Share
div id='fb-root'/>

Tuesday, November 15, 2011

Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Share on :


Masjid 73
Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari Kiamat.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, “Ketika aku dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari masjid, kami bertemu dengan seorang laki-laki di pintu masjid. Orang itu bertanya, “Wahai Rasulullah, kapankah terjadinya Hari Kiamat? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Apakah yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”
Laki-laki itu terdiam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak punya persiapan yang banyak, baik amalan sholat, puasa maupun shodaqoh. Tapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Engkau akan bersama dengan siapa yang engkau cintai.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6171, dan Muslim, no. 2639).
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Tidak ada yang lebih membahagiakan kami setelah Islam, selain ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2639).
Kaum muslimin yang kami muliakan, mengapa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan kegembiraan yang luar biasa ketika mendengar hadits ini?! Sampai-sampai Anas bin Malik menggambarkan bahwa para sahabat belum pernah merasakan kegembiraan setelah masuk Islam melebihi kegembiraan mereka mendengar hadits ini.
Sesungguhnya cinta yang tulus dari seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya akan mampu menghantarkannya kepada kedudukan yang tinggi, yang mungkin tidak bisa dicapai dengan amal semata. Sebab, amal seorang hamba sering kali dihinggapi oleh penyakit, kelalaian, dan berbagai kekurangan. Terkadang dia beramal dengan ikhlash di awal, kemudian mulai timbul sifat ujub atau riya’ yang kemudian merusak amalnya. Lain halnya dengan kecintaan yang tulus pada Allah dan Rasul-Nya, yang akan mengganti dan menyempurnakan kekurangan pada amalnya. Amalan yang ringan akan menjadi berat nilainya di sisi Allah Ta’ala dengan sebab cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan menjadikan pemiliknya layak menduduki derajat yang tinggi.
Dengan sebab cinta pula, Allah akan mengumpulkan orang yang mencintai dengan yang dicintainya. Oleh karena itulah, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang lain merasa begitu bahagia mendengar hadits ini. Dan dengan gembiranya, Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Maka aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa berkumpul bersama mereka walaupun aku tidak bisa beramal seperti mereka.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2639).
Kewajiban Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian hingga aku lebih ia cintai dari pada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 14)
‘Abdullah bin Hisyam radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ،
فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِي،
فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
لاَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ،
فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: فَإِنَّهُ الآنَ وَاللهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِيْ،
فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الآنَ يَا عُمَرُ

“Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memegang tangan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Lalu Umar berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak wahai ‘Umar, demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, (tidak sempurna keimananmu) hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Kemudian ‘Umar berkata, “Sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Saat ini pula (imanmu telah sempurna) wahai Umar.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6632)
Mengapa kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam harus lebih kita dahulukan dari pada kecintaan kita kepada diri kita sendiri? Berikut ini penjelasannya.
Syihabuddin Al-Alusi rahimahullah ketika membaca firman Allah Ta’ala:

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ (6)

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ahzab: 6).
Beliau mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan sesuatu dan melarang sesuatu pada umatnya melainkan pasti ada maslahat dan mendatangkan keselamatan bagi mereka. Berbeda dengan jiwa mereka sendiri. (Karena) jiwa itu senantiasa mengajak pada keburukan.” (Ruhul Ma’ani, 16/42).
Oleh karena itulah Nabi harus lebih kita cintai dari pada diri kita sendiri.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah mengetahui tentang kasih sayang dan nasehat Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Oleh karena itu, sudah selayaknya beliau lebih diutamakan oleh orang-orang yang beriman dari pada diri mereka sendiri…” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, Surat Al-Ahzab: 6).
Wujud Cinta Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Berikut ini adalah sebagian di antara bukti kecintaan yang hakiki kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:
Pertama : Meyakini bahwa Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan Beliau adalah Rasul yang jujur dan terpercaya sehingga tidak boleh didustakan. Kita juga beriman bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi yang terakhir dan penutup para Nabi. Oleh karena itu, setiap orang yang mengaku-ngaku sebagai Nabi sesudah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, pengakuannya adalah dusta, palsu dan batil. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syeikh ‘Utsaimin hal: 137, dan selainnya)
Kedua : Menaati perintah dan menjauhi larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوْا (7)

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7).
Pada ayat yang lainnya, Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ (80)

“Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisa: 80)
Ketiga : Membenarkan semua berita yang beliau sampaikan, baik itu berupa berita-berita yang telah terjadi di masa silam maupun yang belum terjadi di masa yang akan datang. Karena berita-berita itu adalah wahyu yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى (4)

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu, menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)
Keempat : Beribadah kepada Allah dengan tata-cara yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa ditambah-tambahi ataupun dikurangi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ (21)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Merupakan kemaksiatan yang besar apabila seorang hamba meninggalkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membuat tata cara ibadah sendiri dengan anggapan bahwa ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kita sudah tidak sesuai dengan zaman sekarang sehingga perlu kita tambahi atau kita koreksi. Ini suatu kelancangan yang besar.
Berpegang teguh kepada sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam beramal adalah suatu keharusan, karena Allah Ta’ala tidak akan menerima amal apa pun dari hamba-Nya jika amalnya tidak sesuai dengan ajaran Nabi-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 1718)
Kelima : Membela beliau tatkala masih hidup, dan membela ajarannya setelah beliau wafat. Hal ini kita lakukan dengan cara mempelajari, mengamalkan dan menyebarkan ajaran beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Muroja’ah : Ust. Ammi Nur Baits
Nas alullaaha wal 'aafiyah.

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More