Share
div id='fb-root'/>

Kaya tidak diukur dengan banyaknya harta

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bertakwa itu dimana saja

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutkanlah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapuskannya dan berakhlaqlah dengan sesama dengan akhlaq yang baik.”(HR Tirmidzi 1987)

Mudahkan Kesulitan Saudara Kita

“Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”(HR Muslim 2699)

Segeralah Bertaubat

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133)

Bersemangatlah untuk Beramal Shalih

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97)

Showing posts with label aqidah. Show all posts
Showing posts with label aqidah. Show all posts

Sunday, December 23, 2012

[Penting] Syahadat Laa Ilaaha Illallah, Makna, Rukun, Syarat dan Kesalahan-kesalahan dalam Penafsirannya

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Setiap muslim tentu menginginkan untuk masuk ke dalam surga dan selamat dari api neraka, untuk itu marilah kita memperhatikan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berikut ini,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa yang akhir ucapannya (sebelum mati) adalah kalimat Laa ilaaha illallahmaka dia akan masuk surga.” [HR. Abu Daud dari Mu’adz bin Jabalradhiyallahu’anhu, Shahihul Jami’: 11425]
Jelaslah bagi kita bahwa kunci surga adalah kalimat Laa ilaaha illallah. Ibarat sebuah rumah, surga memiliki pintu yang harus dibuka dengan sebuah kunci, itulah kalimat Laa ilaaha illallah. Akan tetapi, kenyataannya tidak semua orang yang memiliki kunci tersebut mampu membuka pintu surga, dikarenakan kunci mereka tidak bergerigi.
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya,
وَقِيلَ لِوَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَلَيْسَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لَيْسَ مِفْتَاحٌ إِلاَّ لَهُ أَسْنَانٌ فَإِنْ جِئْتَ بِمِفْتَاحٍ لَهُ أَسْنَانٌ فُتِحَ لَكَ وَإِلاَّ لَمْ يُفْتَحْ لَكَ
“Dan pernah dikatakan kepada Wahb bin Munabbih rahimahullah, “Bukankah Laa ilaaha illallah adalah kunci surga?” Beliau menjawab, “Benar, akan tetapi tidak ada sebuah kunci kecuali memiliki gerigi, maka apabila engkau datang dengan kunci bergerigi akan dibukakan pintu surga untukmu, jika tidak maka tidak akan dibukakan untukmu”.”
Oleh karena itu, penting sekali bagi setiap hamba untuk memahami kalimat syahadat Laa ilaaha illallah dengan baik dan mengamalkannya. Sebab tidak ada manfaatnya sama sekali jika seseorang hanya mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah, meskipun dia berzikir dengannya seribu kali setiap hari, tanpa memahami dan mengamalkannya, inilah yang dimaksud memiliki kunci tanpa gerigi.
Makna Syahadat
Kata syahadat (الشهادة) yang biasa diterjemahkan dengan “persaksian” berasal dari kata (شهد) secara bahasa maknanya adalah,
أن يخبر بما رأى وأن يقر بما علم
“Seorang yang mengabarkan apa yang dia lihat dan menetapkan (meyakini) apa yang dia ketahui.” [Al-Mu’jamul Washit, 1/497]
Adapun maknanya secara syari’at, berkata Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Hasanrahimahumallah,
من شهد أن لا إله إلا الله أى من تكلم بها عارفا لمعناها عاملا بمقتضاها باطنا وظاهرا فلابد فى الشهادتين من العلم واليقين والعمل بمدلولها
“Seorang yang bersyahadat Laa ilaaha illallah adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan mengetahui maknanya, mengamalkan konsekuensinya secara batin dan lahir. Maka harus ada dalam dua kalimat syahadat; ilmu, yakin dan mengamalkan kandungannya.” [Fathul Majid, hal. 65-66]
Dari penjelasan di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa syahadat Laa ilaaha illallahyang benar apabila terpenuhi 4 syarat:
1)      Ilmu tentang Laa ilaaha illallah
2)      Yakin terhadap benarnya Laa ilaaha illallah
3)      Mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah
4)      Mengamalkan makna Laa ilaaha illallah
Adapun sekedar mengucapkan Laa ilaaha illallah tanpa memahami maknanya, atau tanpa meyakini dan mengamalkannya maka ulama seluruhnya sepakat (ijma’) bahwa syahadat tersebut tidak ada manfaatnya sama sekali. Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Hasanrahimahumallah berkata,
أما النطق بها من غير معرفة لمعناها ولا يقين ولا عمل بما تقتضيه : من البراءة من الشرك وإخلاص القول والعمل قول القلب واللسان وعمل القلب والجوارح فغير نافع بالإجماع
“Adapun sekedar mengucapkan syahadat tanpa memahami maknanya, tidak pula meyakini dan mengamalkan konsekuensinya, yaitu berlepas diri dari syirik dan mengikhlaskan ucapan dan perbuatan, baik ucapan hati dan lisan, maupun amalan hati dan lisan (jika tidak dipersembahkan hanya bagi Allah) maka ucapan tersebut tidak bermanfaat berdasarkan kesepakatan ulama.” [Fathul Majid, hal. 66]
Makna Laa ilaaha illallah
Seluruh dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta keterangan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjelaskan bahwa makna laa ilaaha illallah adalah,
لا معبودَ حقٌّ إلا الله
“Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah.”
Artinya, segala sesuatu yang disembah oleh manusia selain Allah ta’ala adalah sesembahan yang salah (batil), karena tidak ada sesembahan yang benar (haq) kecuali Allah tabaraka wa ta’ala. Sebagaimana telah Allah ta’ala tegaskan dalam Al-Qur’an,
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ
