Share
div id='fb-root'/>

Kaya tidak diukur dengan banyaknya harta

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bertakwa itu dimana saja

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutkanlah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapuskannya dan berakhlaqlah dengan sesama dengan akhlaq yang baik.”(HR Tirmidzi 1987)

Mudahkan Kesulitan Saudara Kita

“Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”(HR Muslim 2699)

Segeralah Bertaubat

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133)

Bersemangatlah untuk Beramal Shalih

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97)

Showing posts with label waktu. Show all posts
Showing posts with label waktu. Show all posts

Sunday, September 23, 2012

Ilmu Kebutuhan Sepanjang Waktu

Sahabat seakidah, para pemuda muslim yang dirahmati Allah… Kehidupan yang kita jalani penuh dengan warna. Tidak hanya suka, bahkan tidak jarang duka pun melanda. Tidak hanya sehat, bahkan sakit pun terkadang menimpa. Tidak hanya lapang, bahkan kesempitan pun menyapa. Hidup penuh dengan cobaan dan godaan.
Dengan latar belakang semacam itu, wajarlah jika setiap hari kita diperintahkan untuk berdoa memohon hidayah kepada Allah di dalam setiap raka’at sholat kita. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Dengan ucapan anda ‘Ihdinash shirathal mustaqim‘ itu artinya anda telah meminta kepada Allah ta’ala ilmu yang bermanfaat dan amal yang salih.” (lihat Tafsir Juz ‘Amma, hal. 12).
Lebih Urgen Daripada Oksigen
Nu’aim bin Hammad menceritakan: Aku mendengar Abdullah bin Mubarak -semoga Allah meridhainya- mengatakan -pada saat orang-orang mencela beliau karena begitu seringnya beliau mencari hadits-; ketika itu mereka berkata kepadanya,“Sampai kapan kamu akan terus mendengar hadits?”. Beliau pun menjawab,“Sampai mati!” (lihat al-’Ilmu, Syarafuhu wa Fadhluhu, hal. 77)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “… Kebutuhan kepada ilmu di atas kebutuhan kepada makanan, bahkan di atas kebutuhan kepada nafas. Keadaan paling buruk yang dialami orang yang tidak bisa bernafas adalah kehilangan kehidupan jasadnya. Adapun lenyapnya ilmu menyebabkan hilangnya kehidupan hati dan ruh. Oleh sebab itu setiap hamba tidak bisa terlepas darinya sekejap mata sekalipun. Apabila seseorang kehilangan ilmu akan mengakibatkan dirinya jauh lebih jelek daripada keledai. Bahkan, jauh lebih buruk daripada binatang di sisi Allah, sehingga tidak ada makhluk apapun yang lebih rendah daripada dirinya ketika itu.” (lihat al-’Ilmu, Syarafuhu wa Fadhluhu, hal. 96)
Syaikh Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah berkata, “Kebutuhan seorang muslim terhadap hidayah menuju jalan yang lurus lebih besar daripada kebutuhannya kepada makanan dan minuman. Sebab makanan dan minuman adalah bekal untuknya dalam kehidupan dunia, sedangkan hidayah jalan yang lurus adalah bekalnya untuk negeri akherat. Oleh sebab itulah terdapat doa untuk memohon hidayah menuju jalan yang lurus ini di dalam surat al-Fatihah yang ia wajib untuk dibaca dalam setiap raka’at sholat; baik sholat wajib maupun sholat sunnah.” (lihatQathfu al-Jana ad-Dani Syarh Muqoddimah Risalah Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani, hal. 114)
Sebagian orang yang arif mengatakan, “Bukankah orang yang sakit apabila dihalangi dari makanan dan minuman serta obat maka dia akan mati?”. Orang-orang menjawab, “Ya, benar.” Lalu dia menimpali, “Maka demikian pula hati, apabila ia terhalangi dari ilmu dan hikmah selama tiga hari niscaya ia akan mati.” (lihatal-’Ilmu, Syarafuhu wa Fadhluhu, hal. 144)
Lebih Penting Daripada Air
