Share
div id='fb-root'/>

Kaya tidak diukur dengan banyaknya harta

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bertakwa itu dimana saja

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutkanlah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapuskannya dan berakhlaqlah dengan sesama dengan akhlaq yang baik.”(HR Tirmidzi 1987)

Mudahkan Kesulitan Saudara Kita

“Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”(HR Muslim 2699)

Segeralah Bertaubat

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133)

Bersemangatlah untuk Beramal Shalih

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97)

Showing posts with label setan. Show all posts
Showing posts with label setan. Show all posts

Wednesday, August 15, 2012

[Kisah] Tipu Muslihat Setan kepada Ahli Ibadah Melalui Wanita

Sa’id bin Al-Musayyab radhiyallahu anhu pernah berkata, “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, melainkan dia tidak merasa aman dari gangguan Iblis, yang merusaknya melalui perantara seorang wanita.”
Dan dari hasan bin Shalih, dia berkata, “Aku pernah mendengar setan berkata kepada wanita, “Engkau adalah separuh pasukanku, engkau adalah anak panah yang kuluncurkan dan aku tidak pernah salah sasaran. Engkau adalah penyimpan rahasiaku dan engkau adalah utusanku jika aku membutuhkan.”
Kisah ini diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih radhiyallahu ‘anhu. Ada seorang ahli ibadah di kalangan bani israel. Dia adalah orang yang paling tekun beribadah pada zamannya. Pada saat itu ada tiga orang laki laki bersaudara yang memiliki satu saudari lagi, seorang gadis. Ketika mereka hendak pergi untuk ikut dalam perngiriman satuan pasukan, mereka tidak tahu siapa yang akan menjaga dan melindungi saudari mereka, dan kepada siapa dia akan dititipkan. Maka mereka sepakat untuk menitipkan saudari mereka kepada laki laki ahli ibadah di kalangan Bani Israel. Dengan penuh keyakinan mereka mendatangi ahli ibadah itu dan memintanya untuk sudi dititipi saudari mereka, yang berarti saudari mereka itu harus menetap di tempat ahli ibadah dan dalam lindungannya hingga mereka kembali dari peperangan. Namun ahli ibadah menolak permintaan mereka dan dia berlindung kepada Allah dari keberadaan saudari mereka. Mereka terus mendesak ahli ibadah itu hingga akhirnya dia berkenan. Ahli ibadah itu berkata, “Suruhlah dia menginap di sebuah bilik di lantai bawah biaraku.”
Maka mereka menempatkan saudarinya di bilik yang dimaksudkan kemudian mereka meninggalkannya. Dengan begitu, gadis tersebut berada di tempat ahli ibadah untuk sekian lama, yang selama itu pula ahli ibadah turun dari biaranya untuk memberikan makanan kepada sang gadis. Dia meletakkan makanan di dekat pintu biara, kemudian menutupnya kembali lalu naik ke lantai atas dalam biaranya. Setelah itu sang gadis keluar dari biliknya untuk mengambil makanan yang sudah diletakkan ahli ibadah.
Setan cukup sabar menghadapi ahli ibadah itu dan senantiasa membuatnya senang melakukan kebaikan, sambil membesar besarkan masalah jika gadis itu keluar pada siang hari dan menakut nakutinya andaikan ada orang lain yang melihat keberadaan gadis itu di biaranya. Maka setan menambahi tipu muslihatnya dengan berkata, “Andaikan engkau mau berjalan ketika membawa makanannya , lalu engkau meletakkannya didepan biliknya, tentu pahalamu semakin bertambah besar.”
Setan terus menerus membujuknya hingga dia mau berjalan mendekati bilik gadis dan meletakkan makanannya di depan pintunya, tanpa berbicara sedikitpun. Hal ini terjadi hingga beberapa lama.
