apa yang diucapkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang keluar mengikuti jenazah dari rumahnya, menyolatkannya kemudian mengikutinya samapai dikuburkan, maka baginya dua qirath dari pahala, dan setiap qirathnya itu laksana gunung Uhud, dan barangsiapa yang menyolatkannya lalu pulang maka baginya pahala seperti satu gunung.” Kemudian Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mengutus Khabbab kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha agar bertanya kepadanya tentang riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, kemudia n setelah itu kembali lagi ke beliau dan membritahukan apa yang diucapkan oleh Aisyah, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mengambil batu kecil dari masjid, beliau bolak-balikkan di tangannya beliau, samapi kembali lagi utusaan tadi, ia (utusan tadi) mengatakan: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Abu Hurairah benar (perkataannya)”, maka Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma melemparkan batu yang ada di tangannya tadi ke tanah an kemudian beliau berkata: “Sungguh kita telah menyia-nyiakan bergunung-gunung pahala yang sangat banyak.” HR. Bukhari dan Muslim.

Mari perhatikan…bagaimana Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma merasan sangat rugi dan kehilangan ketika beliau tidak mengantarkan jenazah sampai dikuburkan yang mengakibatkan beliau kehilangan bergunung-gunung pahala.
Karena kebiasaan beliau hanya menyolatkan kemudian beliau pergi, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah di dalam kitabnya Fath Al Bary:
كان ابن عمر يصلي على الجنازة ثم ينصرف
Artinya: “Senantiasa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menyolatkan jenazah kemudian pergi.”
Ibnu hajar rahimahullah juga berkata:
وفيه دلالة على فضيلة بن عمر من حرصه على العلم وتاسفه على ما فاته من العمل الصالح
Artinya: “Di hadits ini menunjukkan keistimewaan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yaitu berupa ketamakan terhadap ilmu dan merasa rugi atas apa yang tertingal darinya berupa amal shalih.
Kawan Pembaca Seiman…
Sekarang apakah Anda merasa rugi dan kehilangan ketika terlambat bangun shubuh?
Bagaimana tidak merasa kehilangan dan rugi, karena di dalam shalat shubuh terdapat;
Sahalat shubuh disaksikan oleh para malaikat. Lihat QS. Al Isra: 78.
Siapa yang pergi ke masjid di waktu pagi disediakan Allah tempat singgah di dalam surga. HR Bukhari dan Muslim.
Pergi untuk shalat shubuh berjamaah mendapat cahaya yang sempurna di hari kiamat. HR. Tirmidzi.
Dua rakaat sebelum shubuh lebih baik daripada dunia dan seisinya. HR Bukhari
Barangsiapa yang shalat shubuh maka ia di dalam jaminan Allah Ta’ala. HR. Muslim.
Barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah lalu setelah ia duduk samapai terbit matahari kemudian shalat dua rakaat maka ia seperti mendapatkan pahala haji dan umrah yang sempurna, yang sempurna, yang sempurna!. HR. Tirmidzi.
Barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka ia seperti shalat sepanjang malam. HR. Muslim.
Makanya… Bagaimana tidak merasa kehilangan dan rugi!?!?!?

Kawan Pembaca Seiman…
Sekarang apakah Anda pernah merasa rugi dan kehilangan ketika tidak atau terlambat shalat berjamaah?
Bagaimana tidak merasa kehilangan dan rugi, karena di dalam shalat berjamaah terdapat;
Shalat Berjamaah lebih utama 25 atau 27 derajat dibandingkan shalat sendirian. HR. Bukhari dan Muslim.
Berjalan menuju shalat berjamaah; satu langkah kaki menghapuskan dosa, satu langkah kaki menambahkan pahala, satu langkah kaki meningkatkan derajat. HR. Bukhari dan Muslim.
Berjalan menuju shalat berjamaah di dalam jaminan Allah. HR. Abu Daud.
Shalat qabliyyah, siapa yang selalu melaksanakan shalat rawatib maka dibangunkan baginya rumah di dalam surga. HR. Tirmidzi.
Doa antara adzan dan iqamah tidak ditolak. HR. Abu Daud.
Duduk di dalam masjid menunggu shalat dihitung sebagaimana orang yang shalat. HR. Bukhari.
Duduk di dalam masjid menunggu shalat akan di doakan oleh para malaikat agar mendapat rahmat, ampunan dan taubat dari Allah Ta’ala. HR. Abu Daud.
Subhanallah…!!! Amazing…

Kawan Pembaca Seiman…
Sekarang apakah Anda pernah merasa rugi dan kehilangan ketika tidak membaca Al Quran dalam sehari? Terutama di zaman orang sebagian sibuk dengan situs jejaring social, majalah, Koran, tabloid, bulletin yang terkadang di dalamnya lebih cenderung kepada dosa dan maksiat dibandingkan pahala dan ganjaran!
Bagaimana tidak merasa kehilangan dan rugi, karena di dalam membaca Al Quran terdapat;
Satu Huruf yang dibaca dari Al Quran berpahala 10 kebaikan. HR. Tirmidzi.
Yang membacanya terbata-bata saja, mendapatkan dua pahala. HR. Muslim.
Bacaan Al Quran akan menjadi syafaat di hari kiamat. HR. Muslim.