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah subhanahu menjadikan ilmu bagi hati laksana air hujan bagi tanah. Sebagaimana tanah/bumi tidak akan hidup kecuali dengan curahan air hujan, maka demikian pula tidak ada kehidupan bagi hati kecuali dengan ilmu.” (lihat al-’Ilmu, Syarafuhu wa Fadhluhu, hal. 227)
Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah utus aku untuk mendakwahkannya laksana hujan deras yang membasahi bumi. Di muka bumi itu ada tanah yang baik sehingga bisa menampung air dan menumbuhkan berbagai jenis pohon dan tanam-tanaman. Adapula jenis tanah yang tandus sehingga bisa menampung air saja dan orang-orang mendapatkan manfaat darinya. Mereka mengambil air minum untuk mereka sendiri, untuk ternak, dan untuk mengairi tanaman. Hujan itu juga menimpa tanah yang licin, ia tidak bisa menahan air dan tidak pula menumbuhkan tanam-tanaman. Demikian itulah perumpamaan orang yang paham tentang agama Allah kemudian ajaran yang kusampaikan kepadanya memberi manfaat bagi dirinya. Dia mengetahui ilmu dan mengajarkannya. Dan perumpamaan orang yang tidak mau peduli dengan agama dan tidak mau menerima hidayah Allah yang aku sampaikan.” (HR. Bukhari)
Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan segi keserupaan antara hujan dengan ilmu agama. Beliau berkata, “Sebagaimana hujan akan menghidupkan tanah yang mati (gersang), demikian pula ilmu-ilmu agama akan menghidupkan hati yang mati.” (lihat Fath al-Bari [1/215]).
Pondasi Tegaknya Ibadah
Ilmu merupakan pondasi tegaknya amalan dan ibadah. Sebagian salaf berkata, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu maka dia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.” (lihat al-’Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 93)
Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Tidak akan diterima ucapan kecuali apabila dibarengi dengan amalan. Tidak akan diterima ucapan dan amalan kecuali jika dilandasi dengan niat. Dan tidak akan diterima ucapan, amalan, dan niat kecuali apabila bersesuaian dengan as-Sunnah.” (lihat al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil munkar karya Ibnu Taimiyah, hal. 77 cet. Dar al-Mujtama’)
Imam Bukhari rahimahullah membuat sebuah bab dengan judul Bab. Ilmu sebelum ucapan dan amalan (lihat Shahih al-Bukhari cet. Maktabah al-Iman, hal. 30). Ibnul Munayyir rahimahullah mengatakan, “Beliau -Imam Bukhari- ingin menjelaskan bahwa ilmu menjadi syarat sah ucapan dan amalan. Keduanya tidak dinilai apabila tidak dilandasi ilmu. Oleh sebab itu ilmu lebih didahulukan di atas keduanya; sebab ilmu merupakan faktor yang meluruskan niat, dan niat itulah yang menentukan kelurusan amalan.” (lihat Fath al-Bari [1/195] cet. Dar al-Hadits)
Ilmu Yang Bermanfaat
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amalan. Kalau seorang hamba memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya maka dia telah mengikuti jalannya orang-orang yang dimurkai -al-maghdhubi ‘alaihim-. Adapun apabila dia beramal namun tanpa landasan ilmu maka dia telah mengikuti jalannya orang-orang yang sesat -adh-dhaallin-. Apabila ilmu dan amal itu berjalan beriringan pada diri seorang hamba maka dia telah berjalan di atas jalannya orang-orang yang diberi karunia oleh Allah; yaitu jalannya para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih (lihatThariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 21)
Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk menyelamatkan dirinya maka sedikit darinya telah mencukupi. Akan tetapi barangsiapa yang menuntut ilmu demi memenuhi kebutuhan seluruh manusia, maka kebutuhan manusia itu tidak ada habisnya.” Lalu Syaikh Ibrahim ar-Ruhailihafizhahullah mengatakan, “Oleh sebab itu sebenarnya tidak semestinya seorang memperbanyak ilmu namun tidak mengiringinya dengan amalan.” (dikutip dari rekaman ceramah Syarh Tsalatsat al-Ushul oleh Syaikh Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili hafizhahullah)