Kemudian Iblis mendatangi ahli ibadah dan menganjurkannya kepada suatu kebaikan, seraya berkata, “Andaikata engkau mau berjalan membawa makanannya dan meletakannya di dalam biliknya, tentu pahalamu semakin besar.” Iblis senantiasa membujuk ahli ibadah hingga dia mau berjalan membawa makanannya dan meletakkannya di dalam bilik sang gadis. Hal ini terjadi hingga beberapa lama.
Iblis menyuruh ahli ibadah kepada kebaikan dan menganjurkannya, seraya berkata, “Andaikata engkau mau berbicara dan mengobrol dengannya, tentu engkau akan bisa menjaganya, karena dia bisa saja dimangsa binatang buas.” Iblis senantiasa membujuknya, hingga ahli ibadah itu mau berbincang bincang dengan sang gadis dari atas lantai di atas biaranya hingga beberapa lama.
Setelah itu Iblis mendatangi ahli ibadah dan berkata membujuknya, “Andaikata engkau mau turun ke biliknya, duduk di depan pintu biaramu dan mengajaknya berbincang bincang denganmu, tentu hal itu lebih dia sukai.” Iblis senantiasa membujuknya hingga ahli ibadah mau duduk di depan pintu biaranya dan keduanya berbincang bincang. Hal ini terjadi hingga beberapa lama.
Iblis mendatangi ahli ibadah dan mengajurkan sesuatu yang selayaknya ia lakukan. Iblis berkata, “Andaikata engkau keluar dari biaramu dan duduk di dekat pintu biliknya, lalu engkau berbincang bincang dengannya, tentu lebih menyenangkan hatinya. Iblis senantiasa membujuk ahli ibadah hingga akhirnya dia benar-benar melaksanakannya. Hal ini terjadi hingga beberapa lama.
Iblis mendatangi ahli ibadah lagi dan memberinya anjuran tentang pahala yang akan diperolehnya di sisi Allah jika dia mau mengerjakannya. Iblis berkata, “Andaikan saja engkau mau keluar dari biaramu dan duduk lebih dekat lagi ke pintu bilik si gadis itu serta berbincang bincang dengannya tanpa perlu keluar dari sana.” Ahli ibadah melakukan anjuran Iblis ini dan hal ini berjalan hingga beberapa lama.
Kemudian Iblis mendatangi ahli ibadah dan berkata, “Andaikata engkau mau masuk ke dalam bilik gadis itu, berbincang bincang dengannya dan tanpa diketahui seorang pun, maka hal ini tentu lebih baik bagimu.” Maka sehari penuh ahli ibadah menemani sang gadis di dalam biliknya. Ketika hari sudah senja, dia keluar dan naik ke lantai atas dari biaranya
Iblis mendatangi ahli ibadah dan terus menerus membujuknya, hingga dia berani memegang paha sang gadis dan memeluknya. Iblis terus memperdaya ahli ibadah dengan membisikkan bahwa hal itu merupakan kebaikan, hingga akhirnya dia menyetubuhinya dan gadis itu pun hamil. Ketika tiba saatnya, gadis itu melahirkan seorang bayi. Iblis mendatangi ahli ibadah seraya berkata, “Apa pendapatmu jika saudara saudaranya datang sementara saudari mereka telah melahirkan seorang bayi akibat perbuatanmu? Apa yang hendak engkau lakukan? Tentu saja aku tak berani menjamin dirimu, bahwa nama baiknya akan tercemar, atau mereka akan mencemarkan nama baikmu. Karena itu hampirilah bayi itu, bunuhlah dia, lalu kuburkan mayatnya. Gadis itu akan merahasiakannya karena takut andaikan saudara saudaranya tahu apa yang telah engkau perbuat terhadap dirinya.”
Maka ahli ibadah itu melakukan apa yang dianjurkan Iblis. Lalu Iblis berkata lagi, “Apakah menurut pendapatmu wanita itu akan menyembunyikan kepada saudara saudaranya apa yang telah engkau perbuat terhadap dirinya dan anaknya? Ambillah wanita itu, bunuhlah dia dan kubur bersama anaknya!”
