Share
div id='fb-root'/>

Kaya tidak diukur dengan banyaknya harta

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bertakwa itu dimana saja

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutkanlah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapuskannya dan berakhlaqlah dengan sesama dengan akhlaq yang baik.”(HR Tirmidzi 1987)

Mudahkan Kesulitan Saudara Kita

“Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”(HR Muslim 2699)

Segeralah Bertaubat

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133)

Bersemangatlah untuk Beramal Shalih

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97)

Showing posts with label naungan Allah. Show all posts
Showing posts with label naungan Allah. Show all posts

Sunday, April 29, 2012

Betapa Berharganya Hidayah Allah

Seberapa besarkah kebutuhan kita kepada hidayah? Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan setidaknya ada 10 alasan yang melatarbelakangi doa yang senantiasa kita panjatkan dalam sholat kita. Yaitu doa meminta hidayah. Beliau memaparkan:

Barangsiapa yang mencermati segala kerusakan yang menimpa alam semesta secara umum maupun khusus, niscaya dia akan menemukan bahwa itu semua muncul dari dua sumber utama ini (yaitu akibat kelalaian dan memperturutkan hawa nafsu, pent).

Adapun kelalaian, maka ia akan menghalangi seorang hamba dari mengetahui kebenaran sehingga membuatnya tergolong orang yang sesat. Adapun memperturutkan hawa nafsu akan memalingkannya dari mengikuti kebenaran sehingga membuatnya termasuk golongan orang yang dimurkai. Sedangkan orang yang dikaruniai nikmat itu adalah orang-orang yang diberi anugerah ilmu tentang kebenaran dan ketundukan untuk melaksanakannya serta mendahulukan hal itu di atas selainnya. Mereka itulah orang-orang yang berada di atas jalan keselamatan. Adapun selain mereka adalah orang-orang yang berada di atas jalan kehancuran.

Oleh sebab itulah Allah memerintahkan kita untuk mengucapkan setiap sehari semalam berkali-kali, “Ihdinash shirathal mustaqim, shirathalladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wa lad dhaalliin.” Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka. Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang sesat.” (QS. al-Fatihah: 5-7)

Karena sesungguhnya seorang hamba sangat-sangat membutuhkan pengetahuan terhadap apa saja yang bermanfaat baginya dalam kehidupan dunia dan akheratnya. Sebagaimana dia juga sangat-sangat membutuhkan keinginan yang kuat sehingga bisa mendahulukan urusan yang bermanfaat baginya itu serta sebisa mungkin menjauhi segala hal yang membahayakan dirinya.

Dengan terkumpulnya kedua perkara ini maka sungguh dia telah mendapat petunjuk menuju jalan yang lurus itu. Apabila dia kehilangan ilmu tentangnya maka dia akan menempuh jalan orang-orang yang sesat. Dan apabila dia kehilangan tekad dan keinginan untuk mengikutinya maka dia telah menempuh jalan orang-orang yang dimurkai. Dengan begitu bisa diketahui betapa agung kedudukan doa ini dan betapa besar kebutuhan hamba terhadapnya, karena kebahagiaan hidup di dunia dan akherat semuanya tergantung pada hal ini.

Setiap hamba senantiasa membutuhkan hidayah dalam setiap waktu dan tarikan nafas, dalam segala urusan yang dia lakukan atau pun dia tinggalkan, karena sesungguhnya dia berada di antara berbagai keadaan yang dia pasti diliputi olehnya:

Pertama, hal-hal yang telah dia lakukan akan tetapi tidak mengikuti petunjuk akibat kebodohannya, maka dalam keadaan ini dia butuh untuk mencari hidayah kepada kebenaran dalam hal itu.

Kedua, dia sudah mengetahui hidayah dalam masalah itu, akan tetapi dia sengaja melanggarnya, maka dalam keadaan ini dia butuh untuk bertaubat dari kesalahannya.

Ketiga, hal-hal yang memang tidak diketahuinya baik ilmu maupun amalan yang benar padanya, sehingga dia pun kehilangan hidayah untuk mengilmui sekaligus mengamalkannya.