Kawan Pembaca Seiman…
Ini hanya contoh, bagaimana kita tidak merasa rugi dan kehilangan jika kesempatan untuk beribadah kita sia-siakan…
Silahkan cari contoh yang lain, semoga bermanfaat kawanku…
Dari seorang yang sangat menginginkan kebaikan untukmu…

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Sabtu, 3 Sya’ban 1433H, Dammam KSA.

www.dakwahsunnah.com

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Friday, October 5, 2012

Tawakal Kepada Allah

Tawakal Kepada Allah
Sahabat seakidah, para pemuda muslim yang dirahmati Allāh. Tawakal kepada Allāh adalah salah satu kewajiban tauhid dan iman yang terbesar. Semakin kuat iman seorang hamba semakin kuat pula tawakalnya. Semakin lemah iman seseorang semakin lemah pula tawakalnya.
Pengertian Tawakal
Tawakal kepada Allah
Tawakkal kepada Allah
Pada hakikatnya, tawakal murni amalan hati. Oleh sebab itu, wajib mengesakan Allāh dengan amalan tersebut, sedangkan memalingkannya kepada selain Allāh adalah syirik (lihat at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 375).
Bertawakal kepada sesuatu artinya adalah bersandar kepadanya. Adapunbertawakal kepada Allāh maksudnya adalah menyandarkan diri kepada Allāh ta’ālā dalam rangka mencukupi dan memenuhi keinginannya, baik di saat mencari kemanfaatan ataupun menolak kemadharatan. Ia merupakan bagian kesempurnaan iman dan tanda keberadaannya.” (lihat Syarh Tsalatsat al-Ushul, hal. 38 oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaiminraḥimahullāh)
Apabila dirinci, tawakal mencakup tiga unsur:
  1. Keyakinan bahwasanya segala urusan ada di tangan Allāh, segala yang dikehendaki Allāh pasti terjadi dan apa pun yang tidak dikehendaki-Nya maka tidak akan terjadi. Hanya Allāh yang menguasai manfaat dan madharat, yang kuasa untuk memberi atau menghalangi
  2. Menyandarkan hati kepada Allāh dan menaruh kepercayaan penuh kepada-Nya
  3. Melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan menurut syari’at dalam rangka mencapai tujuannya (lihat Hushul al-Ma’mul bi Syarh Tsalatsat al-Ushul, hal. 83-84, al-Qaul as-Sadid ‘ala Maqashid at-Tauhid, hal. 101-102, at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 374-375)
Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),
“Kepada Allāh hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” (QS. al-Ma’idah: 23).
Ayat ini menunjukkan wajibnya memurnikan tawakal kepada Allāh dan tidak boleh bertawakal kepada selain-Nya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa tawakal kepada Allāh adalah salah satu jenis ibadah, sedangkan memalingkan ibadah kepada selain Allāh adalah syirik (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 298)
Kedudukan Tawakal
Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),
“Hanyalah orang-orang beriman itu adalah orang-orang yang apabila disebut nama Allāh maka hati mereka merasa takut, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka hal itu semakin menambah keimanan mereka, dan mereka bertawakal kepada Rabb mereka semata.” (QS. al-Anfal: 2)
Semakin kuat iman seorang hamba semakin kuat pula tawakalnya. Dan semakin lemah iman seseorang semakin lemah pula tawakalnya. Sehingga lemahnya tawakal merupakan tanda lemahnya iman seorang hamba. Di dalam al-Qur’an, Allāhta’ālā seringkali menggandengkan antara tawakal dengan ibadah, tawakal dengan iman, tawakal dengan takwa, tawakal dengan islam, tawakal dengan hidayah. Ini semua menunjukkan bahwa tawakal merupakan pokok seluruh maqam iman dan ihsan untuk segala bentuk amal keislaman. Kedudukan tawakal di dalam ajaran Islam laksana kepala bagi anggota badan (lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 91-92)
Tawakal adalah separuh agama. Oleh sebab itu, kita biasa mengucapkan dalam sholat kita Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan). Kita memohon kepada Allah pertolongan dengan menyandarkan hati kepada-Nya bahwasanya Dia akan membantu kita dalam beribadah kepada-Nya.
Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya), “Sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (QS. Hud: 123).
Allah ta’ālā juga berfirman (yang artinya), “Kepada-Nya lah aku bertawakal dan kepada-Nya aku akan kembali.” (QS. Hud: 88).
Tidak mungkin merealisasikan ibadah tanpa tawakal. Karena apabila seorang insan diserahkan kepada dirinya sendiri maka itu artinya dia diserahkan kepada kelemahan dan ketidakmampuan, sehingga dia tidak akan sanggup untuk beribadah dengan baik.” (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [2/28] oleh Syaikh Ibnu Utsaimin raḥimahullāh)