Ahli ibadah benar benar mengikuti anjuran Iblis, membunuh dan mengubur gadis itu bersama anaknya. Dia juga membuat sebuah lubang dan meletakkan sebuah batu besar diatasnya setelah meratakan tanahnya. Setelah itu ia naik ke lantai atas biaranya untuk beribadah disana. Tidak berapa lama berselang seperti yang dikehendaki Allah, saudara saudara sang gadis datang dari peperangan, lalu mereka mendatangi biara dan menanyakan saudari mereka. Ahli ibadah menangis dan menunjukkan belas kasihannya terhadap saudari mereka seraya berkata, “Dia adalah seorang wanita yang paling baik. Itu adalah kuburannya. Lihatlah!”
Mereka mendatangi kuburan saudari mereka dan menangis disana sebagai luapan kasih sayang mereka. Beberapa hari mereka berada di kuburan itu lalu mereka pulang ke rumah.
Pada malam harinya dan setelah mereka tidur, setan mendatangi mereka lewat mimpi. Setan muncul dalam rupa seorang musafir. Pertama kali ia datang dalam mimpi salah seorang di antara mereka yang paling tua. Setan bertanya tentang nasib saudarinya. Orang itu menjawab seperti apa yang dikatakan ahli ibadah, bagaimana kematiannya dan bagaimana kasih sayang yang ditunjukkannya terhadap saudarinya itu. Bahkan ahli ibadah itu juga menunjukkan kuburannya. Namun setan menyangkal semua itu seraya berkata, “Ahli ibadah itu tidak berkata jujur tentang saudari kalian. Saudari kalian itu telah hamil dan melahirkan bayi karena perbuatan ahli ibadah, lalu dia membunuh saudari kalian dan menguburnya di balik pintu sebelah kanan di bilik yang ditempati saudari kalian. Pergilah kesana dan buktikan sendiri, tentu kalian akan mendapatkan apa yang kukatakan ini.”
Lalu Iblis mendatangi dua saudaranya yang lain dan mengatakan hal yang sama. Ketika sudah bangun mereka merasa heran dengan mimpi yang mereka alami dan mereka semakin heran ketika mereka memberi tahu tentang mimpi mereka masing masing.
“Ini hanya sekedar mimpi, kalian tak perlu memperdulikannya” kata yang paling tua .
Yang paling muda berkata, “Demi Allah aku tidak akan surut sebelum mendatangi tempat itu dan memeriksanya.”
Akhirnya mereka bertiga sepakat untuk mendatangi bilik yang dulu ditempati saudarinya. Mereka membuka pintu dan mencari cari tempat seperti yang diberitahukan kepada mereka lewat mimpi. Ternyata benar, saudari mereka dan anaknya terkubur di tempat itu. Mereka menemui ahli ibadah dan menanyakan tentang nasib saudari mereka dan tak ada pilihan lain bagi ahli ibadah selain mengakuinya karena godaan setan. Mereka pun menurunkan ahli ibadah dari biaranya dan siap untuk di salib. Tatkala ahli ibadah itu sedang diikat di papan, setan menemuinya seraya berkata, “Tentunya engkau sudah tahu bahwa sebenarnya akulah yang telah menggodamu dengan kehadiran wanita itu, lalu engkau membuatnya hamil, lalu engkau membunuhnya dan anaknya. Jika pada saat ini engkau tunduk kepadaku dan kufur kepada Allah yang telah menciptakanmu dan membentuk dirimu, tentu engkau akan selamat dari keadaan yang akan menimpamu ini..”
Maka ahli ibadah itu menyatakan kufur kepada Allah. Namun kemudian setan meninggalkannya begitu saja dan membiarkan orang orang menyalibnya. Karena peristiwa inilah Allah menurunkan surah Al Hasyr : 16
كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلإنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ
“(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia: ‘Kafirlah kamu’, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam’.”
Sungguh benar perkataan Al Haasan bin Shalih yang mengatakan “Sesungguhnya setan benar-benar akan membukakan 99 pintu kebaikan bagi seorang hamba, untuk tujuan membuka satu pintu keburukan.”
***
muslimah.or.id
Disalin dari buku Perangkap Setan karya Ibnul Jauzy penerbit Al Kautsar