“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah sesembahan yang benar dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain dari Allah adalah salah.” [Al-Hajj: 62 dan Luqman: 30]
Rukun Laa ilaaha illallah
Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjelaskan bahwa kalimat Laa ilaaha illallahmencakup dua rukun, yaitu:
  1. An-Nafyu (penafikan) yang terdapat dalam kalimat Laa ilaaha, yang bermakna menafikan atau menganggap salah semua sesembahan selain Allah ta’ala.
  2. Al-Itsbat (penetapan) yang terdapat dalam kalimat illallah, yang bermakna menetapkan atau meyakini bahwa yang berhak disembah hanyalah Allah ta’ala.
Seorang hamba belum dianggap sebagai muslim sebelum dia mengamalkan dua rukun ini. Andaikan ada seorang hamba yang beribadah kepada Allah ta’ala; melakukan sholat, puasa, zakat dan ibadah-ibadah lainnya, namun dia tidak meyakini bahwa Allah ta’ala sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dan selain-Nya adalah salah maka dia bukan muslim atau menjadi murtad karena tidak mengamalkan kalimat Laa ilaaha illallah yang merupakan pintu untuk masuk ke dalam Islam.
Kedua rukun ini terdapat dalam banyak ayat, diantaranya firman Allah ta’ala,
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
“Maka barangsiapa mengingkari thoghut (sesembahan selain Allah) dan hanya beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh dengan ikatan yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illallah).” [Al-Baqarah: 256]
Firman Allah ta’ala, “Maka barangsiapa mengingkari thoghut (sesembahan selain Allah)” adalah penafikan seluruh sesembahan selain Allah ta’ala. Adapun firman-Nya, “Dan hanya beriman kepada Allah” adalah penetapan bahwa hanya Allah ta’ala satu-satunya sesembahan yang benar.
Syarat Laa ilaaha illallah
Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjelaskan bahwa syarat Laa ilaaha illallah itu ada delapan, barangsiapa yang tidak mengamalkan salah satu darinya maka dia belum mengamalkan kalimat Laa ilaaha illallah, yaitu:
Syarat Pertama: Ilmu, yaitu memahami makna dan rukun Laa ilaaha illallah secara benar. Allah ta’ala berfirman,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّه
“Maka berimulah bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah.” [Muhammad: 19]
Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّة
“Barangsiapa mati dalam keadaan berilmu bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, niscaya dia akan masuk surga.” [HR. Muslim dari Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu]
Jika seseorang tidak memahami makna kalimat Laa ilaaha illallah maka tidak bermanfaat syahadat yang diucapkannya.
Syarat Kedua: Yakin, yakni meyakini kebenaran makna dan rukun kalimat Laa ilaaha illallah tanpa meragukannya sedikitpun. Allah ta’ala berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” [Al-Hujurat: 15]
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba bertemu dengan Allah sambil membawa dua kalimat syahadat tersebut tanpa ragu kecuali pasti dia akan masuk surga.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
Syarat Ketiga: Menerima (Al-Qobul), yaitu menerima dengan sepenuh hati konsekuensi kalimat Laa ilaaha illallah berupa penetapan bahwa hanya Allah ta’ala satu-satunya sesembahan yang benar dan selain-Nya adalah salah, tidak boleh menolak sedikitpun, baik dengan hati, lisan maupun perbuatan. Menolak kalimat Laa ilaaha illallahadalah sifat kaum musyrikin. Allah ta’ala berfirman,
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ
“Kaum musyrikin itu apabila di katakan kepada mereka: (Ucapkanlah) Laa ilaaha illallah, mereka menyombongkan diri seraya berkata: Apakah kita harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kita hanya karena ucapan penyair yang gila ini?” [As-Shaffat: 35-36]
Syarat Keempat: Tunduk dan Patuh (Al-Inqiyad), yaitu dengan mengamalkan makna dan rukun Laa ilaaha illallah, hanya beribadah kepada Allah ta’ala dan menjauhi segala sesembahan selain-Nya, disertai dengan mengamalkan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Allah ta’ala berfirman,
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya (tunduk) kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illallah).” [Luqman: 22]
Syarat Kelima: Jujur dan benar (Ash-Shidqu), yaitu jujur dan benar dalam beriman terhadap Laa ilaaha illallah, tanpa mengandung kedustaan sedikitpun dalam hati. Kedustaan dalam keimanan adalah sifat orang-orang munafik. Allah ta’ala berfirman,
إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ
“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah bersaksi bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” [Al-Munafiqun: 1]
Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ
“Tidaklah seseorang itu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya, dia mengucapkannya dengan jujur dari lubuk hatinya, melainkan pasti Allah mengharamkan neraka atasnya.” [HR. Al-Bukhari dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu]
Syarat Keenam: Ikhlas, yaitu benar-benar ikhlas dari dalam hatinya semata-mata karena Allah ta’ala, bukan karena maksud dan tujuan lainnya. Allah ta’ala berfirman,
فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَهُ الدِّينَ أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang ikhlas (bersih dari syirik).” [Az-Zumar: 2-3]
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاََ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ
“Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau dirinya.” [HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