Imam Ibnul Qoyyim rahimahulllah berkata, “… Seandainya ilmu bisa bermanfaat tanpa amalan niscaya Allah Yang Maha Suci tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab. Dan jika seandainya amalan bisa bermanfaat tanpa adanya keikhlasan niscaya Allah juga tidak akan mencela orang-orang munafik.” (lihat al-Fawa’id, hal. 34).
al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ilmu yang tertancap di dalam hati dan ilmu yang sekedar berhenti di lisan. Ilmu yang tertancap di hati itulah ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu yang hanya berhenti di lisan itu merupakan hujjah/bukti bagi Allah untuk menghukum hamba-hamba-Nya.” (lihatal-Iman, takhrij al-Albani, hal. 22)
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat, akan tetapi hakikat ilmu itu adalah khas-yah/rasa takut kepada Allah.” (lihat al-Fawa’id, hal. 142). Beliau juga mengatakan, “Cukuplah rasa takut kepada Allah bukti keilmuan, dan cukuplah ketertipuan diri karena kemurahan Allah sebagai bukti kebodohan.” (lihat al-Iman, takhrij al-Albani, hal. 22).
Ibnus Samak rahimahullah berkata, “Wahai saudaraku. Betapa banyak orang yang menyuruh orang lain untuk ingat kepada Allah sementara dia sendiri melupakan Allah. Betapa banyak orang yang menyuruh orang lain takut kepada Allah akan tetapi dia sendiri lancang kepada Allah. Betapa banyak orang yang mengajak ke jalan Allah sementara dia sendiri justru meninggalkan Allah. Dan betapa banyak orang yang membaca Kitab Allah sementara dirinya tidak terikat sama sekali dengan ayat-ayat Allah. Wassalam.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 570)
Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Kelak pada hari kiamat didatangkan seorang lelaki, lalu dia dilemparkan ke dalam neraka. Usus perutnya pun terburai. Dia berputar-putar seperti seekor keledai mengelilingi alat penggilingan. Para penduduk neraka berkumpul mengerumuninya. Mereka pun bertanya kepadanya, “Wahai fulan, apa yang terjadi padamu. Bukankah dulu kamu memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar?”. Dia menjawab, “Benar. Aku dulu memang memerintahkan yang ma’ruf tapi aku tidak melaksanakannya. Aku juga melarang yang mungkar tetapi aku justru melakukannya.”.” (HR. Bukhari no. 267 dan Muslim no. 2989)
Waspadai Jebakan Setan!
Qatadah berkata, “Sesungguhnya setan tidak pernah membiarkan lolos seorang pun di antara kalian. Bahkan ia pun datang melalui pintu ilmu. Setan mengatakan,“Untuk apa kamu terus-menerus menuntut ilmu? Seandainya kamu mengamalkan semua (ilmu) yang telah kamu dengar, niscaya itu sudah cukup bagimu.” Qatadah berkata: Seandainya ada orang yang boleh merasa cukup dengan ilmunya, niscaya Musa ‘alaihis salam adalah orang yang paling layak untuk merasa cukup dengan ilmunya. Akan tetapi Musa berkata kepada Khidr (yang artinya), “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau bisa mengajarkan kepadaku kebenaran yang diajarkan Allah kepadamu.” (QS. al-Kahfi: 66).” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal [1/136])
Sufyan rahimahullah pernah ditanya, “Menuntut ilmu yang lebih kau sukai ataukah beramal?”. Beliau menjawab, “Sesungguhnya ilmu itu dimaksudkan untuk beramal, maka jangan tinggalkan menuntut ilmu dengan dalih untuk beramal, dan jangan tinggalkan amal dengan dalih untuk menuntut ilmu.” (lihat Tsamrat al-’Ilmi al-’Amal, hal. 44-45)
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabukan Doa.


Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Tuesday, September 4, 2012

Waktu Laksana Pedang

waktu-umpama-pedangBenarlah kata orang, waktu laksana pedang. Jika kita tidak mampu memanfaatkannnya, waktu sendiri yang akan menebas kita. Semangatlah dalam memanfaatkan waktu luang Anda dalam kebaikan, bukan dalam maksiat. Karena jika kita tidak disibukkan dalam kebaikan, tentu kita akan beralih pada hal-hal yang sia-sia yang tidak ada manfaat.
Tidak Mampu Menghitung Nikmat Allah
Sungguh telah banyak nikmat yang telah dianugerahkan Allah Ta’ala kepada kita. Jika kita mencoba untuk menghitung nikmat tersebut niscaya kita tidak akan mampu untuk menghitungnya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak mampu untuk menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (ni’mat Allah).” (QS Ibrahim [14] : 34)
Dalam Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh As Sa’di mengatakan, “Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak mampu untuk menghitungnya” maka lebih-lebih lagi untuk mensyukuri nikmat tersebut. “Sungguh manusia benar-benar zholim dan kufur”. Itulah tabiat manusia di mana : (1) dia zholim dengan melakukan maksiat, (2) kurang dalam menunaikan hak Rabbnya, dan (3) kufur terhadap nikmat Allah Ta’ala. Dia tidak mensyukurinya, tidak pula mengakui nikmat tersebut kecuali bagi siapa yang diberi hidayah oleh Allah untuk mensyukuri nikmat tersebut dan mengakui hak Rabbnya serta menegakkan hak tersebut.”
Kenikmatan yang Terlupakan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita bahwa waktu luang merupakan salah satu di antara dua kenikmatan yang telah diberikan Allah Ta’ala kepada manusia. Tetapi sangat disayangkan, banyak di antara manusia yang melupakan hal ini dan terlena dengannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Ada dua kenikmatan yang banyak dilupakan oleh manusia, yaitu nikmat sehat dan waktu luang”. (Muttafaqun ‘alaih)
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari membawakan perkataan Ibnu Baththol. Beliau mengatakan,”Makna hadits ini adalah bahwa seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang mendapatkan seperti ini, maka bersemangatlah agar tidak tertipu dengan lalai dari bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan oleh-Nya. Di antara bentuk syukur adalah melakukan ketaatan dan menjauhi larangan. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, dialah yang tertipu.”
Ibnul Jauzi dalam kitab yang sama mengatakan, ”Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun dia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dalam aktivitas dunia. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun dia dalam keadaan sakit. Apabila tergabung kedua nikmat ini, maka akan datang rasa malas untuk melakukan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya).
Itulah manusia. Banyak yang telah terbuai dengan kenikmatan ini. Padahal setiap nikmat yang telah Allah berikan akan ditanyakan. Allah Ta’ala berfirman,
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
Kemudian kamu pasti akan ditanya tentang kenikmatan (yang kamu bermegah-megahan di dunia itu)”. (QS At Takaatsur [102] : 8)
Waktu yang Telah Berlalu Tak Mungkin Kembali Lagi
Penyesalan terhadap waktu yang telah berlalu adalah penyesalan yang tinggal penyesalan. Ingatlah, waktu yang sudah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi.
الوقت أنفاس لا تعود
Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.
Syaikh ‘Abdul Malik Al Qosim berkata, “Waktu yang sedikit adalah harta berharga bagi seorang muslim di dunia ini. Waktu adalah nafas yang terbatas dan hari-hari yang dapat terhitung. Jika waktu yang sedikit itu yang hanya sesaat atau beberapa jam bisa berbuah kebaikan, maka ia sangat beruntung. Sebaliknya jika waktu disia-siakan dan dilalaikan, maka sungguh ia benar-benar merugi. Dan namanya waktu yang berlalu tidak mungkin kembali selamanya.” (Lihat risalah “Al Waqtu Anfas Laa Ta’ud”, hal. 3)
Hendaknya kita sadar bahwa waktu merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi seorang hamba. Sungguh disayangkan jika waktu belalu begitu saja tanpa digunakan untuk melakukan ketaatan dan beribadah kepada Allah Ta’ala yang telah banyak memberikan nikmat kepada kita.
Waktu Laksana Pedang
Jika kita tidak pandai menggunakan pedang, niscaya pedang tersebut akan menebas diri kita sendiri. Demikian juga waktu yang telah diberikan oleh Allah Ta’ala. Jika kita tidak mampu memanfaatkannya untuk berbuat ketaatan kepada-Nya, niscaya waktu akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri.
Dalam kitab Al Jawaabul Kaafi karya Ibnul Qayyim disebutkan bahwa Imam Syafi’i pernah mendapatkan pelajaran dari orang sufi. Inti nasehat tersebut terdiri dari dua penggalan kalimat berikut:
الوقت كالسيف فإن قطعته وإلا قطعك، ونفسك إن لم تشغلها بالحق وإلا شغلتك بالباطل
Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.”
Saudaraku, senantiasalah engkau meminta pada Allah kebaikan pada hari ini dan hari besok karena hanya orang yang mendapatkan taufik dan pertolongan Allah Ta’ala yang dapat selamat dari tebasan pedang waktu.
Ibnu Mas’ud berkata,
ﻣﺎ ﻧﺪﻣﺖ ﻋﻠﻰ ﺷﻲﺀ ﻧﺪﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﻳﻮﻡ ﻏﺮﺑﺖ ﴰﺴﻪ ﻧﻘﺺ ﻓﻴﻪ ﺃﺟﻠﻲ ﻭﱂ ﻳﺰﺩ ﻓﻴﻪ ﻋﻤﻠﻲ.
Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.
Al Hasan Al Bashri berkata,
ﻣﻦ ﻋﻼﻣﺔ ﺇﻋﺮﺍﺽ ﺍﷲ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﺃﻥ ﳚﻌﻞ ﺷﻐﻠﻪ  ﻓﻴﻤﺎ ﻻ ﻳﻌﻨﻴﻪ ﺧﺬﻻﻧﺎﹰ ﻣﻦ ﺍﷲ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ
Di antara tanda Allah berpaling dari seorang hamba, Allah menjadikannya sibuk dalam hal yang sia-sia sebagai tanda Allah menelantarkannya.”
Semoga dengan nasehat sederhana ini membuat kita semakin sadar akan memanfaatkan waktu dalam kebaikan. Wallahu waliyyut taufiq.