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Monday, January 30, 2012

Apakah Setan Mengetahui Isi Hati Manusia?

penampakan setan

Apakah Setan Mengetahui Isi Hati Manusia?

Pertanyaan:
Apabila ada seseorang yang melakukan pekerjaan tertentu, lalu ia mengetahui bahwa ada orang lain yang menggunakan sihir dengan bantuan setan untuk memata-matai kondisinya dan pekerjaannya. Apakah sebaiknya orang tersebut berhenti dan tidak melanjutkan aktivitasnya? Namun apabila aktivitasnya merupakan suatu kewajiban, apakah lebih baik ia tidak melakukannya? Saya juga ingin menanyakan, apa maksud perkataan Ibnu Taimiyah bahwasanya setan memiliki kemampuan untuk mengetahui apa yang terbesit di hati seseorang?

Jawaban:
Alhamdulillah wa shalatu wa salamu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi, amma ba’du
Hendaknya seseorang tidak menghentikan aktivitas dan kegiatannya hanya didasari persangkaan bahwa dia sedang dimata-matai oleh sihir. Hal ini merupakan tipu daya setan yang akan membuat pekerjaannya berantakan dan kehidupannya menjadi kacau. Apalagi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kepada kita penangkal kejelekan dari gangguan setan dengan membaca Alquran, terutama ayat kursi. Kalau seandainya pekerjaan tersebut merupakan sesuatu yang wajib ditunaikan, maka haram untuk meninggalkannya.
Adapun permasalahan setan mengetahui isi hati seseorang berupa keinginan baik atau buruk yang ingin ia lakukan. Statement Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tidaklah secara tegas bermaksud demikian. Dalam Majmu’ Fatawa beliau mengatakan, “Setan mengetahui bisikan hati seorang hamba yang berdzikir kepada Allah, maka apabila hatinya lalai dari berdzikir mengingat Allah hamba tersebut akan merasakan was-was. Setan mengetahui keadaan seorang hamba; apakah ia sedang mengingat Allah atau lalai dari mengingat-Nya, ia juga mengetahui keinginan syahwatnya sehingga ia dapat memperindah keinginan jelek tersebut. Ada sebuah hadis shahih dari Shafiyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ‘Setan berjalan di tubuh anak Adam di tempat peredaran darahnya.” Malaikat dan setan adalah dua makhluk yang senantiasa dekat dengan hati anak keturunan Adam, baik hamba tersebut orang yang beriman atau kafir.”
Permasalahan ini masih diperbincangkan oleh para ulama. Syaikh Ibnu Baz pernah ditanya dengan pertanyaan yang panjang terkait dengan permasalahan ini. Ringkasnya, pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut, “Apabila aku meniatkan suatu amalan baik di dalam hatiku, apakah setan mengetahui hal itu lalu kemudian berusaha memalingkan aku dari perbuatan baik yang aku niatkan?” Jawaban Syaikh Ibnu Baz dapat diringkas sebagai berikut, “Setiap orang selalu disertai oleh setan dan malaikat, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Tidaklah salah seorang di anatara kalian pasti disertai oleh qarin dari kalangan jin dan malaikat’. Para sahabat menanggapi, ‘Tidak juga engkau ya Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Ya, tidak pula aku, hanya saja Allah telah menundukkannya (jin qarin) untukku dan ia telah berislam‘. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammengabarkan, setan mempengaruhi jiwa manusia. Setan (jin qarin) yang jahat, maka ia akan menyeru kepada kemunkaran. Adapun qarin dari kalangan malaikat mengajak seseorang untuk mengamalkan kebajikan. Demikianlah Allah jadikan dua qarin ini dalam jiwa manusia; qarin dari bangsa jin dan qarin dari golongan malaikat.”
Dr. Muhammad Abdurrozaq mengatakan, “Orang-orang menanyakan bagaimana halnya setan mengetahui apa yang terbetik dalam jiwa, apakah dia akan menghalangi jiwa tersebut dari kebaikan? Setan yang telah lama menyertai manusia dan senantiasa mencari tahu kondisi manusia sampai tidak ada satu pun dari kondisi manusia yang tersembunyi darinya. Ia mengetahui keinginan dan kehendaknya, mengetahui niat baiknya sehingga ia berusaha menghalanginya. Walaupun setan tidak mengetahui apa yang akan terjadi, bisa jadi seorang hamba tidak terpengaruh dengan bisikannya dan tetap mengamalkan kebajikan. Demikian juga setan tidak mengetahui kalau godaannya akan berhasil dan seorang hamba akan merealisasikan bisikan setan dengan mengamalkan keburukan. Setan tidak mengetahui kebaikan dan kejelekan dari sisi ini.
Abu Hasan Al Asy’ari dalam Maqolat Al Islamiyyin mengatakan, “Masih diperselisihkan, apakah setan mengetahui ataukah tidak, apa yang terbetik di dalam hati. Hal ini berdasarkan tiga pendapat. Pendapat pertama adalah pendapat Ibrahim, Mu’ammar, dan Hisyam beserta orang-orang yang mengikutinya mengatakan, ‘Sesungguhnya setan mengetahui apa yang terbetik di dalam hati. Ini bukanlah sesuatu yang mustahil dan mengherankan, karena Allah ‘Azza wa Jallatelah memberi peluang kepada setan untuk merasuk ke hati-hati manusia.
Pendapat kedua, “Orang-orang Mu’tazilah dan yang lainnya mengatakan, ‘Setantidak mengetahui apa yang terbetik di dalam hati seseorang. Apabila seseorang meniatkan dalam hatinya untuk bersedekah atau mengamalkan amalan ketaatan lainnya, maka setan akan melarangnya dan mencegahnya berdasarkan prasangkaan dan dugaannya.
Pendapat ketiga, “Setan merasuk ke dalam hati seseorang, maka ia mengetahui keinginan yang dihasratkan oleh hatinya.”
Kesimpulannya, permasalahan ini masih diperselisihkan di kalangan ulama. Ada yang mengatakan setan sama sekalitidak mengetahui apa yang terbetik dalam hati manusia. Ia hanya menggoda manusia berdasarkan sangkaannya dan memang demikian tugasnya menggoda manusia untuk berbuat kejelekan. Ada pula yang mengatakan setan mengetahui isi hati manusia, namun mereka tidak kuasa untuk memastikan apa yang akan direalisasikan manusia dari niatnya tersebut. Bisa jadi manusia tetap menjalankan kebaikan dan bisa pula mengikuti godaan setan.
Allahu a’lam
Disadur dari: islamweb.net