Juga sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam,
فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. يَبْتَغِى بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّه
“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah semata-mata hanya untuk mengharapkan wajah Allah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Itban bin Malik radhiyallahu’anhu]
Syarat Ketujuh: Mencintai (Al-Mahabbah), yaitu mencintai kalimat tauhid dan konsekuensinya berupa pemurnian ibadah kepada Allah ta’ala dan pengingkaran terhadap penghambaan kepada selain-Nya. Memurnikan cinta kepada Allah ta’ala adalah bagian dari tauhid. Allah ta’ala berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Dan diantara manusia ada yang menjadikan tandingan-tandingan (sekutu) selain Allah yang dia cintai layaknya mencintai Allah. Sedangkan orang-orang yang beriman, sangat mencintai Allah diatas segala-galanya).” [Al-Baqarah: 165]
Syarat Kedelapan: Pengingkaran (Al-Kufran) terhadap semua sesembahan selain Allah ta’ala, yaitu menyalahkan semua sesembahan selain Allah ta’ala, tidak mempercayainya dan tidak pula menyembahnya, karena sesembahan yang benar dan patut diibadahi hanyalah Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman,
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Maka barangsiapa mengingkari thoghut (sesembahan selain Allah) dan hanya beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh dengan ikatan yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illallah), yang tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al-Baqarah: 256]
Kesalahan-kesalahan dalam Menafsirkan Laa Ilaaha Illallah
Kesalahan Pertama: Tafsir Ahlul Kalam / Filsafat: Menafsirkan kalimat Laa Ilaaha Illallah dengan Tiada Pencipta Selain Allah [لا خالق إلا الله].
Benar bahwa tidak ada pencipta selain Allah ta’ala, namun hal itu bukanlah makna Laailaaha illallah. Dan jika makna ini diterima maka konsekuensinya kita harus menganggap orang-orang yang menyekutukan Allah dalam ibadah yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah orang-orang yang beriman, sebab mereka juga beriman bahwa Allah ta’ala sang Pencipta. Allah ta’ala berfirman,
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada kaum musyrikin itu: “Siapakah yang menciptakan mereka,” niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” [Az-Zukhruf: 87]
Kesalahan Kedua: Tafsir Sufi / Tasawuf: Menafsirkan kalimat Laa Ilaaha Illallah dengan Tiada Sesembahan Yang Wujud Kecuali Allah [لا إله موجود إلا الله].
Artinya menurut mereka, seluruh sesembahan yang ada adalah Allah, bahkan orang yang sudah mencapai derajat tertentu menurut paham sesat mereka dapat menyatu dengan Allah ta’ala. Kesalahan ini sangat jelas merupakan kerusakan dalam agama dan akal sekaligus, bagaimana bisa Allah ta’ala Yang Maha Suci menyatu dengan makhluk yang kotor lagi penuh dosa dan kekurangan?! Lalu siapa yang menyembah dan siapa yang disembah?!
Kesalahan Ketiga: Tafsir Berdasar Terjemahan: Mengartikan kalimat Laa Ilaaha Illallah dengan Tiada Tuhan / Sesembahan Selain Allah [لا معبود إلا الله].
Penerjemahan ini kurang tepat karena bertentangan dengan kenyataan yang ada, yaitu banyaknya tuhan atau sesembahan lain selain Allah ta’ala, maka yang benar, “Tiada yang berhak disembah selain  Allah.” Artinya, walaupun banyak tuhan yang disembah manusia selain Allah ta’ala, namun semuanya adalah sesembahan yang salah, sedangkan yang benar hanya Allah ta’ala.
Kesalahan Keempat: Tafsir Hizbiyun (Kelompok Sesat Kontemporer seperti Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir): Menafsirkan Kalimat Laa Ilaaha Illallah dengan Tiada Penentu Hukum kecuali Allah [لا حاكم إلا الله].
Benar bahwa tidak ada yang berhak menentukan hukum selain Allah ta’ala, akan tetapi ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat bahwa itu bukan makna Laa ilaaha illallah,sebab tafsir tersebut tidak mengandung maknanya secara menyeluruh, yaitu memurnikan seluruh bentuk penghambaan (termasuk hukum) hanya kepada Allah ta’ala.
Dampak buruk dari penafsiran yang menyimpang ini adalah munculnya pemahaman takfir(pengkafiran) terhadap kaum muslimin yang tidak menerapkan hukum Allah secara menyeluruh atau melakukan dosa-dosa besar yang tidak sampai pada kekafiran. Juga muncul pemahaman sesat bahwa Khilafah Islamiyah adalah tujuan dakwah, sehingga yang mereka dengung-dengungkan selalu hanyalah bagaimana agar dapat berkuasa secepatnya tanpa memperhatikan penegakkan tauhid dan sunnah. PadahalKhilafah Islamiyah hanyalah sebuah hasil yang akan diraih oleh kaum muslimin jika mereka benar-benar menegakkan tauhid dan sunnah. Justru keadaan mereka sangat jauh dari tauhid dan sunnah.
Kesalahan Kelima: Tafsir Jahmiyah dan Mu’tazilah: Barangsiapa yang Menetapkan Nama dan Sifat bagi Allah Ta’ala maka Dia Seorang Musyrik menurut pemahaman sesat mereka.
Kaum Jahmiyah dan Mu’tazilah tidak mengimani seluruh atau sebagian nama-nama dan sifat-sifat Allah ta’ala, bahkan menurut mereka barangsiapa yang mengimaninya berarti telah menyekutukan Allah ta’ala. Tidak diragukan lagi ini adalah tafsir yang sesat, karena seorang mukmin wajib meyakini nama-nama dan sifat-sifat Allah ta’ala yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta tidak menyamakan-Nya dengan makhluk.
Wallahu A’lam.
Download (Save As) Kajian Terkait Syahadatain:

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Thursday, December 13, 2012

Bagaimana Menjaga Diri dari Kejahatan Para Dukun dan Tukang Sihir?


BAGAIMANA MENJAGA DIRI DARI KEJAHATAN PARA DUKUN DAN TUKANG SIHIR? 
(1) Ada sebuah keluarga yang sebelumnya demikian harmonis. Mereka hidup dengan bahagia di rumah mereka. Seorang wanita penggoda tidak menyukai keadaan tersebut, dia ingin merebut sang ayah dari keluarga tersebut. Si wanita jahat itu pun datang ke seorang dukun agar si dukun dengan bantuan para syaithan bisa menyihir sang ayah agar jatuh hati padanya.

Keluarga yang tadinya harmonis mulai dipenuhi dengan konflik. Ayah tak lagi cinta pada ibunda, tak lagi cinta pada keluarga. Dia pun meninggalkan kebahagiaan keluarga dan jatuh ke pelukan sang wanita penggoda...

Ada seorang gadis manis. Di sekolah dia adalah teladan bagi teman-temannya. Tapi entah kenapa belakangan ini dia mendadak memikirkan seorang pemuda. Pemuda itu jauh dari tampan, akhlaknya pun bejat tak karuan. Tapi hasrat sang gadis serasa tak terbendung. Senantiasa ada yang mendorongnya untuk bertemu sang pemuda meski hati kecilnya mencoba menolak. 

Sang pemuda ternyata telah memikat sang gadis dengan sihir. Dia datang ke seorang dukun untuk mengguna-gunai sang gadis jelita. Akhirnya di bawah pengaruh sihir, sang gadis pun terjatuh pada perbuatan nista dengan si pemuda tadi.

Dan yang pernah ramai dibicarakan di berbagai media...
Seorang wanita muda begitu menderita. Di dalam tubuhnya ditemukan banyak paku. Berulang kali operasi dilakukan untuk mengeluarkan paku-paku tersebut, tapi tetap saja paku tak hilang dari tubuhnya..

Semua ini adalah akibat perbuatan para dukun dan tukang sihir. Sangat disayangkan kejahatan mereka banyak tersebar di negeri kita tanpa bisa dikenai tindakan hukum. Tidak seperti di Negeri Tauhid Saudi Arabia yang pelakunya dihukum penggal, di Indonesia, yang penduduknya mayoritas muslim, dukun-dukun dengan mudahnya menjajakan jasa mereka melalui beragam media tanpa ada yang bisa mencegah mereka.

Oleh karena itu dibutuhkan benteng pribadi yang kuat untuk menghalangi kejahatan para dukun dan tukang sihir kafir tersebut. Perkara yang paling penting dan paling efektif adalah membentengi diri dengan dzikir-dzikir syar'i serta doa-doa dan ta'awudzat (zikir meminta perlindungan Allah –pent) yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seperti:

1. Membaca AYAT KURSI (ayat ke-255 dari surat Al Baqarah) setiap pada awal pagi setelah shalat Fajr, dan di awal malam sebelum shalat maghrib, serta sebelum tidur.

2. Membaca surat Qulhuwallahu Ahad (Al Ikhlas), Qul A'udzubirabbil Falaq (Al Falaq) dan Qul A'udzubirabbinnas (An Naas) masing-masing tiga kali setiap awal pagi setelah shalat Fajr, dan di awal malam sebelum shalat maghrib. Demikian juga membacanya satu kali setelah salat wajib dan sebelum tidur.

3. Membaca dua ayat dari akhir surat Al-Baqarah pada setiap awal malam. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

من قرأ الآيتين من آخر سورة البقرة في ليلة كفتاه

"Barangsiapa membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah pada malam hari, maka cukuplah baginya."