Syaikh as-Sa’di raḥimahullāh berkata, “Tawakal kepada Allāh adalah salah satu kewajiban tauhid dan iman yang terbesar. Sesuai dengan kekuatan tawakal, sekuat itulah keimanan seorang hamba dan bertambah sempurna tauhidnya. Setiap hamba sangat membutuhkan tawakal kepada Allah dan memohon pertolongan kepada-Nya dalam segala yang ingin dia lakukan atau tinggalkan, dalam urusan agama maupun urusan dunianya.” (lihat al-Qaul as-Sadid ‘ala Maqashid at-Tauhid, hal. 101)
Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Tawakal kepada Allāh adalah sebuah kewajiban yang harus diikhlaskan (dimurnikan) untuk Allāh semata. Ia merupakan jenis ibadah yang paling komprehensif, maqam/kedudukan tauhid yang tertinggi, teragung, dan termulia. Karena dari tawakal itulah tumbuh berbagai amal salih. Sebab apabila seorang hamba bersandar kepada Allāh semata dalam semua urusan agama maupun dunianya, tidak kepada selain-Nya, niscaya keikhlasan dan interaksinya dengan Allāh pun menjadi benar.” (lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 91)
Keutamaan Tawakal
Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),
“Sesungguhnya Allāh mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),
“Barangsiapa bertawakal kepada Allāh niscaya Dia cukup baginya.” (QS. ath-Thalaq: 3).
Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al-Qor’awi menjelaskan, “Ayat ini menunjukkan bahwa tawakal termasuk sebab yang paling penting untuk mendapatkan manfaat dan menolak madharat.” Beliau juga mengatakan, “Ayat ini menunjukkan wajibnya tawakal kepada Allah, karena dengan sebab tawakalitulah Allāh akan menjaga hamba-Nya dan mencukupinya.” (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 302)
Kaidah Pengambilan Sebab
Syaikh Shalih alu Syaikh berkata, “Sesungguhnya penetapan sebab-sebab (sarana dan jalan) yang bisa mendatangkan pengaruh atau keberadaan sesuatu sebagai sebab tidaklah diperbolehkan tanpa melalui jalur syari’at. Oleh sebab itu, tidak boleh menetapkan suatu sebab kecuali apabila hal itu ditetapkan sebagai sebab menurut syari’at, atau ditetapkan sebagai sebab berdasarkan pengalaman nyata -terbukti secara empiris- yang menunjukkan bahwa hal itu memang memberikan dampak secara jelas, bukan sesuatu yang samar.” (lihat at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 93)
Dalam menempuh sebab untuk meraih manfaat atau menolak madharat ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh setiap hamba, yaitu:
  1. Tidak boleh menempuh suatu sebab/sarana yang tidak ditetapkan oleh syari’at atau tidak dibenarkan secara qadari/menyelisihi hukum sebab-akibat
  2. Tidak boleh bersandar kepada sebab, tetapi harus bersandar kepada Allāh yang menciptakan dan menguasai sebab tersebut. Meski demikian, hendaknya tetap menempuh sebab yang disyari’atkan demi mencapai tujuan dan bersemangat dalam mendapatkan manfaat darinya
  3. Harus meyakini bahwa segala macam sebab/sarana -sebagus apapun- tetap saja ia berkaitan erat dengan takdir Allāh, sedikit pun ia tidak terlepas darinya. Allāh berhak mengatur segala sesuatunya menurut kehendak-Nya. Apabila berkehendak, Allāh akan biarkan sebab itu berjalan sebagaimana fungsinya agar hamba-hamba-Nya menempuh sebab-sebab itu dan supaya mereka menyadari kesempurnaan hikmah-Nya. Namun, apabila mau, Allāh pun bisa mengubahnya. Hikmahnya adalah supaya mereka tidak bersandar kepadanya dan supaya mereka mengetahui kesempurnaan qudrah/kekuasaan Allāh, bahwa Allāh lah satu-satunya yang berhak untuk mengatur alam semesta ini sebagaimana yang dikehendaki oleh-Nya (lihat al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 34-35)
Tawakal Kepada Makhluk
Tawakal kepada makhluk memiliki dua keadaan:
  1. Syirik akbar, yaitu apabila bersandar kepada makhluk dalam hal-hal yang hanya dikuasai Allāh. Seperti misalnya bersandar kepadanya demi mendapatkan ampunan dosa, menggantungkan hati kepadanya dalam menggapai kebaikan di akherat, bersandar kepadanya dalam rangka memperoleh anak/keturunan dan lain sebagainya. Hal ini sebagaimana yang banyak menimpa kepada para pemuja kubur dan para wali. Mereka menujukan ketergantungan hati dan harapan mereka kepada sesembahan-sesembahan tersebut demi mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam urusan dunia maupun akherat. Ini semua termasuk perbuatan syirik akbar yang mengugurkan pokok ketauhidan
  2. Syirik khafi/samar, yaitu apabila bersandar kepadanya dalam hal-hal yang Allāh berikan kepadanya kekuasaan untuk itu. Hal ini termasuk syirik kecil. Karena hakikat dari tawakal adalah penyerahan segala urusan dan ketergantungan hati. Padahal, itu semua tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah semata; yang di tangan-Nya lah kuasa atas segala urusan. Adapun makhluk sama sekali tidak berhak untuk menerimanya (lihat at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 375-376).
Wallāhu a’lam biṣṣawāb.
—-
Sumber referensi gambar: http://ht.ly/e5WgC  



Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Musibah Berbuah Hidayah

Musibah Berbuah Hidayah
Sabar memang pahit seperti namanya
Tetapi, buahnya jauh lebih manis daripada madu…
Sahabat seakidah, para pemuda muslimyang dirahmati Allāh. Musibah dan bencana. Itulah peristiwa pahit yang tak jarang kita alami. Adakah musibah bisa membawa hidayah? Yang jelas, musibah yang menimpa kita adalah sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allāh tabaraka wa ta’ala. Sementara, tidak mungkin Allāh Yang Maha Bijaksana menzalimi hamba-hamba-Nya.
Ibnu Taimiyah raḥimahullāhberkata, “Segala bencana yang menimpa adalah keadilan dari-Nya. Adapun segala nikmat merupakan karunia dan kemurahan dari-Nya.” (lihat al-Hadiyah fi Mawa’izh al-Imam Ibni Taimiyah, hal. 21)
Musibah terkadang menimpa pada harta, nyawa, ataupun barang-barang yang kita butuhkan di dalam kehidupan. Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),
“Benar-benar Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, serta kekurangan harta, lenyapnya nyawa, dan sedikitnya buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini adalah milik Allāh, dan kami juga akan kembali kepada-Nya’. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan curahan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.”
(QS. al-Baqarah: 155-157)
Sungguh Menakjubkan!
Dari Shuhaib raḍiyallāhu ‘anhu, Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” (H.R. Muslim no. 2999).
Abu Ali ad-Daqqaq raḥimahullāh berkata,
“Hakikat sabar adalah tidak memprotes sesuatu yang sudah ditetapkan dalam takdir. Adapun menampakkan musibah yang menimpa selama bukan untuk berkeluh-kesah (karena merasa tidak puas terhadap takdir, pent) maka hal itu tidaklah meniadakan kesabaran.” (lihat Syarh Muslim [3/7])
Musibah Membawa Hidayah
Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),
“Tidaklah menimpa suatu musibah melainkan dengan izin Allāh. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allāh maka Allāh akan berikan petunjuk ke dalam hatinya. Dan Allāh terhadap segala sesuatu Maha Mengetahui.”
(QS. at-Taghabun: 11).
‘Alqomah bin al-Aswad raimahullāh -salah seorang tabi’in senior- berkata tentang maksud ayat di atas,
“Dia adalah seorang yang tertimpa musibah, maka dia menyadari bahwa hal itu datang dari Allāh, oleh sebab itu dia pun merasa ridha dan pasrah.” Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tertimpa musibah kemudian bersabar maka Allāh akan anugerahkan petunjuk ke dalam hatinya (lihat al-Irsyād ilā Shahīh al-I’tiqād, hal. 345-346 dan I’anat al-Mustafid [2/110])
Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan,
“Di sinilah letak pendalilannya, bahwasanya Allāh menyebut kesabaran dalam menghadapi musibah dan ridha terhadap qadha’ dan qadar Allāh sebagai keimanan. “Allāh akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” Buah dari perasaan ridha kepada takdir Allāh, bersabar dan mengharapkan pahala Allāh adalah curahan hidayah ke dalam hatinya. Yaitu Allāh akan tanamkan (perkokoh) di dalam hatinya keimanan, bashirah (ilmu), dan cahaya. Inilah buah kesabaran dalam menghadapi qadha’ dan qadar Allāh.” (lihat I’anat al-Mustafid [2/111])
Ayat di atas memberikan pelajaran kepada kita, bahwa:
  1. Segala macam musibah terjadi dengan ketetapan dan takdir dari Allāh
  2. Merasa ridha terhadap ketetapan takdir tersebut dan tetap bersabar dalam menghadapinya merupakan salah satu sifat keimanan; karena di dalam ayat tersebut Allāh menyebut sabar dengan keimanan
  3. Sikap sabar dalam menghadapi musibah akan membuahkan hidayah di dalam hati untuk menggapai kebaikan, kekuatan iman, dan keyakinan (lihat I’anat al-Mustafid [2/112])
Pentingnya Sabar
Saudaraku, sabar dalam menghadapi takdir yang menyakitkan merupakan bagian dari keimanan dan kesempurnaan tauhid. Sebaliknya, ketidaksabaran dalam menghadapi musibah merupakan perkara yang merusak tauhid. Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib raḍiyallāhu’anhu pernah berkata,
“Sabar di dalam agama laksana kepala bagi tubuh. Sehingga, tidak ada iman pada diri orang yang tidak punya kesabaran sama sekali.” (lihat I’anat al-Mustafid [2/107 dan 109])
Sabar adalah bekal untuk meraih kebaikan dan kesempurnaan. Tanpa kesabaran hidup tidak akan membahagiakan. Musibah mendera? Itulah saatnya menyalakan cahaya kesabaran di dalam hati kita…
Wa ṣallallāhu ’ala Nabiyyinā Muhammadin wa ‘alā ālihi wa sallam. Walamdu lillāhi Rabbil ‘ālamīn.
____
* sumber ilustrasi gambar: http://ht.ly/e1Imx 



Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

10 Kiat Menggapai Istiqomah (Bagian 2)

10 Kiat Menggapai Istiqomah (Bagian 2)
Segala puji bagi Allāh. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullāh. Amma ba’du.
Sahabat seakidah, pemuda muslim yang dirahmati Allāh. Telah berlalu nasehat yang pertama dalam kiat-kiat untuk menggapai istiqomah; yaitu bahwasanya istiqomah adalah anugerah dari Allāh. Ia bukanlah hasil dari jerih payah atau usaha manusia semata sehingga kita tidak boleh lupa diri, seolah-olah itu semua merupakan buah kerja keras dan kepandaian kita.
Berikutnya, kiat yang kedua untuk menggapai istiqomah itu adalah memahami dengan baik apa sesungguhnya hakikat istiqomah yaitu meniti jalan lurus (ṣirāṭal mustaqīm); perkara yang senantiasa kita minta setiap hari di dalam ṣalat kita. Bagaimana mungkin kita bisa istiqomah jika kita tidak paham apa itu istiqomah; apa itu jalan lurus yang harus kita tempuh?
Kiat Kedua:
Mengenal Hakikat Istiqomah
Perlu diketahui, bahwa orang yang istiqomah adalah orang yang bertauhid. Yaitu orang yang beribadah kepada Allāh semata serta mengingkari segala sesembahan selain-Nya. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Abū Bakr aṣ-Ṣiddīq raḍiyallāhu’anhu tatkala menafsirkan ayat (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Rabb kami adalah Allāh, kemudian mereka istiqomah.” Beliau mengatakan,
“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak mempersekutukan Allāh dengan sesuatu apapun.” (lihat ‘Asyara Qawa’id fil Istiqomah, hal. 11)
Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu’anhumā juga mengatakan mengenai maksud ‘istiqomah’ pada ayat di atas adalah istiqomah di atas syahadat laa ilaha illallāh. Tafsiran serupa juga diriwayatkan dari Anas, Mujahid, Zaid bin Aslam, ‘Ikrimah, dan lain-lain. Tidak jauh dari makna ini penafsiran Abul ‘Aliyah raḥimahullāh. Beliau berkata, “Maksudnya, kemudian mereka itu mengikhlaskan agama dan amalan untuk-Nya.” (lihat ‘Asyara Qawa’id fil Istiqomah, hal. 12)
Selain itu, orang yang istiqomah adalah yang konsisten melaksanakan amal-amal yang diwajibkan kepadanya. Sebagaimana tafsiran yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu’anhumā mengenai ayat tersebut. “Kemudian mereka istiqomah” maksudnya adalah,
“Kemudian mereka istiqomah dalam menunaikan hal-hal yang diwajibkan oleh-Nya.” (lihat ‘Asyara Qawa’id fil Istiqomah, hal. 12)
Bisa juga dimaknakan dengan makna yang lebih luas; bahwasanya orang yang istiqomah adalah yang tidak melalaikan ketaatan kepada-Nya. Dia terus konsisten dengan ketaatan; yaitu menjalankan perintah-perintah Allāh dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Qatadah raḥimahullāh menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan istiqomah adalah istiqomah di atas ketaatan kepada-Nya (lihat ‘Asyara Qawa’id fil Istiqomah, hal. 13)
Dengan kata lain, istiqomah adalah konsisten di atas ajaran agama Islam. Tegak di atas Sunnah Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Tunduk kepada hukum-hukum Allāh dan Rasul-Nya.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan,
“Hakikat istiqomah adalah menempuh jalan yang lurus; yaitu agama yang benar ini. Tanpa melenceng ke kanan maupun ke kiri. Sehingga istiqomah itu mencakup segala ketaatan yang dilakukan, lahir maupun batin. Ia pun mencakup tindakan meninggalkan segala larangan -baik yang lahir maupun yang batin, pent-…” (lihat ‘Asyara Qawa’id fil Istiqomah, hal. 13)
Jalan Lurus vs Jalan Setan
Allāh ta’ālā berfirman memberitakan ucapan Nabi ‘Isa ‘alaihis salām (yang artinya),