Tulisan lawas di Jogja dan dipoles ulang @ Sakan 27, KSU, Riyadh KSA, 16 Syawal 1433 H

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Monday, July 2, 2012

Tips Manajemen Waktu

Waktu begitu berharga bagi seorang remaja muslim. Dapat dilihat, kebanyakan kita kurang dapat memenej waktu dengan baik. Akhirnya, semua tugas jadi tertunda dan tertunda. Jadinya menumpuk dan urusan yang lebih urgent jadi terbengkalai. Berikut ada tips bagus yang bermanfaat bagi kita untuk memenej waktu.
1. Use a To Do List
Buat daftar kegiatan yang harus kamu lakukan. Tidak hanya sebagai pengingat tapi juga sebagai alat agar kita bisa mengatur waktu kapan harus selesai dan berapa lama kegiatan itu dikerjakan
2. Get Set In Your Ways
Buat rutinitas harian kamu dengan detail. Manajemen waktu yang baik itu menunjukkan organisasi yang baik pula.
3. Break It Up!
Pecahkan tugas besar kamu menjadi tugas-tugas kecil agar memudahkan kamu untuk menyelesaikannya karena kamu sudah menyelesaikan tiap langkah satu persatu.
4. Be Realistic
Jangan memasang target waktu yang tidak masuk akal, berikan waktu tambahan dari estimasi waktu yang diperkirakan.
5. Pick Up a Good Habit
Buat kebiasaan baru yang bisa membuat waktu kamu lebih berharga.
6. Big MessesStart With Little Piles
Selesaikan pekerjaan kamu. Buang segala sesuatu yang tidak dibutuhkan lagi begitu kamu sudah menggunakannya sebelum itu memenuhi ruangan.
7. Start Tomorrow Tonight!
Biasakan untuk mempersiapkan hal-hal yang akan dilakukan besok pada malam sebelumnya, seperti mempersiapkan baju yang akan dipakai besok atau menaruh semua hal yang akan diperlukan pada tempatnya, karena ini akan membuat waktu kita lebih efisien.
8. Don’t Forget To Write Yourself a Note
Gunakan reminder (pengingat) pada To Do List utama kamu. Gunakan HP atau alarm jam tangan!
9. Schedule a Task
Hal termudah untuk dapat mengerjakan apa yang ingin kamu kerjakan ialah membuat jadwal.
10. First Things First
Buat prioritas pekerjaan lalu buat jadwal pada waktu yang sesuai. Menurut pengarang buku “Seven Habits” Stephen R. Covey ada 4 level kepentingan dengan mempertimbangkan dua aspek, urgency (kemendesakan) dan importancy (kepentingan) yaitu: (1) urgent dan important, (2) tidak urgent tapi important, (3) urgent tapi tidak important, (4) tidak urgent dan tidak important.
11. Learn to Say No!
Belajar untuk menolak ajakan yang tidak penting dan dapat menggangu tapi lakukan dengan sopan. Kita harus fokus terhadap waktu kita. Stay focus!
12. The Pause that Refreshes
Buat jeda waktu untuk istirahat pada jadwalmu. Ini akan membuat kita refresh dan fokus akan “Apa yang dilakukan selanjutnya?”
13. Be Flexible
Untuk membiasakan diri dengan manajemen waktu yang efektif membutuhkan waktu yang tidak singkat.Jika ada pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan tepat waktu, jadikan jadwal kamu fleksibel dengan waktu yang ada.
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al Fawaid berkata,
اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا
Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.
Semoga Allah memudahkan kita untuk memanfaatkan waktu kita dengan baik.
Referensi: rhanu.web.id