Materi terkait jin dan setan:

Tags: awas ada setan, penampakan setan, setan genderuwo, setan kuburan, ketemu setan, wajah setan, tempat setan.

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Tuesday, June 21, 2011

Berlindung dari Godaan Setan

Berlindung dari Godaan Setan

21 Juni 2011 | Dibaca : 2865 kali
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
"Apabila kamu membaca al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk." (QS. An-Nahl: 98).
Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya pujian, pujian yang sebaik-baiknya lagi diberkahi. Segala pujian bagi Allah, Zat yang menyeru hamba-Nya menuju pintu-pintu rahmat-Nya, yang memberi kenikmatan dengan menurunkan al-Quran, di dalamnya terdapat petunjuk tatanan kehidupan yang damai dan sejahtera di dunia, dan menjanjikan sebuah kepastian kenikmatan yang sempurna di alam akhirat. Kita memuji-Nya atas kenikmatan-Nya yang banyak, juga atas petunjuk dan kemudahan jalan meraihnya dengan kitab-Nya, semoga kita termasuk orang-orang yang dijanjikan akan meraih kesempurnaan kenikmatan-Nya. Sesungguhnya, membaca al-Quran adalah amalan yang memiliki keutamaan sangat besar. Mereka para pembaca al-Quran adalah kaum yang terpuji, di mana Allah memuji mereka dengan firman-Nya,
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ
لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
"Sesungguhnya, orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." (QS. Fathir: 29-30).
Ada beberapa adab membaca al-Quran, namun tidak akan kita bahas semuanya, hanya terfokus pada firman Allah dalam Surat an-Nahl ayat 98 di atas saja, yaitu perintah ber-isti’adzah, berlindung kepada Allah dari godaan setan saat hendak membacanya. Sekelumit tentang berlindung kepada Allah dari setan serta hal-hal terkait dengannya akan kita sajikan di sini pada edisi kali ini, semoga Allah memudahkannya dan memberkahinya. Amin.
Penjelasan Kata-kata
اَلْقُرْآنَ : ialah kalam (firman) Allah, yang diturunkan dari sisi-Nya ke dalam dada Rasul-Nya, penutup para nabi dan rasul, Muhammad, yang diawali dengan Surat al-Fatihah dan diakhiri dengan Surat an-Nas (Ushulun fit Tafsir, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin).
فَاسْتَعِذْ : ber-isti’adzah-lah kepada Allah, yaitu membaca “at-ta’awwudz”, kalimat berlindung kepada Allah dari godaan setan.
اَللَّهِ : ialah lafzhul jalalah, yaitu sebuah nama khusus bagi Zat yang berhak dipertuhankan oleh segala sesuatu dan yang berhak diibadahi oleh seluruh makhluk-Nya (Taisirul Karimir Rahman, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dan Tafsir ath-Thabari, 1/67), di antaranya sebab Ia adalah Zat yang bersifat melindungi hamba-Nya.
مِنَ الشَّيْطَانِ : dari setan, yaitu dari Iblis dan anak keturunannya serta pengikut-pengikutnya baik dari golongan jin, manusia maupun golongan binatang (Tafsir ath-Thabari, 1/57).
اَلرَّجِيْمِ : yang dilaknat, berarti yang dihalangi dan dijauhkan dari rahmat Allah.
Makna umum ayat
Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan agar siapa saja yang hendak membaca al-Quran, di mana ia merupakan semulia-mulianya dan seagung-agungnya kitab, di dalamnya terdapat kebaikan hati, ilmu pengetahuan agama yang sangat banyak, hendaknya berlindung kepada Allah dari godaan setan dengan ber-isti’adzah. Sebab setan itu sangat kuat kemauannya untuk berusaha sekuat daya upayanya memalingkan hamba dari maksud-maksud dan tujuan-tujuan baiknya ketika ia hendak memulai melakukan amalan-amalan yang utama.
Dan sebagaimana diketahui bahwa membaca al-Quran merupakan amalan yang utama, sehingga jalan keselamatan terhindar dari godaan setan dan kejahatannya adalah dengan bersandar kepada Allah, serta ber-isti’adzah meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatannya. Sehingga Allah pun mensyariatkan agar seorang pembaca al-Qur’an hendaknya meminta perlindungan dengan melafazhkan isti’adzah, disertai tadabbur maknanya, tulus hati bersandar kepada Allah agar tidak dipalingkan hatiya oleh setan dari amalan utamanya tersebut. Disertai kesungguhan dalam usaha menolak was-was serta pikirannya yang hina, bersungguh-sungguh mengerahkan sarana apa saja yang paling kuat sehingga memungkinkan untuk menepis godaannya, dan sarana tersebut adalah dengan berhias diri dengan perhiasan iman dan tawakkal kepada Allah semata (Taisirul Karimir Rahman, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di).