“Maka bertakwalah kalian kepada Allāh dan taatilah aku. Sesungguhnya Allāh adalah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 50-51, lihat juga QS. Az-Zukhruf: 63-64).
Syaikh as-Sa’di raḥimahullāh berkata,
“Inilah, yaitu penyembahan kepada Allāh, ketakwaan kepada-Nya, serta ketaatan kepada rasul-Nya merupakan ‘jalan lurus’ yang mengantarkan kepada Allāh dan menuju surga-Nya. Adapun yang selain jalan itu adalah jalan-jalan yang menjerumuskan ke neraka.” (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 132)
Termasuk dalam cakupan jalan lurus adalah menjauhi segala kekafiran dan kemaksiatan yang itu merupakan syi’ar ajaran setan. Allāh ta’ala berfirman (yang artinya),
“Bukankah Aku telah berpesan kepada kalian, wahai keturunan Adam; Janganlah kalian menyembah setan. Sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi kalian. Dan sembahlah Aku. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Yasin: 60-61).
Syaikh as-Sa’di raḥimahullāh menerangkan, bahwa yang dimaksud beribadah kepada setan adalah menaati ajakan-ajakannya, sehingga ‘menaati setan’ itu mencakup segala bentuk kekafiran dan kemaksiatan. Adapun jalan yang lurus itu adalah beribadah kepada Allāh, taat kepada-Nya, dan mendurhakai setan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 698)
Dalam memaknai jalan lurus ini memang terdapat beberapa penafsiran di kalangan para ulama.
  • Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu’anhumā mengatakan bahwa yang dimaksud jalan lurus adalah Islam.
  • Ibnu Mas’ud raḍiyallāhu’anhu mengatakan bahwa maksudnya adalah al-Qur`ān.
  • Bakr bin Abdillāh al-Muzani berkata bahwa maksudnya adalah jalan Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.
Semua penafsiran ini tidak bertentangan dan saling menjelaskan. Barangsiapa yang istiqomah di atas jalan yang lurus yang bersifat maknawi ketika hidup di dunia, kelak di akhirat dia akan selamat ketika meniti ṣiraṭ yang sebenarnya; yaitu jembatan yang dibentangkan di atas neraka.
(lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 21, Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/37])
Kesimpulan
Apabila kita cermati keterangan-keterangan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa seorang yang ingin istiqomah harus menjauhi hal-hal sebagai berikut:
  1. Syirik; karena ini merupakan dosa terbesar yang akan melemparkan seorang keluar dari jalan lurus sejauh-jauhnya, dan syirik itulah target utama dakwah setan kepada umat manusia.
  2. Riya’; karena ia bertentangan dengan keikhlasan dan lebih berat dosanya daripada dosa-dosa besar, walaupun memang pelaku riya’ tidak menjadi kafir sebagaimana pelaku syirik akbar.
  3. Melalaikan kewajiban; sebab amal atau ibadah yang wajib lebih dicintai oleh Allāh daripada ibadah-ibadah yang sunnah/mustaḥab. Meninggalkan amal yang wajib mengakibatkan konsekuensi dosa dan siksa, tidak sebagaimana amalan mustaḥab
  4. Menerjang larangan; sebab ketaatan hanya akan terwujud dengan menunaikan kewajiban dan menjauhi larangan. Orang yang senantiasa bergelimang dengan larangan Allāh sulit untuk istiqomah. Termasuk perkara yang dilarang adalah bid’ah.
  5. Kekafiran dan maksiat secara umum; karena orang yang terjerumus dalam kekafiran dan maksiat pada hakikatnya telah berubah menjadi pemuja setan, bukan hamba Allāh yang sejati.
  6. Meninggalkan al-Qur`an; yaitu dengan tidak membacanya, tidak merenungi artinya, tidak melaksanakan ajarannya, tidak membenarkan beritanya, dan tidak tunduk kepada hukum-Nya.
—–
* sumber ilustrasi gambar: http://ht.ly/eeAoG 




Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Sebuah Nasehat Di Atas Punggung Keledai