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Friday, May 4, 2012

Inilah Waktu yang Pas Untuk Belajar

Kita, seringkali beralasan tidak punya waktu untuk belajar agama. Terutama sekali bagi sebagian ikhwan yang bekerja di kisaran Jabodetabek. Berangkat dari rumah sebelum matahari terbit, dan baru kembali mengetuk pintu rumah setelah tenggelamnya. Kita menghilang pada rutinitas duniawiah selama 12 jam dalam sehari, 5 atau 6 hari dalam sepekan. Bahkan, tidak terasa telah menghabiskan hampir dua pertiga usia kehidupan kita. Benar, ada sebagian di antara saudara kita yang mabuk dalam urusan dunia. Namun tidak sedikit di antara mereka melakukannya karena tuntutan dan kebutuhan.

Apapun itu, sungguhlah merugi jika waktu kita habis untuk menggali tambang dunia tanpa menginvetasikan sebagiannya untuk keuntungan akhirat. Allah ta’ala berfirman :
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلا تَعْقِلُونَ
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?’ [QS. Al-An’aam : 32].
وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا مَتَاعٌ
“Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit)” [QS. Ar-Ra’d : 26].
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” [QS. Al-Hadiid : 20].
Allah ta’ala tidak mengharamkan kita bersibuk dengan urusan dunia. Namun ikhwan,….Allahta’ala telah berfirman tentang bagaimana seharusnya seorang muslim meletakkan orientasi kehidupannya :
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” [QS. Al-Qashshaash : 77].
Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullah berkata terkait makna ayat di atas :
أَمَرَهُ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ مَالِهِ قَدْرَ عِيشَتِهِ وَأَنْ يُقَدِّمَ مَا سِوَى ذَلِكَ لآخِرَتِهِ
“Allah telah memerintahkan untuk mengambil bagian hartanya sekedar mencukupi hidupnya, dan mendahulukan selain dari itu untuk kepentingan akhiratnya” [Diriwayatkan oleh Abu Haatim dalam Tafsiir-nya no. 17116 dengan sanad hasan].
So,…. – sesuai dengan judul – belajar atau mencari ilmu adalah salah satu investasi penting untuk menuai keuntungan di akhirat.
Saya adalah salah seorang yang sangat-sangat tidak sepakat jika sibuk kerja dari pagi hingga petang atau malam menjadi alasan bagi sebagian ikhwan tidak sempat untuk belajar. Dengan ketidaksepakatan itu, berikut akan saya coba susun alternatif jadwal sederhana bagi ikhwan yang sibuk bekerja, dengan sedikit kiat-kiat sederhananya :
Jam
Aktifitas
04.00 WIB
Bangun pagi
04.00 – 06.30 WIB
Kegiatan pra-shalat Shubuh, shalat Shubuh, dan persiapan berangkat ke bekerja/kantor.
06.30 – 08.00 WIB
Berangkat ke bekerja/kantor, perjalanan, sampai di kantor.
Jika kita berangkat ke kantor naik angkutan umum (bus atau kereta api), kita bisa manfaatkan waktu untuk :
a.   Membaca buku-buku agama; atau
b.   Tidur (untuk menjaga kondisi badan).
08.00 – 12.00 WIB
Bekerja.
12.00 – 13.00 WIB
ISHOMA (istirahat, shalat, dan makan siang).
Kita manfaatkan waktu ± 15 menit untuk membaca sehalaman dua halaman mushhaf seusai shalat Dhuhur. Jika ada fasilitas internet di tempat kita bekerja, sambil makan siang di depan computer kerja[1], kita bisa membuka dan membaca situs-situs Islam yang bermanfaat. Aktifitas ini tentu tidak bisa kita lakukan jika kita biasa makan di kantin atau semisalnya.