Lafazh-lafazh isti’adzah
Lafazh isti’adzah disebut juga at-ta’awwudz, dan di masyarakat kita istilah “ber-ta’awwudz” lebih dikenal dari pada “ber-isti’adzah”, namun keduanya sama saja dan tidak berbeda maksudnya, yaitu sama-sama bermaksud ber-isti’adzah. Di antara lafazh isti’adzah atau at-ta’awwudz adalah ucapan:
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
"Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk."
Lafazh isti’adzah atau at-ta’awwudz seperti itu merupakan lafazh isti’adzah yang dipegangi dan dikuatkan oleh jumhur (mayoritas) ulama, mereka beralasan lafazh tersebut merupakan lafazh Kitabullah, al-Qur’an, seperti yang jelas terdapat dalam Surat an-Nahl ayat 98 tersebut (sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam al-Qurthubi dalam Tafsir-nya 1/62, dan juga oleh ulama ahli tafsir lainnya).
Ada lafazh isti’adzah yang lain, ialah ucapan:
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
"Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dari kegilaan dan kesombongannya, serta dari syair-syairnya."
Atau lafazh lain yang semisal dengan lafazh tadi hanya ditambah nama di antara nama-nama Allah,
أَعُوْذُ بِاللَّهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
"Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari godaan setan yang terkutuk, dari kegilaan dan kesombongannya, serta dari syair-syairnya." (Tentang lafazh isti’adzah ini lihatlah al-Jami’ li Ahkamil Qur’an oleh Imam al-Qurthubi 1/62, Tafsirul Qur’an al-Azhim oleh Ibnu Katsir 1/111-113, Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hal. 68 dan Irwaul Ghalil, 1/341 keduanya oleh Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani.)
Makna ber-isti’adzah
Ber-isti’adzah artinya adalah membaca salah satu dari lafazh-lafazh isti’adzah atau at-ta’awwudz di atas tatkala hendak membaca al-Quran atau dalam keadaan tertentu yang seseorang berhajat kepada perlindungan Allah dari godaan setan.
Dan orang yang membaca isti’adzah atau ber-ta’awwudz berarti ia telah mengucapkan dengan lisannya, bahwa ia tengah memohon perlindungan kepada Allah, Rabb-nya dan Rabb segala sesuatu, Zat Yang Mahakuasa berbuat segala yang dikehendakinya, Zat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, sesembahannya makhluk yang dahulu maupun yang kemudian, dari kejahatan Iblis yang dijauhkan dan tidak dirahmati oleh Allah, juga dari kejahatan bala tentaranya, baik dari golongan jin maupun manusia (Aisarut Tafasir, Abu Bakar Jabir al-Jazairi, 1/10-11).
Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala dalam tafsirnya mengatakan, “Makna ber-isti’adzah adalah aku sandarkan diriku dengan berlindung kepada Allah supaya dijauhkan dari setan yang terlaknat agar tidak berlaku jahat kepadaku dalam agamaku maupun duniaku, dan agar ia tidak menghalangiku dari melaksanakan apa yang aku diperintahkan, dan agar ia tidak mendorongku untuk melakukan sesuatu yang aku dilarang atasnya, sebab setan itu tidak ada yang kuasa menahannya selain Allah…” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/114).
Ber-isti’adzah itu sebelum atau sesudah membaca al-Quran?
Berkaitan dengan masalah membaca ta’awwudz saat membaca al-Quran, mungkin perlu dipertegas lagi kapankah seseorang itu ber-isti’adzah? Apakah sebelum ataukah sesudah membaca al-Quran?
Ayat nomor 98 dari Surat an-Nahl tersebut zhahirnya jelas sekali menggunakan kata kerja masa lampau, coba kita cermati firman Allah tersebut,
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Kita dapati pada ayat di atas kata kerja «قَرَأْتَ» yang menunjukkan kata kerja bentuk lampau, yang artinya pekerjaannya telah usai. Sehingga ayat di atas berarti “apabila kamu telah usai membaca al-Qur’an…” bukan “apabila kamu hendak membaca al-Qur’an…” bukan pula “apabila kamu sedang membaca al-Qur’an…”