Sebuah Nasehat Di Atas Punggung Keledai
Sahabat seakidah, para pemuda muslim yang dirahmati Allāh. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang sangat bersemangat untuk mencurahkan kebaikan kepada umatnya. Diantara buktinya adalah, beliau sempat untuk memberikan nasehat kepada sebagian sahabatnya di tengah-tengah perjalanan.
Imām Bukhari raḥimahullāh meriwayatkan hadits ini di dalam Shahihnya di dalam Kitab al-Jihad wa as-Siyar. Beliau menuturkan: Isḥāq bin Ibrāhim menuturkan kepada kami. Dia mendengar Yaḥya bin Adam. Yahya berkata: Abul Aḥwaṣ menuturkan kepada kami, dari Abū Ishāq, dari ‘Amr bin Maimūn, dari Mu`āż raḍiyallāhu’anhu. Mu`āż berkata,
“Aku pernah membonceng Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai yang bernama ‘Ufair. Ketika itu, beliau berkata kepadaku, “Wahai Mu`āż! Tahukah kamu apa hak Allāh atas hamba-hamba-Nya dan apakah hak hamba kepada Allāh?”
Aku menjawab, “Allāh dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”
Maka, beliau pun bersabda, “Sesungguhnya hak Allāh atas hamba adalah mereka wajib beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Adapun hak hamba kepada Allāh adalah Allāh berjanji tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”
Lalu aku mengatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullāh! Tidakkah sebaiknya kusampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang?”
Beliau menjawab, “Jangan kamu sebarkan berita itu, sehingga mereka akan bersandar karenanya.”
(HR. Bukhari [2856], lihat Fath al-Bari cet. Dar al-Hadits [6/68-69])
Imām Muslim raḥimahullāh juga meriwayatkan hadits ini di dalam Ṣaḥīḥnya di dalam Kitab al-Imān dari jalur gurunya, Abū Bakr bin Abī Syaibah. Dia berkata: Abul Aḥwaṣ Sallam bin Sulaim menuturkan kepada kami, dari Abū Isḥāq, dari ‘Amr bin Maimūn, dari Mu`āż bin Jabal raḍiyallāhu’anhu (lihat Syarh Muslim li an-Nawawi cet. Dar Ibnu al-Haitsam [2/75])
Sahabat Periwayat Hadits
  • Hadits ini diriwayatkan oleh seorang sahabat yang agung, Mu`āż bin Jabal bin ‘Amr bin Aus bin Ka’ab bin ‘Amr al-Khazraji al-Anṣāri, seorang tokoh yang populer dari kalangan sahabat.
  • Beliau adalah seorang sahabat yang memiliki perbendaharaan ilmu dan pengetahuan hukum serta al-Qur`ān yang sangat luas.
  • Beliau juga termasuk sahabat yang ikut serta dalam perang Badar dan peperangan-peperangan sesudahnya.
  • Pada saat penaklukan kembali kota Mekah, Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengangkat beliau menjadi gubernur Mekah untuk mengajarkan kepada penduduknya ajaran-ajaran agama Islam.
  • Kemudian, Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengutus beliau ke Yaman sebagai qāḍī/hakim sekaligus pengajar ilmu agama.
  • Beliau wafat di Syam pada tahun 18 H dalam usia 38 tahun. Semoga Allāh meridhainya.
(lihat al-Mulakhaṣ fi Syarh Kitab at-Tauḥīd, hal. 21)
Pelajaran Dari Hadits
Syaikh Ṣālih al-Fauzān hafiẓahullāh menjelaskan, bahwa hadits yang agung ini mengandung banyak pelajaran berharga bagi kita. Diantaranya adalah:
  1. Kerendahan hati Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, yaitu tatkala beliau mau menunggangi keledai dan memboncengkan orang di atasnya, berbeda halnya dengan keadaan orang-orang yang memiliki sifat sombong
  2. Bolehnya memboncengkan orang lain di atas binatang kendaraan jika binatang tersebut memang kuat untuk membawanya
  3. Memberikan pengajaran ilmu melalui metode tanya jawab
  4. Hendaknya orang yang ditanya mengenai sesuatu yang dia tidak ketahui untuk menjawab, “Allāhu a’lam.”
  5. Mengetahui hak Allāh yang wajib ditunaikan oleh setiap hamba; yaitu untuk beribadah kepada-Nya semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun
  6. Bahwasanya orang yang tidak menjauhi syirik tidaklah dianggap beribadah kepada Allāh secara hakiki walaupun secara lahiriyah dia tampak melakukan ibadah kepada-Nya