4. Memperbanyak ta'awudz (memohon lindungan) dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan apa-apa yang Allah ciptakan setiap malam dan siang, dan ketika tiba di sebuah bangunan, gurun, lembah atau laut. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

(من نزل منزلاً فقال: أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق، لم يضره شيء حتى يرحل من منزله ذلك)

"Barangsiapa singgah di suatu tempat dan dia mengucapkan: 'A'uudzu bi kalimaatillahit taammaati min syarri maa khalaq' (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang Dia ciptakan), maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakannya sampai ia pergi dari tempat itu." (HR. Muslim)

Zikir-zikir serta ta'awudz ini merupakan sebab terbesar dalam membentengi diri dari kejahatan sihir dan kejelekan-kejelekan lainnya bagi siapa saja yang menghapalkannya dengan disertai jujurnya iman serta berpegang dengan kuat dan kokoh kepada Allah semata. (BERSAMBUNG)

Ditulis di Darul Hadits Syihir – Hadramaut, 28 Muharram 1434 H, 12/12/2012

Referensi: Hukmu As Sihri wal Kahaanah karya Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz (mufti Kerajaan Saudi Arabia)

ditulis oleh Ustadz Wira Mandiri Bachrun pada status facebook

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Friday, October 5, 2012

Tawakal Kepada Allah

Tawakal Kepada Allah
Sahabat seakidah, para pemuda muslim yang dirahmati Allāh. Tawakal kepada Allāh adalah salah satu kewajiban tauhid dan iman yang terbesar. Semakin kuat iman seorang hamba semakin kuat pula tawakalnya. Semakin lemah iman seseorang semakin lemah pula tawakalnya.
Pengertian Tawakal
Tawakal kepada Allah
Tawakkal kepada Allah
Pada hakikatnya, tawakal murni amalan hati. Oleh sebab itu, wajib mengesakan Allāh dengan amalan tersebut, sedangkan memalingkannya kepada selain Allāh adalah syirik (lihat at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 375).
Bertawakal kepada sesuatu artinya adalah bersandar kepadanya. Adapunbertawakal kepada Allāh maksudnya adalah menyandarkan diri kepada Allāh ta’ālā dalam rangka mencukupi dan memenuhi keinginannya, baik di saat mencari kemanfaatan ataupun menolak kemadharatan. Ia merupakan bagian kesempurnaan iman dan tanda keberadaannya.” (lihat Syarh Tsalatsat al-Ushul, hal. 38 oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaiminraḥimahullāh)
Apabila dirinci, tawakal mencakup tiga unsur:
  1. Keyakinan bahwasanya segala urusan ada di tangan Allāh, segala yang dikehendaki Allāh pasti terjadi dan apa pun yang tidak dikehendaki-Nya maka tidak akan terjadi. Hanya Allāh yang menguasai manfaat dan madharat, yang kuasa untuk memberi atau menghalangi
  2. Menyandarkan hati kepada Allāh dan menaruh kepercayaan penuh kepada-Nya
  3. Melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan menurut syari’at dalam rangka mencapai tujuannya (lihat Hushul al-Ma’mul bi Syarh Tsalatsat al-Ushul, hal. 83-84, al-Qaul as-Sadid ‘ala Maqashid at-Tauhid, hal. 101-102, at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 374-375)
Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),
“Kepada Allāh hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” (QS. al-Ma’idah: 23).
Ayat ini menunjukkan wajibnya memurnikan tawakal kepada Allāh dan tidak boleh bertawakal kepada selain-Nya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa tawakal kepada Allāh adalah salah satu jenis ibadah, sedangkan memalingkan ibadah kepada selain Allāh adalah syirik (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 298)
Kedudukan Tawakal
Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),
“Hanyalah orang-orang beriman itu adalah orang-orang yang apabila disebut nama Allāh maka hati mereka merasa takut, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka hal itu semakin menambah keimanan mereka, dan mereka bertawakal kepada Rabb mereka semata.” (QS. al-Anfal: 2)
Semakin kuat iman seorang hamba semakin kuat pula tawakalnya. Dan semakin lemah iman seseorang semakin lemah pula tawakalnya. Sehingga lemahnya tawakal merupakan tanda lemahnya iman seorang hamba. Di dalam al-Qur’an, Allāhta’ālā seringkali menggandengkan antara tawakal dengan ibadah, tawakal dengan iman, tawakal dengan takwa, tawakal dengan islam, tawakal dengan hidayah. Ini semua menunjukkan bahwa tawakal merupakan pokok seluruh maqam iman dan ihsan untuk segala bentuk amal keislaman. Kedudukan tawakal di dalam ajaran Islam laksana kepala bagi anggota badan (lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 91-92)
Tawakal adalah separuh agama. Oleh sebab itu, kita biasa mengucapkan dalam sholat kita Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan). Kita memohon kepada Allah pertolongan dengan menyandarkan hati kepada-Nya bahwasanya Dia akan membantu kita dalam beribadah kepada-Nya.
Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya), “Sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (QS. Hud: 123).
Allah ta’ālā juga berfirman (yang artinya), “Kepada-Nya lah aku bertawakal dan kepada-Nya aku akan kembali.” (QS. Hud: 88).