Dari pemahaman zhahir ayat seperti inilah sebagian sahabat dan sebagian ulama berpendapat bahwa ber-isti’adzahitu dilakukan setelah membaca al-Quran, sebab isti’adzah itu untuk menyingkirkan ‘ujub setelah usai beribadah (Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Ibnu Katsir 1/110-111 dan Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Imam al-Qurthubi 1/63). Namun, pendapat ini lemah. Sebab, ini berseberangan dengan hadits-hadits yang menerangkan praktik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ber-isti’adzah. Adapun yang rajih (kuat) adalah apa yang dipegangi oleh jumhur (mayoritas) ulama, yaitu bahwa ber-ta’awwudz itu sebelum membaca al-Quran.
Jumhur ulama mengatakan bahwa isti’adzah itu guna untuk menyingkirkan was-was setan tatkala seseorang tengah beribadah, dan untuk itulah ber-isti’adzah adalah sebelum ia membaca al-Quran. Adapun makna ayat di atas kalimat «إِذَا قَرَأْتَ» itu bermakna “apabila kamu telah berkehendak membaca” sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat al-Maidah ayat 6,
… إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ …
Yang artinya secara zhahir: “Apabila kamu telah tegak untuk mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu”, itu bermakna “apabila kalian sudah berkehendak untuk tegak menuju shalat”. Ayat ini dimaknai demikian berdasarkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berjumlah cukup banyak, sehingga kuatlah pendapat jumhur ulama ini bahwa isti’adzah itu dibaca sebelum membaca al-Quran (sumber yang sama di atas).
Di antara hadits yang menerangkan bahwa isti’adzah itu sebelum membaca al-Quran adalah haditsnya Abu Said al-Khudri radhiallahu anhu yang ia mengatakan, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila shalat malam, beliau pun membaca istiftah (iftitah) dan bertakbir dengan membaca,
سُبْحَانَكَ اللَّهمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَاليَ جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ
“Mahasuci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu, dan begitu melimpah keberkahan nama-Mu, dan Maha Tinggi keagungan dan kebesaran-Mu, dan tidak ada sembahan yang berhak diibadahi selain-Mu.”
Lalu beliau mengucapkan (( لا إله إلا اللَّه )) tiga kali, kemudian beliau membaca,
أَعُوْذُ بِاللَّهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari godaan setan yang terkutuk, dari kegilaannya dan kesombongannya, serta dari syair-syairnya.”
Kemudian beliau membaca (( اللَّه أكبر )) tiga kali, kemudian membaca,
أَعُوْذُ بِاللَّهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari godaan setan yang terkutuk, dari kegilaannya dan kesombongannya, serta dari syair-syairnya.” (Sumber yang sama di atas, lihat juga catatan kaki no. 5, dan Al-Fathur Rabbani, Ahmad Abdurrahman al-Banna ,3/11/504)
Hadits tersebut dan hadits lain yang semakna dengannya, jelas menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu ber-isti’adzah sebelum membaca Surat al-Fatihah, sebab doa istiftah itu dibaca oleh beliau sebelum membaca isti’adzah, dan tidak mungkin beliau membaca al-Fatihah sebelum membaca istiftah, artinya pastilah beliau membaca isti’adzah sebelum membaca al-Fatihah.
Keharusan berlindung kepada Allah dari godaan dan tipu daya setan (Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Ibnu Katsir, 1/110).
Tidak jarang didapati adanya permusuhan antara satu orang dengan orang lain. Dan ternyata permusuhan manusia itu tidak hanya terbatas pada permusuhan antarmanusia itu sendiri, bahkan permusuhan mereka dengan makhluk jenis lain yaitu setan. Setan jenis manusia lebih ringan daripada setan jenis jin. Sehingga Allah-pun memerintahkan agar bersikap pemaaf dan berlemah lembut dahulu menghadapi musuh dari jenis manusia. Allah berfirman,
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A’raf: 199).
Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan manusia untuk menjadi pemaaf, sebab dengan hal itu akan bisa diharapkan kembalinya seseorang pada asal tabiatnya yang baik lagi menyayangi dan lapang dada. Perhatikan juga firman Allah yang lain, misalnya yang tersebut dalam al-Quran surat al-Mu’minun ayat 96, juga surat Fushshilat ayat 34-35, maka akan semakin jelas bahwa Allah memerintahkan agar saling memaafkan dan saling berbuat baik agar tercipta persaudaraan yang saling kasih dan saling sayang.