13.00 – 17.00 WIB
Bekerja
17.00 – 19.00 WIB
Selesai bekerja, dan dalam perjalanan pulang.
Jika kita pulang dari kantor naik angkutan umum (bus atau kereta api), kita bisa manfaatkan waktu untuk :
a.   Membaca buku-buku agama; atau
b.   Tidur (untuk menjaga kondisi badan).
19.00 – 20.00 WIB
Sampai di rumah, istirahat, shalat (‘Isyaa’), dan makan malam.
20.00 – 22.00 WIB
Berkomunikasi dengan keluarga, termasuk mendampingi anak-anak belajar.
22.00 – 24.00 WIB
Belajar agama.
Kita bisa manfaatkan waktu ini dengan membuka dan membaca buku-buku agama, serta mencatat faedah-faedah penting di buku tulis atau komputer. Waktu inilah yang – menurut saya – paling efektif harus dimanfaatkan, karena anak-anak telah tidur. Banyak hal yang bisa kita dapatkan dalam waktu dua jam ini.
24.00 – 04.00 WIB
Istirahat (tidur).
Menurut saya, alternatif jadwal di atas masih memberikan waktu yang cukup bagi kita untuk hidup sebagai manusia normal yang mempunyai waktu untuk bekerja, istirahat (4 - 6 jam sehari),[2] berinteraksi dengan keluarga, dan belajar agama.
Jadwal di atas adalah untuk hari-hari bekerja. Berikut adalah alternatif jadwal ketika hari libur :
Jam
Aktifitas
04.00 WIB
Bangun pagi
04.00 – 06.00 WIB
Kegiatan pra-shalat Shubuh, shalat Shubuh, dan kegiatan pasca-Shubuh.
Kegiatan pasca-Shubuh bisa kita isi dengan dzikir (termasuk baca Al-Qur’an) dan mengikuti ta’lim di masjid (jika ada).
06.00 – 08.00 WIB
Membantu istri menyelesaikan pekerjaan rumahnya (menyapu, mengepel, belanja ke pasar, masak, mandiin anak-anak (kalau masih kecil/balita), dan yang lainnya.
Berbahagialah ikhwan yang dapat menggaji pembantu rumah tangga, sehingga mempunyai waktu luang lebih banyak.
08.00 – 09.00 WIB
Berkomunikasi dan bersantai dengan keluarga.
09.00 – 13.00 WIB
Berangkat mengikuti ta’lim.
Di Jabodetabek, pada rentang waktu ini biasanya banyak diadakan ta’lim yang disampaikan para ustadz kita. Usahakan dengan sangat untuk menghadiri ta'lim selagi kita bisa hadir. 
13.00 – 15.00 WIB
Pulang ta’lim, makan siang, dan istirahat.
15.00 – 16.30 WIB
Shalat ‘Asar dan membantu pekerjaan istri di rumah.
16.30 – 17.30 WIB
Acara bebas, yang bisa kita manfaatkan untuk ziarah ke tetangga atau kolega. Bisa juga kita manfaatkan untuk kepentingan keluarga.
17.30 – 18.00 WIB
Persiapan shalat Maghrib. Bisa kita manfaatkan untuk mengulang catatan dan membaca buku-buku bermanfaat. Kita bisa ajak keluarga untuk turut serta.
18.00 – 20.00 WIB
·        Shalat maghrib.
·        Kegiatan pasca Maghrib : membaca Al-Qur’an, ikut ta’lim di masjid (kalau ada), atau mengadakan ta’lim keluarga.
·        Shalat ‘Isyaa’.
·        Makan malam.
20.00 – 21.00 WIB
Berkomunikasi dengan keluarga, termasuk mendampingi anak-anak belajar.
21.00 – 24.00 WIB
Belajar (sebagaimana disebutkan sebelumnya).
Catatan : Khusus hari libur, kita bisa memulai waktu belajar malam lebih cepat dari biasanya.[3]
24.00 – 04.00 WIB
Istirahat (tidur).