Keempat, hal-hal yang memang dia telah memperoleh sebagian hidayah dalam urusan itu akan tetapi belum sempurna, maka dia butuh untuk mendapatkan hidayah yang sempurna padanya.

Kelima, hal-hal yang dia telah mendapatkan hidayah terhadap pokok kebenaran dalam hal itu secara global saja, maka dia pun masih membutuhkan hidayah terhadap rincian-rinciannya.

Keenam, dia telah mendapatkan hidayah ‘menuju’ jalan yang lurus itu, maka dia pun masih membutuhkan hidayah untuk bisa berjalan ‘di atasnya’. Karena hidayah ‘menuju’ jalan itu lain, sedangkan hidayah ‘di atas’ jalan itu sesuatu yang lain lagi. Bukankah anda bisa melihat bahwasanya  seseorang bisa jadi telah mengetahui bahwa jalan menuju negeri anu adalah jalan ini dan itu. Meskipun demikian dia tidak sanggup untuk menempuhnya. Karena untuk bisa menempuh jalan itu masih memerlukan hidayah yang lebih khusus lagi untuk bisa berjalan di atasnya. Seperti misalnya dengan melakukan perjalanan di waktu ini bukan di waktu yang itu, kemudian mengambil air di jarak sekian dengan jumlah sekian, lalu singgah di tempat ini bukan di tempat yang itu. Inilah hidayah yang dibutuhkan untuk bisa menempuh jalan itu yang terkadang diabaikan oleh orang yang sudah mengetahui jalan tersebut, sehingga dia pun gagal dan tidak berhasil mencapai tujuan.

Ketujuh, dia juga membutuhkan hidayah untuk hal-hal yang terkait dengan masa depannya sebagaimana yang dia dapatkan pada waktu yang telah berlalu.

Kedelapan, perkara-perkara yang dia tidak bisa meyakini apa yang benar dan batil dalam hal itu, oleh sebab itu dia masih membutuhkan hidayah kepada keyakinan yang benar di dalamnya.

Kesembilan, perkara-perkara yang telah diyakini olehnya bahwa dia berada di atas petunjuk akan tetapi sebenarnya dia berada di atas kesesatan dalam keadaan tidak menyadarinya. Dengan demikian dia membutuhkan hidayah dari Allah untuk bisa meninggalkan keyakinan tersebut.

Kesepuluh, hal-hal yang telah dia lakukan sebagaimana hidayah yang sebenarnya, maka dia pun masih membutuhkan hidayah untuk bisa berbagi hidayah itu kepada selainnya, agar bisa membimbing dan mengarahkannya. Karena apabila dia melalaikan hal itu niscaya dia akan kehilangan hidayah sekadar dengan kelalaiannya tadi. Sesungguhnya balasan itu serupa dengan jenis amalan. Semakin dia berjuang dalam memberikan hidayah dan ilmu kepada orang lain maka semakin besar perhatian Allah dalam memberikan hidayah dan ilmu kepada dirinya, sehingga dia akan bisa menjadi orang yang mendapat hidayah dan menyebarkannya.

Hal itu sebagaimana dalam doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan selainnya, “Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan iman, dan jadikanlah kami orang yang memberikan hidayah dan terus diberi hidayah, tidak sesat dan tidak pula menyesatkan. Mendatangkan keselamatan kepada wali-wali-Mu dan memerangi musuh-musuh-Mu. Dengan cinta-Mu Kami mencintai orang yang mencintai-Mu. Dengan permusuhan-Mu kami akan memusuhi siapa saja yang menentang-Mu.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab ad-Da’awat sanadnya dilemahkan Syaikh al-Albani, tetapi sisi pendalilan dari hadits ini didukung oleh hadits yang lain)

Diterjemahkan secara bebas dari:
Risalah Ibnul Qayyim ila Ahadi Ikhwanihi (hal. 5-10)
Penerbit Dar ‘Alam al-Fawa’id
tahqiq Abdullah bin Muhammad al-Mudaifir
isyraf Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid

Artikel Muslim.Or.Id


Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Sunday, November 27, 2011

Dimana Engkau Pemuda?