  7. Besarnya keutamaan tauhid dan kemuliaan orang yang berpegang teguh dengannya
  8. Tafsiran mengenai tauhid yaitu beribadah kepada Allāh semata serta meninggalkan syirik
  9. Dianjurkan untuk menyampaikan suatu kabar gembira kepada sesama muslim sehingga akan membuatnya ikut merasa senang
  10. Diperbolehkan menyembunyikan ilmu -untuk sementara, pent- apabila memang ada kemaslahatan padanya
  11. Hendaknya seorang pelajar/murid menjaga adab/sopan santun kepada pengajar/gurunya (lihat al-Mulakhaṣ fī Syarh Kitāb at-Tauḥīd, hal. 22)
Keunikan Fiqih Imām Bukhari
Sebagaimana sudah diketahui oleh para penimba ilmu, bahwasanya Imām Bukhari raḥimahullāh memiliki keistimewaan di dalam mencantumkan hadits-hadits di dalam kitab Ṣaḥīhnya.Sebagian ulama mengatakan bahwa fiqih (kedalaman ilmu)Imām Bukhari bisa dilihat pada judul-judul bab yang dibuat olehnya.  Sebagian ulama mengatakan bahwa fiqih (kedalaman ilmu) Imām Bukhari bisa dilihat pada judul-judul bab yang dibuat olehnya. Misalnya, kita ambil contoh hadits yang sedang kita bicarakan ini…
Beliau mencantumkan hadits ini pada beberapa tempat di dalam Ṣaḥīḥnya, diantaranya:
  1. Di dalam Kitab al-Jihad wa as-Siyar. Di bawah judul bab Ismul Faras wal Himarartinya “penamaan kuda dan keledai”. Imām Ibnu Hajarmenjelaskan, “Maksudnya adalah disyari’atkan untuk memberikan nama kepada kuda dan keledai. Begitu pula disyari’atkan untuk memberikan nama kepada hewan-hewan yang lain dengan nama khusus selain daripada nama jenisnya.” (lihat Fath al-Bari [6/67]). Jadi, kalau teman-teman punya kucing lalu diberi nama, ketahuilah bahwa penamaan binatang itu adalah sesuatu yang diakui oleh syari’at. Sehingga, jika kita menamai binatang piaraan dengan niat mengamalkan hadits ini maka akan bernilai pahala. Demikian pula termasuk dalam hal ini adalah memberi nama kendaraan (seperti misalnya Yamaha, Taruna, dsb) sebagaimana faidah yang diberikan oleh Syaikh Walid Saifun Nashr ḥafiẓahullāh dalam Daurah Ṣaḥīḥ Muslim di Kaliurang – Yogyakarta.
  2. Di dalam Kitab al-Libas. Di bawah judul bab Irdafur Rojul Kholfar Rajul; artinya “[bolehnya atau dianjurkan] seorang lelaki membonceng seorang lelaki yang lain”. Bahkan, salah seorang ulama yaitu Imām Ibnu Mandah raḥimahullāh menyebutkan secara khusus nama-nama orang yang pernah diboncengkan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, dan jumlahnya mencapai tiga puluh orang (lihat Fath al-Bari [10/449]). Berarti Nabi baik sekali ya… Imām al-Qurṭubi raḥimahullāh berkata, “Hadits ini menunjukkan bolehnya dua orang menaiki seekor keledai.” (lihat Fath al-Bari [11/384])
  3. Di dalam Kitab ar-RiqaqIbnu Hajar berkata, “Jihādun nafs memiliki 4 tingkatan: (1) menundukkannya untuk mempelajari ajaran agama, (2) menundukkannya untuk mau mengamalkannya, (3)  menundukkannya untuk mau mendakwahkan ilmu tersebut kepada yang belum mengetahuinya, (4) lalu mengajak kepada tauhidullah serta memerangi orang-orang yang menentang agama-Nya dan mengingkari nikmat-nikmat-Nya.”  Di bawah judul bab Man Jāhada Nafsahu Fī Ṭa’atillāh; artinya “orang yang berjuang menundukkan dirinya dalam ketaatan kepada Allāh”. Imām Ibnu Hajar mengatakan, “Artinya bab ini menerangkan keutamaan orang yang berjihad, yang dimaksud jihad di sini adalah berjuang mengendalikan berbagai keinginan nafsu apabila bukan untuk kepentingan ibadah.” (lihat Fath al-Bari [11/382]). Ibnu Hajar berkata, “Jihādun nafs memiliki 4 tingkatan: menundukkannya untuk mempelajari ajaran agama, menundukkannya untuk mau mengamalkannya, menundukkannya untuk mau mendakwahkan ilmu tersebut kepada yang belum mengetahuinya, lalu mengajak kepada tauhidullah serta memerangi orang-orang yang menentang agama-Nya dan mengingkari nikmat-nikmat-Nya.” (lihat Fath al-Bari [11/382]).
Wallāhu a’lam bish shawaab.
—–
*sumber referensi gambar: http://ht.ly/e6SIf 




Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More