Tidak mungkin merealisasikan ibadah tanpa tawakal. Karena apabila seorang insan diserahkan kepada dirinya sendiri maka itu artinya dia diserahkan kepada kelemahan dan ketidakmampuan, sehingga dia tidak akan sanggup untuk beribadah dengan baik.” (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [2/28] oleh Syaikh Ibnu Utsaimin raḥimahullāh)
Syaikh as-Sa’di raḥimahullāh berkata, “Tawakal kepada Allāh adalah salah satu kewajiban tauhid dan iman yang terbesar. Sesuai dengan kekuatan tawakal, sekuat itulah keimanan seorang hamba dan bertambah sempurna tauhidnya. Setiap hamba sangat membutuhkan tawakal kepada Allah dan memohon pertolongan kepada-Nya dalam segala yang ingin dia lakukan atau tinggalkan, dalam urusan agama maupun urusan dunianya.” (lihat al-Qaul as-Sadid ‘ala Maqashid at-Tauhid, hal. 101)
Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Tawakal kepada Allāh adalah sebuah kewajiban yang harus diikhlaskan (dimurnikan) untuk Allāh semata. Ia merupakan jenis ibadah yang paling komprehensif, maqam/kedudukan tauhid yang tertinggi, teragung, dan termulia. Karena dari tawakal itulah tumbuh berbagai amal salih. Sebab apabila seorang hamba bersandar kepada Allāh semata dalam semua urusan agama maupun dunianya, tidak kepada selain-Nya, niscaya keikhlasan dan interaksinya dengan Allāh pun menjadi benar.” (lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 91)
Keutamaan Tawakal
Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),
“Sesungguhnya Allāh mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),
“Barangsiapa bertawakal kepada Allāh niscaya Dia cukup baginya.” (QS. ath-Thalaq: 3).
Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al-Qor’awi menjelaskan, “Ayat ini menunjukkan bahwa tawakal termasuk sebab yang paling penting untuk mendapatkan manfaat dan menolak madharat.” Beliau juga mengatakan, “Ayat ini menunjukkan wajibnya tawakal kepada Allah, karena dengan sebab tawakalitulah Allāh akan menjaga hamba-Nya dan mencukupinya.” (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 302)
Kaidah Pengambilan Sebab
Syaikh Shalih alu Syaikh berkata, “Sesungguhnya penetapan sebab-sebab (sarana dan jalan) yang bisa mendatangkan pengaruh atau keberadaan sesuatu sebagai sebab tidaklah diperbolehkan tanpa melalui jalur syari’at. Oleh sebab itu, tidak boleh menetapkan suatu sebab kecuali apabila hal itu ditetapkan sebagai sebab menurut syari’at, atau ditetapkan sebagai sebab berdasarkan pengalaman nyata -terbukti secara empiris- yang menunjukkan bahwa hal itu memang memberikan dampak secara jelas, bukan sesuatu yang samar.” (lihat at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 93)
Dalam menempuh sebab untuk meraih manfaat atau menolak madharat ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh setiap hamba, yaitu:
  1. Tidak boleh menempuh suatu sebab/sarana yang tidak ditetapkan oleh syari’at atau tidak dibenarkan secara qadari/menyelisihi hukum sebab-akibat
  2. Tidak boleh bersandar kepada sebab, tetapi harus bersandar kepada Allāh yang menciptakan dan menguasai sebab tersebut. Meski demikian, hendaknya tetap menempuh sebab yang disyari’atkan demi mencapai tujuan dan bersemangat dalam mendapatkan manfaat darinya
  3. Harus meyakini bahwa segala macam sebab/sarana -sebagus apapun- tetap saja ia berkaitan erat dengan takdir Allāh, sedikit pun ia tidak terlepas darinya. Allāh berhak mengatur segala sesuatunya menurut kehendak-Nya. Apabila berkehendak, Allāh akan biarkan sebab itu berjalan sebagaimana fungsinya agar hamba-hamba-Nya menempuh sebab-sebab itu dan supaya mereka menyadari kesempurnaan hikmah-Nya. Namun, apabila mau, Allāh pun bisa mengubahnya. Hikmahnya adalah supaya mereka tidak bersandar kepadanya dan supaya mereka mengetahui kesempurnaan qudrah/kekuasaan Allāh, bahwa Allāh lah satu-satunya yang berhak untuk mengatur alam semesta ini sebagaimana yang dikehendaki oleh-Nya (lihat al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 34-35)
Tawakal Kepada Makhluk
Tawakal kepada makhluk memiliki dua keadaan:
  1. Syirik akbar, yaitu apabila bersandar kepada makhluk dalam hal-hal yang hanya dikuasai Allāh. Seperti misalnya bersandar kepadanya demi mendapatkan ampunan dosa, menggantungkan hati kepadanya dalam menggapai kebaikan di akherat, bersandar kepadanya dalam rangka memperoleh anak/keturunan dan lain sebagainya. Hal ini sebagaimana yang banyak menimpa kepada para pemuja kubur dan para wali. Mereka menujukan ketergantungan hati dan harapan mereka kepada sesembahan-sesembahan tersebut demi mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam urusan dunia maupun akherat. Ini semua termasuk perbuatan syirik akbar yang mengugurkan pokok ketauhidan
  2. Syirik khafi/samar, yaitu apabila bersandar kepadanya dalam hal-hal yang Allāh berikan kepadanya kekuasaan untuk itu. Hal ini termasuk syirik kecil. Karena hakikat dari tawakal adalah penyerahan segala urusan dan ketergantungan hati. Padahal, itu semua tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah semata; yang di tangan-Nya lah kuasa atas segala urusan. Adapun makhluk sama sekali tidak berhak untuk menerimanya (lihat at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 375-376).
Wallāhu a’lam biṣṣawāb.
—-
Sumber referensi gambar: http://ht.ly/e5WgC  



Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Kemuliaan Ma’rifatullah

Kemuliaan Ma’rifatullah
Sahabat seakidah, para pemuda muslim yang dirahmati Allāh. Pengenalan terhadap Allāh yang sejati laksana mutiara yang tersembunyi di dasar lautan atau emas yang terpendam di perut bumi. Begitu banyak orang yang mendambakannya, akan tetapi amat sedikit orang yang berhasil menggapainya.
Sesungguhnya ma’rifatullāh (mengenal Allāh) telah menjadi suatu ‘barang’ yang sangat langka pada masa kita sekarang ini. Banyak orang yang terlalaikan darinya. Para pemuja dunia, pengejar tahta, pemburu wanita, pencari suara, bahkan tidak sedikit orang-orang yang ‘berselimutkan’ simbol-simbol agama yang lalai dan melupakannya.
Malik bin Dinar raḥimahullāh berkata,
“Para pemuja dunia telah keluar dari dunia, sedangkan mereka belum sempat merasakan sesuatu yang paling nikmat di dalamnya.” Orang-orang bertanya, “Apakah hal itu wahai Abu Yahya?”. Beliau menjawab, “Mengenal Allāh ‘azza wa jalla.” (lihat Sittud Durar min Uṣūl Ahli al-Aṡar, hal. 28 cet. Dar al-Imam Ahmad).
Apa Yang Dimaksud Dengan Mengenal Allāh?
Mengenal Allāh tidak cukup dengan sekedar wawasan, dimana orang yang taat maupun orang bejat sama-sama memilikinya. Namun, yang dimaksud ialah suatu pengenalan yang diiringi rasa malu kepada Allāh, cinta kepada-Nya, ketergantungan hati kepada-Nya, rindu berjumpa dengan-Nya, takut kepada-Nya, bertaubat dan meningkatkan ketaatan kepada-Nya, merasa tentram dengan-Nya, dan rela meninggalkan makhluk demi mengabdi kepada-Nya (lihat Fiqh al-Asma’ al-Ḥusnā, hal. 22)
Orang yang mengenal Allāh tentu akan beribadah kepada-Nya semata dan meninggalkan segala sesembahan selain-Nya. Dari Mu’āż bin Jabal raḍiyallāhu’anhu, Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Hak Allāh atas hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada Allāh dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Adapun hak hamba atas Allāh ‘azza wa jalla adalah Dia tidak akan mengazab orang-orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukharidalam Kitab al-Jihad wa as-Siyar [2856] dan Muslim dalam Kitab al-Iman [30])
Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali ḥafiẓahullāh berkata,
“Patut dimengerti, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang meninggalkan ibadah kepada Allāh melainkan dia pasti memiliki kecondongan beribadah kepada selain Allāh. Mungkin orang itu tidak tampak memuja patung atau berhala. Tidak tampak memuja matahari dan bulan. Akan tetapi, sebenarnya dia sedang menyembah hawa nafsu yang menjajah hatinya sehingga memalingkan dirinya dari ketundukan beribadah kepada Allāh.” (lihat arīq al-Wuūl ilā ḍāḥ a-alāṡah al-Uūl, hal. 147)
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh ḥafiẓahullāh berkata,
“Sesungguhnya cara mengagungkan Allāh adalah dengan merealisasikan tauhid. Barangsiapa yang merealisasikan tauhid berarti dia telah mengagungkan-Nya. Dan barangsiapa yang menyia-nyiakan tauhid sesungguhnya dia telah menyia-nyiakan hak Allāh, meskipun sujud telah membekas di dahinya, walaupun puasa telah meninggalkan bekas di kulit yang membungkus tulangnya. Maka itu semua tidak ada artinya…” (lihat Syarh Kasyfu asy-Syubuhat fi at-Tauhid, hal. 4)
Orang yang mengenal Allāh tidak akan beribadah dengan motivasi mencari pujian dan sanjungan dari selain Allāh. Dari Abū Hurairah raḍiyallāhu’anhu, Rasulullāh shallAllāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allāh tabaraka wa ta’ālā berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan selain-Ku bersama dengan diri-Ku maka akan Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim dalam Kitab az-Zuhd wa ar-Raqa’iq [2985])
Pembersihan Hati Sebelum Yang Lainnya
Pengenalan terhadap Allāh yang sejati tidak akan berhasil digapai dengan sempurna kecuali dengan membersihkan tempat dimana ma’rifatullah itu bersemayam, yaitu di dalam hati manusia. Oleh sebab itu, hendaknya yang paling pertama diperhatikan oleh seorang hamba tatkala ingin bisa merasakan kelezatan ubudiyah dan ma’rifat kepada-Nya adalah mengenali seluk-beluk hatinya.
Ibnul Qayyim raḥimahullāh memaparkan,
“Suatu tempat akan bisa menampung apa yang diisikan kepadanya tatkalaterpenuhi syaratnya yaitu harus bersih dari lawannya. Hal ini, sebagaimana berlaku terhadap benda dan barang-barang, demikian pula ia berlaku dalam hal keyakinan dan keinginan. Apabila hati telah penuh terisi dengan kebatilan, berupa keyakinan ataupun rasa cinta, itu artinya tidak tersisa lagi di dalamnya ruang untuk keyakinan terhadap kebenaran dan kecintaan terhadapnya.