Kemana kah Engkau Pemuda?


Pemuda, adalah masa yang sangat berharga. Ia berada di tengah dua kondisi lemah; yaitu masa kecil dan masa tua. Sebuah kesempatan emas bagi seorang insan untuk mengukir prestasi dan meraup limpahan pahala. Masa muda tentu tidak layak untuk disia-siakan. Melewatkan masa muda dengan kesia-siaan adalah sebuah kerugian.

Panutan kita Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya maka akan dipahamkan dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim). Nah, mari kita lihat kondisi banyak kaum muda. Apakah mereka tergolong orang-orang yang memahami ajaran agamanya, ataukah justru sebaliknya?

Satu tanda saja, mungkin cukup sebagai gambaran. Bagaimana keadaan para pemuda dan kedekatan mereka dengan Kitab sucinya? Padahal, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur'an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Berapa banyakkah pemuda yang menggabungkan kedua sifat ini; tekun mempelajari al-Qur'an dan juga mengajarkan ilmunya kepada sesama?

Belum lagi soal pengamalannya. Kalau kita cermati, banyak sekali para pemuda yang telah menjauhi al-Qur'an dan tidak lagi memegang teguh ajarannya. Padahal, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallambersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat sebagian orang dengan Kitab ini, dan akan merendahkan sebagian yang lain karenanya pula.” (HR. Muslim)

Ya, masa muda memang begitu melenakan. Karena di masa muda kesempatan dan kekuatan berpadu pada diri seorang insan. Sehingga dengan leluasa berbagai aktifitas akan bisa dilakukannya. Namun pada kenyataannya, lebih banyak orang yang terpedaya dan tidak pandai mensyukurinya. Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah nikmat yang kebanyakan orang terpedaya karenanya; kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

Dimanakah para pemuda? Ketika masjid-masjid kosong dan sepi dari jama'ahnya? Tidakkah mereka ingin termasuk golongan orang yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat tiba? Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan, “Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya...” Di antaranya kata beliau, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Tuhannya.” Dan “Seorang lelaki yang hatinya bergantung di masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dimanakah para pemuda? Tatkala waktu sholat tiba sementara tak ada alunan adzan di masjid kampung mereka? Padahal, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memotivasi kita dengan sabdanya,“Para mu'adzin adalah orang-orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

Dimanakah para pemuda? Tatkala majelis-majelis ilmu dibuka dan para pengajar sudi mengajarkan ilmunya tanpa mengharapkan imbalan sedikit pun dari perkara dunia? Padahal, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh jalan dalam rangka menimba ilmu (agama) niscaya Allah mudahkan untuknya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Dimanakah para pemuda? Ketika kesempatan untuk beramal dan bekerja sama dalam kebaikan dibuka lebar-lebar untuk mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun telah mengingatkan,“Bersegeralah beramal sebelum datang fitnah-fitnah laksana potongan malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seorang masih beriman namun di sore harinya menjadi kafir, atau di sore hari beriman namun pagi harinya menjadi kafir. Dia menjual agamanya demi merasakan kesenangan dunia.” (HR. Muslim)

Dimanakah para pemuda? Ketika musuh-musuh Islam bahu-membahu membobol benteng pertahanan kaum muslimin dengan budaya yang merusak dan pemikiran yang menyimpang. Apakah mereka teguh membela Sunnah dan tetap beribadah kepada Tuhannya, ataukah mereka justru larut dengan dosa dan lebih mendahulukan hawa nafsunya? Sementara qudwah/teladan kita shallallahu 'alaihi wa sallamtelah menegaskan, “Teguh beribadah di saat berkecamuknya fitnah/kekacauan -memiliki keutamaan yang sangat besar- seperti berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim)

Dimanakah para pemuda? Ketika kebenaran semakin terasing dan dipinggirkan dari peradaban manusia. Apakah mereka termasuk orang yang membela dan memperjuangkannya? Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti permulaannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim)