Namun tidak demikian halnya perintah Allah dalam menghadapi setan dari jenis jin, kita diperintah harus berlindung darinya kepada-Nya semata, hanya itu perintah-Nya tidak ada yang lain. Sebab setan itu tidak akan menerima perlakuan baik sekalipun, sedangkan ia tidak menghendaki dari diri manusia selain kebinasaan semata. Hal ini sebab besarnya permusuhan dan pertentangan antara dia dengan bapak manusia, yaitu Adam alaihis salam, sejak di zaman dahulu kala. Sehingga Allah pun memberi peringatan akan bahaya setan bagi manusia dengan firman-Nya,
يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ
"Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." (QS. Al-A’raf: 27).
Dalam ayat yang lain Allah juga memperingatkan kita, bahwa setan itu adalah musuh bagi kita, maka kita diperintah harus menganggap sebagai musuh. Di antara sebabnya adalah setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (QS. Fathir: 6 dan al-Kahfi: 50).
Ayat-ayat di atas menegaskan tentang siapa itu setan bagi manusia, maka Allah pun mewajibkan agar manusia berlindung kepada-Nya dari tipu dayanya. Tidak lagi Allah perintahkan ramah-tamah atau yang lainnya sebab hal itu tidak akan ada gunanya bagi setan. Memang sejak semula setan hanya berkehendak jahat bagi manusia semuanya, ia berpura-pura tampil sebagai seorang pemberi nasehat, namun ia pun dusta, sebab ia hanya akan mencelakaan semata. Allah sebutkan dalam al-Quran dengan firman-Nya,
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
Iblis menjawab, “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Shad: 82).
Allah mengusir amarah dan setan dari orang yang ber-isti’adzah
Isti’adzah memiliki keutamaan yang sangat besar. Cukuplah bagi kita dua hadits di bawah ini untuk mengetahui kebesaran dan kehebatan isti’adzah tersebut, yaitu untuk mengusir amarah, juga mengusir setan.
Imam al-Qurthubi rahimahullahu ta’ala dalam tafsirnya menyebutkan sebuah hadits (HR. Muslim, 2610 dan Bukhari, 6115, lihat Tafsir al-Qurthubi, 1/63 dalam muqaddimah dan Tafsir Ibnu Katsir, 1/112-113), sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sulaiman bin Shurad, ia mengatakan, “Ada dua laki-laki yang sedang saling mencaci di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka salah satu di antara keduanya pun marah, mukanya memerah, dan padamlah raut wajahnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memandanginya lalu beliau bersabda,
إِنِّي لأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
“Sungguh aku mengetahui sebuah kalimat yang apabila ia mengucapkannya niscaya akan hilanglah darinya (amarahnya itu), yaitu:
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
'Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.'”
Kemudian, ada seseorang yang mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi mendatangi salah seorang dari keduanya (yang saling mencaci,—red.) lalu berkata, “Tahukah kamu apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi? Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sungguh aku mengetahui sebuah kalimat yang apabila ia mengucapkannya niscaya akan hilanglah darinya (amarahnya itu), yaitu:
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Maka, laki-laki tersebut pun mengatakan kepadanya, “Apakah menurutmu aku ini gila?”
Dalam hadits yang lain disebutkan oleh Imam Muslim dari sahabat Utsman bin Abil ‘Ash ats-Tsaqafi rahimahullahu ta’ala, bahwa dia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengadu, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan telah datang dan menggangguku dalam shalatku juga menggangguku dengan mengacaukan bacaanku.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,
ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ وَاتْفُلْ عَنْ يَسَارِكَ ثَلاَثًا
“Itu adalah seorang setan yang disebut Khanzab, maka apabila kamu merasakan kedatangannya berlindunglah kepada Allaoh (ber-ta’awwudz-lah) darinya dan meludahlah ke kiri tiga kali.”
Utsman pun mengatakan, “Aku pun melakukannya, maka Allah pun mengusirnya dariku.” (HR. Muslim, 2203).
Allahu Akbar, Wallahul Musta’an.

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More