Seperti halnya lisan, apabila telah disibukkan dengan pembicaraan mengenai hal-hal yang tidak berguna niscaya pemiliknya tidak sanggup lagi untuk berbicara tentang hal-hal yang berguna bagi dirinya, kecuali apabila lisannya berhenti mengutarakan kebatilan.
Demikian juga anggota badan apabila disibukkan dengan selain ketaatan, tidak mungkin untuk menyibukkannya dengan perbuatan taat kecuali apabila telah berhenti dari lawannya.
Begitu pula hati yang telah disibukkan dengan kecintaan kepada selain Allāh, keinginan terhadapnya, rindu dan merasa tentram dengannya, tidak akan mungkin baginya untuk disibukkan dengan kecintaan kepada Allāh, keinginan, rasa cinta dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya kecuali dengan mengosongkan hati tersebut dari ketergantungan terhadap selain-Nya.
Lisan juga tidak akan mungkin digerakkan untuk mengingat-Nya dan anggota badan pun tidak akan bisa tunduk berkhidmat kepada-Nya kecuali apabila ia dibersihkan dari mengingat dan berkhidmat kepada selain-Nya.
Apabila hati telah disibukkan dengan makhluk atau ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat maka tidak tersisa lagi ruang untuk menyibukkan diri dengan Allāh serta mengenal nama-nama, sifat-sifat dan hukum-hukum-Nya…” (lihat al-Fawā‘id, hal. 31-32)
Beliau juga berpesan,
“Barangsiapa yang menginginkan kejernihan hatinya, hendaknya dia lebih mengutamakan Allāh daripada hawa nafsunya. Hati yang terjerat oleh syahwat akan terhalangi dari Allāh sesuai dengan kadar ketergantungan hati itu kepadanya. Hati merupakan bejana -untuk mengenal- Allāh di atas muka bumi yang diciptakan-Nya. Hati yang paling dicintai-Nya adalah hati yang paling lembut, paling kuat, dan paling jernih. Aduhai, mengapa mereka menyibukkan hati mereka dengan dunia. Seandainya mereka mau menyibukkan diri dengan Allāh dan hari akherat niscaya akan tampak bagi mereka keagungan firman-Nya dan kebesaran ayat-ayat-Nya…” (lihat al-Fawa’id, hal. 95)
Ketakwaan Hakiki
Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),
“Yang demikian itu, barangsiapa yang mengagungkan perintah-perintah Allāh, sesungguhnya hal itu lahir dari ketakwaan di dalam hati.” (QS. al-Hajj: 32).
Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),
“Tidak akan sampai kepada Allāh daging maupun darahnya (kurban), akan tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.” (QS. al-Hajj: 37).
Ibnul Qayyim raḥimahullāh berkata,
“Ketakwaan yang hakiki adalah ketakwaan -yang berakar- dari dalam hati bukan semata-mata ketakwaan dengan anggota badan.” (lihat al-Fawā`id, hal. 136).
Abū Hurairah raḍiyallāhu’anhu berkata,
“Hati ibarat seorang raja, sedangkan anggota badan adalah pasukannya. Apabila sang raja baik niscaya akan baik pasukannya. Akan tetapi jika sang raja busuk maka busuk pula pasukannya.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 14)
Ibnul Qayyim raḥimahullāh menjelaskan, “Barangsiapa yang mencermati syari’at, pada sumber-sumber maupun ajaran-ajarannya. Dia akan mengetahui betapa erat kaitan antara amalan anggota badan dengan amalan hati. Bahwa amalan anggota badan tak akan bermanfaat tanpanya. Dan juga amalan hati itu lebih wajib daripada amalan anggota badan. Apakah yang membedakan antara seorang mukmin dengan seorang munafik kalau bukan karena amalan yang tertanam di dalam hati masing-masing di antara mereka berdua? Penghambaan/ibadah hati itu lebih agung daripada ibadah anggota badan, lebih banyak dan lebih kontinyu. Karena ibadah hati wajib di sepanjang waktu.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 14-15)
Ibnul Qayyim raḥimahullāh juga menegaskan, “Amalan-amalan hati itulah yang paling pokok, sedangkan amalan anggota badan adalah konsekuensi dan penyempurna atasnya. Sebagaimana niat menduduki peranan ruh, sedangkan amalan laksana tubuh. Itu artinya, jika ruh berpisah dari jasad, maka jasad itu akan mati. Oleh sebab itu memahami hukum-hukum yang berkaitan dengan gerak-gerik hati itu lebih penting daripada mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan gerak-gerik anggota badan.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 15)
Wallāhu a’lam. Wa allallāhu ‘alā Nabiyyinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa shaḥbihi wa sallam. Walḥamdulillāhi Rabbil ‘ālamin.
—–
*sumber ilustasi gambar: http://ht.ly/e6hRG 



Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More