Dimanakah para pemuda? Ketika perbuatan-perbuatan keji dipromosikan dan dijajakan oleh musuh-musuh Islam melalui berbagai sarana. Apakah mereka telah binasa menjadi mangsa olehnya? Suatu ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam“Apakah kami akan dibinasakan sedangkan di tengah-tengah kami banyak orang salih?”. Beliau menjawab, “Iya, apabila kekejian telah merajalela.” (HR. Muslim)

Dimanakah para pemuda? Ketika kelalaian telah menjadi trend dan gaya hidup yang mendominasi generasi muda, apakah mereka termasuk orang yang tetap mengingat dan berzikir kepada-Nya. Padahal, Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat Tuhannya, seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.” (HR. Bukhari)

Dimanakah para pemuda? Ketika heningnya suasana menghanyutkan waktu kesendirian seorang hamba, apakah dia juga tetap lekat dengan zikir dan taubat kepada-Nya? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan bahwa di antara tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah di hari kiamat adalah, “Seorang lelaki yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu berlinanglah air matanya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Dimanakah para pemuda? Ketika orang-orang berlomba-lomba untuk menampakkan amalannya karena  mengejar pujian dan sanjungan manusia. Apakah dia termasuk orang yang ikhlas beramal karena mengharap wajah-Nya? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan juga bahwa di antara tujuh golongan yang mendapatkan naungan di hari kiamat adalah, “Seorang lelaki yang bersedekah dengan sesuatu dan berupaya menyembunyikannya. Sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim

Dimanakah para pemuda? Ketika dakwah tauhid dilecehkan dan dijauhi oleh manusia gara-gara provokasi kaum nan durjana dan propaganda para penyeru ke pintu-pintu neraka. Padahal Allah ta'alaberfirman (yang artinya), “Dan siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru kepada Allah serta beramal salih, dan dia juga berkata, 'Sesungguhnya aku ini termasuk orang-orang yang pasrah/muslim.” (QS. Fushshilat: 33)

Dimanakah para pemuda? Ketika pertikaian dan perpecahan telah mendarah daging di tengah-tengah manusia, apakah mereka termasuk orang yang memenuhi seruan Allah (yang artinya), “Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah, dan jangan kalian berpecah-belah.” (QS. Ali Imran: 103)

Para pemuda, yang konsisten dengan ajaran agamanya itulah yang kita dambakan. Bukan pemuda yang tidak peduli dan mengabaikan perintah dan larangan Tuhannya. Bukan pula pemuda yang terjebak oleh pandangan ekstrim dalam beragama, yang melampaui batas dan menjadi biang kekacauan di mana-mana. Pemuda muslim yang menjadi simbol ketakwaan dan keadilan. Itulah sosok pemuda idaman.

Sebab dengan ketakwaan itulah seorang pemuda menjadi berharga dan mulia. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.”(QS. al-Hujurat: 13). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memperhatikan rupa dan harta kalian. Akan tetapi Allah memandang kepada hati dan amalan kalian.”(HR. Muslim)

Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kebencianmu kepada suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil kepada mereka. Berbuat adillah, karena keadilan itu lebih mendekati kepada takwa.”(QS. al-Maa'idah: 8). Dan keadilan tertinggi yang harus dibela dan ditegakkan oleh seorang pemuda di dalam diri dan masyarakatnya adalah tauhid. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)

Tatkala seorang pemuda telah menyadari betapa besar peranannya di dalam masyarakat ini, maka sudah selayaknya dia terlebih dulu memperbaiki dirinya sendiri sebelum berusaha memperbaiki orang lain. Bukankah Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra'd: 11). Allah ta'ala juga berfirman (yang artinya), “Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri?” (QS. al-Baqarah: 44)

Untuk itu sangat diperlukan ketulusan niat dan kebulatan tekad. Karena niat yang tidak ikhlas akan membuat jerih payah dan tenaga yang terkuras menjadi sia-sia. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallambersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu dinilai dengan niatnya. Dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Allah ta'ala juga telah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Tuhannya dengan sesuatu apapun.”(QS. al-Kahfi: 110)

Seorang pemuda harus menyadari bahwa kehidupan di alam dunia yang hanya sementara ini memiliki tujuan yang jelas. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56). Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. Ali Imran: 102)

Seorang pemuda harus berjuang menjadi insan yang istiqomah. Tegar di atas kebenaran dan tidak hanyut dengan penyimpangan yang melanda kebanyakan orang. Allah ta'ala berfirman (yang artinya),“Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. al-An'aam: 116).