Alternatif jadwal di atas masih bisa kita otak-atik sesuai dengan sikon dan keadaan pribadi kita masing-masing. Harapan saya, alternatif jadwal di atas dapat membuat kita semakin kreatif melakukan berbagai inovasi memanfaatkan dan mengefisienkan waktu, meskipun sedikit.
Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan agar belajar kita lebih efektif :
1.    Manfaatkan waktu yang sedikit sebaik mungkin. Jika kita pintar memanfaatkan waktu yang sedikit, maka – lazimnya – kita akan lebih pintar memanfaatkan waktu yang banyak.
2.    Mulai membaca buku yang sederhana dan tipis yang memuat prinsip-prinsip penting dalam agama, yang mudah diingat dan dihapal.
3.    Jangan ‘malu’ membaca buku terjemahan bagi orang yang belum bisa/lancar berbahasa Arab. Kita terlahir dan dibesarkan dengan bahasa Indonesia, yang tentunya akan lebih mudah memahami penjelasan dalam bahasa Indonesia.
Catatan :
Pandai-pandailah kita membeli dan memilih buku terjemahan. Beberapa hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan adalah : nama pengarang, nama penerjemah, dan nama penerbit. Hendaknya kita membeli buku yang ditulis, diterjemahkan, dan diterbitkan oleh orang-orang yang berkomitmen terhadap manhaj salaf. Jangan asal membeli buku.
4.    Mencatat point-point penting dari hal yang kita baca dan dengar dalam buku catatan atau komputer. Itu sangat membantu kita untuk mengingat dan memahaminya.
5.    Lebih fokus pada usaha untuk belajar dan memahami sesuatu, daripada tergoda untuk membantah sesuatu atau bahkan mencari-cari jawaban syubhat (yang pernah kita baca atau dengar).
6.    Serius dalam belajar agama laiknya kita serius dalam belajar ilmu dunia. Bahkan harus lebih serius lagi. Jangan menganggap belajar agama itu hanya sekedar mengisi waktu kosong, daripada nganggur.
Bayangkan kalau kita besok pagi mau ujian semester, pasti malam hari kita belajar dan mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh. Demikian pulalah seharusnya kita belajar agama,….. meskipun hanya membaca buku terjemahan. Apalagi kalau kita hadir langsung dalam majelis ilmu.
7.    Jika kita memiliki radio, please stay tuned pada stasiun radio dakwah, seperti Radio Rodja, Radio Hang, dan yang lainnya. Kita bisa mendengarkan ta’lim atau murattalsambil melakukan berbagai aktifitas di rumah. Ini adalah nikmat yang besar yang wajib kita syukuri.
Terakhir,…. Ibnul-Mubaarak rahimahullah berkata :
أول العلم النية، ثم الاستماع، ثم الفهم، ثم الحفظ، ثم العمل، ثم النشر
"Awal dari ilmu adalah niat, lalu mendengarkan, lalu memahami, lalu menghapal, lalu mengamalkan, lalu menyebarkannya” [Jaami' Bayaanil-'Ilmi wa Fadhlihi, 1/118].
Sampai dalam tahapan ilmu manakah kita ?
Semoga tulisan kecil ini ada manfaatnya.
[abul-jauzaa’ – sardonoharjo, ngaglik, sleman, yk – 02052012].


[1]      Bagi ikhwan yang dapat jatah makan dari kantor, atau biasa dibekali makan siang oleh istri dari rumah.
[2]      Terdiri dari 4 jam tidur malam, 1 jam tidur di angkutan umum ketika berangkat bekerja, dan 1 jam ketika pulang.
[3]      Karena waktu kita untuk berinteraksi dengan keluarga telah kita alokasikan lebih banyak.

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More