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam ucapan dan perbuatan, hamba yang benar-benar mengabdi kepada-Nya dan menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama, dengan ilmu dan dakwah kepada mereka. Wa shallallahu 'ala nabiyyina Muhammadin wa 'ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil 'alamin.

oleh: Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Monday, October 31, 2011

Pemuda yang Mendapatkan Naungan Allah Ta’ala

Masa muda merupakan masa sempurnanya pertumbuhan fisik dan kekuatan seorang manusia. Maka ini merupakan nikmat besar dari Allah Ta’ala yang seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-sebaiknya untuk amal kebaikan guna meraih ridha Allah Ta’ala. Dan sebagimana nikmat-nikmat besar lainnya dalam diri manusia, nikmat inipun nantinya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

{أَلا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ. لِيَوْمٍ عَظِيمٍ. يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ}
Tidakkah mereka itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar (dasyat), (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam (Allah Ta’ala)” (QS al-Muthaffifiin: 4-6).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan bergesar kaki seorang manusia dari sisi Allah, pada hari kiamat (nanti), sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang lima (perkara): tentang umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanyadigunakan untuk apa, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta bagaimana di mengamalkan ilmunya”[1].
Akan tetapi bersamaan dengan itu, masa muda adalah masa yang penuh dengan godaan untuk memperturutkan hawa nafsu. Seorang pemuda yang sedang dalam masa pertumbuhan fisik maupun mental, banyak mengalami gejolak dalam pikiran maupun jiwanya, yang ini sering menyebabkan dia mengalami keguncangan dalam hidup dan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari berbagai masalah tersebut[2].
Dalam kondisi seperti ini, tentu peluang untuk terjerumus ke dalam keburukan dan kesesatan yang dibisikkan oleh setan sangat besar sekali, apalagi Iblis yang telah bersumpah di hadapan Allah Ta’ala bahwa dia akan menyesatkan manusia dari jalan-Nya dengan semua cara yang mampu dilakukannya, tentu dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Allah Ta’ala berfirman,
{قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ. ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ}
Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) manusia dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)” (QS al-A’raaf: 16-17).
Di sinilah terlihat peran besar agama Islam sebagai petunjuk yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada umat manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka di dunia dan akhirat.
Agama Islam sangat memberikan perhatian besar kepada upaya perbaikan mental para pemuda. Karena generasi muda hari ini adalah para pemeran utama di masa mendatang, dan mereka adalah pondasi yang menopang masa depan umat ini.
Oleh karena itulah, banyak ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menghasung kita untuk membina dan mengarahkan para pemuda kepada kebaikan. Karena jika mereka baik maka umat ini akan memiliki masa depan yang cerah, dan generasi tua akan digantikan dengan generasi muda yang shaleh, insya Allah[3].
Pemuda yang dijanjikan akan mendapatkan naungan Allah Ta’ala
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ … وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ رَبِّهِ»
Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah …”[4].
Hadits yang agung ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Islam terhadap hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi seorang pemuda muslim sekaligus menjelaskan keutamaan besar bagi seorang pemuda yang memiliki sifat yang disebutkan dalam hadits ini.
Syaikh Salim al-Hilali berkata: “(Hadits ini menunjukkan) keutamaan pemuda yang tumbuh dalam dalam ketaatan kepada Allah, sehingga dia selalu menjauhi perbuatan maksiat dan keburukan”[5].
Imam Abul ‘Ula al-Mubarakfuri berkata: “(Dalam hadits ini) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhusukan (penyebutan) “seorang pemuda” karena (usia) muda adalah (masa yang) berpotensi besar untuk didominasi oleh nafsu syahwat, disebabkan kuatnya pendorong untuk mengikuti hawa nafsu pada diri seorang pemuda, maka dalam kondisi seperti ini untuk berkomitmen dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah (tentu) lebih sulit dan ini menunjukkan kuatnya (nilai) ketakwaan (dalam diri orang tersebut)”[6].
Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ»
“Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memliki shabwah”[7].
Artinya: pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, dengan dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan[8].
Inilah sosok pemuda muslim yang dicintai oleh Allah Ta’ala dan pandai mensyukuri nikmat besar yang Allah Ta’ala anugrahkan kepadanya, serta mampu berjuang menundukkan hawa nafsunya pada saat-saat tarikan nafsu sedang kuat-kuatnya menjerat seorang manusia. Ini tentu merupakan hal yang sangat sulit dan berat, maka wajar jika kemudian Allah Ta’ala memberikan balasan pahala dan keutamaan besar baginya.
Bimbingan Islam untuk meluruskan akhlak para pemuda
Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin berkata, “Sesungguhnya sebab-sebab (yang mendukung terjadinya) penyimpangan dan (banyak) masalah (di kalangan) para pemuda sangat banyak dan bermacam-macam, karena manusia di masa remaja akan mengalami pertumbuhan besar pada fisik, pikiran dan akalnya. Karena masa remaja adalah masa pertumbuhan, sehingga timbullah perubahan yang sangat cepat (pada dirinya). Oleh karena itulah, dalam masa ini sangat dibutuhkan tersedianya sarana-sarana untuk membatasi diri, mengekang nafsu dan pengarahan yang bijaksana untuk menuntun ke jalan yang lurus”[9].
Kemudian syaikh al-‘Utsaimin menjelaskan sebab-sebab yang harus ditempuh untuk memperbaiki ahklak para pemuda berdasarkan petunjuk agama Islam[10], di antaranya adalah:
1. Memanfaatkan waktu luang secara maksimal
Waktu luang bisa menjadi penyakit yang membinasakan pikiran, akal dan potensi fisik manusia, karena diri manusia harus beraktifitas dan berbuat. Jika diri manusia tidak beraktifitas maka pikirannya akan beku, akalnya akan buntu dan aktifitas dirinya akan lemah, sehingga hatinya akan dikuasai bisikan-bisikan pemikiran buruk, yang terkadang akan melahirkan keinginan-keinginan buruk…
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»
“Ada dua nikmat (dari Allah Ta’ala) yang kurang diperhatikan oleh banyak manusia (yaitu) kesehatan dan waktu luang”[11].
Untuk mengatasi hal ini, hendaknya seorang pemuda berupaya (untuk mengisi waktu luangnya) dengan kegiatan yang cocok (dan bermanfaat) untuknya, seperti membaca, menulis, berwiraswasta atau kegiatan lainnya, untuk menghindari kekosongan aktifitas dirinya, dan menjadikannya sebagai anggota masyarakat yang berbuat (kebaikan) untuk dirinya dan orang lain.
2. Memilih teman bergaul yang baik
Hal ini sangat mempengaruhi akal, pikiran dan tingkah laku para pemuda. Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
المرء على دين خليله، فلينظر أحدكم من يخالل
“Seorang manusia akan mengikuti agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang darimu melihat siapa yang dijadikan teman dekatnya”[12].
Dalam hadits lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan teman duduk (bergaul) yang baik dan teman duduk (bergaul) yang buruk (adalah) seperti pembawa (penjual) minyak wangi dan peniup al-kiir (tempat menempa besi), maka penjual minyak wangi bisa jadi dia memberimu minyak wangi, atau kamu membeli (minyak wangi) darinya, atau (minimal) kamu akan mencium aroma yang harum darinya. Sedangkan peniup al-kiir (tempat menempa besi) bisa jadi (apinya) akan membakar pakaianmu atau (minimal) kamu akan mencium aroma yang tidak sedap darinya”[13].
Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan duduk dan bergaul dengan orang-orang yang baik akhlak dan tingkah lakunya, karena pengaruh baik yang ditimbulkan dengan selalu menyertai mereka, sekaligus menunjukkan larangan bergaul dengan orang-orang yang buruk akhlaknya dan pelaku maksiat karena pengaruh buruk yang ditimbulkan dengan selalu menyertai mereka[14].
Oleh karena itu, hendaknya seorang pemuda berusaha mencari teman bergaul orang-orang yang baik dan shaleh serta berakal, agar dia bisa mengambil manfaat dari kebaikan, keshalehan dan akalnya. Maka hendaknya seorang pemuda menimbang keadaan orang-orang yang akan dijadikan teman bergaulnya, dengan meneliti keadaan dan akhlak mereka.
3. Memilih sumber bacaan yang baik dan bermanfaat
Mengkonsumsi sumber-sumber bacaan yang merusak, baik berupa artikel, surat kabar, majalah dan lain-lain, akan menyebabkan pendangkalan akidah dan agama seseorang, serta menjerumuskannya ke dalam jurang kebinasaan, kekafiran dan keburukan akhlak. Khususnya jika pemuda tersebut tidak memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat dan pola pikir yang benar untuk dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, serta yang bermanfaat dan membinasakan.
Untuk mengatasi masalah ini, hendaknya seorang pemuda menjauhi sumber-sumber bacaan tersebut, dan beralih kepada sumber-sumber bacaan lain yang akan menumbuhkan dalam hatinya kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menyuburkan keimanan dan amal shaleh dalam dirinya. Dan hendaknya dia bersabar dalam melakukan semua itu, karena hawa nafsunya akan menuntut dia dengan keras untuk kembali membaca bacaan-bacaan yang telah biasa dikonsumsinya, dan menjadikannya bosan serta jenuh untuk membaca bacaan-bacaan lain yang bermanfaat. Ibaratnya seperti orang yang berusaha melawan hawa nafsunya untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah, tapi nafsunya enggan dan selalu ingin melakukan perbuatan yang sia-sia dan salah.
Sumber bacaan bermanfaat yang paling penting adalah al-Qur’an dan kitab-kitab tafsir yang berisi riwayat-riwayat tafsir yang shahih dan penafsiran akal yang benar. Demikian juga hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama ahlus sunnah berdasarkan dua sumber hukum Islam ini.
Penutup
Demikianlah, semoga tulisan ringkas ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi kaum muslimin, terutama para pemuda, untuk mengusahakan kebaikan bagi dirinya dan membiasakan dirinya untuk selalu menetapi amal shaleh dan ibadah kepada Allah Ta’ala, agar mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan keutamaan dan kemuliaan besar dari Allah Ta’ala, sebagimana dalam hadits-hadits yang tersebut di atas.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 13 Jumadal ula 1432 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Artikel www.manisnyaiman.com

[1] HR at-Tirmidzi (no. 2416) dan lain-lain, dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani.
[2] Lihat keterangan syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam kitab “Min musykilaatisy syabaab” (hal. 5).
[3] Ibid (hal. 6).
[4] HSR al-Bukhari (no. 1357) dan Muslim (no. 1031).
[5] Kitab “Bahjatun naazhiriin” (1/445).
[6] Kitab “Tuhfatul ahwadzi” (7/57).
[7] HR Ahmad (2/263), ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabir” (17/309) dan lain-lain, dinyatakan shahih dengan berbagai jalurnya oleh syaikh al-Albani dalam “ash-Shahiihah” (no. 2843).
[8] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/263).
[9] Kitab “Min musykilaatisy syabaab” (hal. 12).
[10] Ibid (hal. 12-16) dengan ringkas dan tambahan dari penulis.
[11] HSR al-Bukhari (no. 6049).
[12] HR Abu Dawud (no. 4833), at-Tirmidzi (no. 2378) dan al-Hakim (4/189), dinyatakan shahih oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, serta dihasankan oleh syaikh al-Albani.
[13] HSR al-Bukhari (no. 5214) dan Muslim (no. 2628).
[14] Lihat kitab “Syarhu shahiihi Muslim” (16/178) dan “Faidhul Qadiir” (3/4).
  • bebo
  • delicious
  • digg
  • dzone
  • facebook
  • google_buzz
  • mixx
  • reddit
  • stumble
  • technorati
  • tumblr
  • twitter
  • yahoo_buzz
  • rss
  • print
  • bookmark
  • email

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More