Share
div id='fb-root'/>

Kaya tidak diukur dengan banyaknya harta

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bertakwa itu dimana saja

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutkanlah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapuskannya dan berakhlaqlah dengan sesama dengan akhlaq yang baik.”(HR Tirmidzi 1987)

Mudahkan Kesulitan Saudara Kita

“Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”(HR Muslim 2699)

Segeralah Bertaubat

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133)

Bersemangatlah untuk Beramal Shalih

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97)

Monday, February 27, 2012

Inilah Dosa-dosa yang Disegerakan Azabnya

Sesungguhnya perbuatan dosa bisa mematikan hati dan melemahkan jiwa, hal ini dikarenakan jika seorang hamba berbuat dosa maka ada noktah hitam yang melekat di hatinya, jika bertambah dosanya, bertambah pula noktah hitam di hatinya, hingga tidaklah seorang hamba membiasakan dosa, kecuali hatinya menjadi hitam pekat, sehingga cahaya kebenaran sulit menembus dan menerangi hatinya.
Tetapi, dosa itu bertingkat-tingkat, ada yang ditangguhkan balasannya pada hari kiamat dan ada pula yang disegerakan di dunia sebelum di akhirat, maka pada edisi kali ini, akan kami paparkan untuk para pembaca, di antara dosa-dosa yang disegerakan balasannya di dunia sebelum di akhirat, supaya kita –kaum muslimin- bisa terhindar dan tidak terjatuh di dalamnya.
1.      Rakus dan tamak terhadap dunia
Berlebihan dalam mengejar dunia bisa menyeret pelakunya dalam kebinasaan dan kesedihan, Allohpun menghadiahkan untuknya dua balasan yang disegerakan di dunia, yang pertama : Alloh cerai-beraikan urusannya, dan yang kedua : Alloh jadikan dia terpuruk dalam kefakiran dan terputus dari sifat qona’ah, hal ini sebagaimana sabda Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Barangsiapa menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya, maka Alloh akan jadikan kekayaan ada dalam hatinya, Alloh himpun kekuatannya, dan dunia akan menghampirinya, sedang ia tidak menginginkannya, dan (sebaliknya) barangsiapa menjadikan dunia sebagai cita-citanya, Alloh jadikan kefakiran ada di depan matanya, Alloh cerai beraikan urusannya dan dunia tidak menghampirinya kecuali apa yang sudah Alloh takdirkan untuknya. (HR. at-Tirmidzi : 2465 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah L 949)
2.      Dzolim dan Durhaka kepada orang tua
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Ada dua pintu (amalan) yang disegerakan balasannya di dunia; kedzoliman dan durhaka (pada orang tua). (HR. Hakim dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah : 1120)
Hal ini dikarenakan terkabulnya doa orang tua, apalagi di saat orang tua terdzolimi, kemudian ia menengadahkan tangannya ke langit, mengadukan sakit hatinya kepada Alloh, maka doa orang tua ini akan bergerak dan berhembus menuju angkasa, menembus awan, mencapai langit, dan diamini oleh para malaikat, kemudian AllohTa’ala mengabulkannya .. Maka berhati-hatilah wahai kaum muslimin dari berbuat dzolim dan durhaka kepada kedua orang tua!
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Tiga doa yang tidak tertolak : doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa orang yang terdzolimi. (HR. al-Baihaqi dalam Sunan Kubro : 6185 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah : 1797)
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
Takutlah terhadap doa orang yang terdzolimi, karena ia akan terbang di atas awan, kemudian Alloh berkata : ‘Demi kemuliaan dan kebesaranKu, Aku pasti menolongmu meskipun setelah berlalunya waktu’. (Dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Jami’ : 117)
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
Takutlah terhadap doa orang yang terdzolimi, karena ia akan terbang menuju langit. (Dishohihkan al-Albani dalamShohih al-Jami’ : 118)
Hal ini juga menunjukkan betapa agungnya hak kedua orang tua kita, sampai-sampai Alloh meletakkan kewajiban berbakti kepada kedua orang tua setelah kewajiban menyembah kepadaNya, Alloh Ta’ala berfirman ;
Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu. (QS. an-Nisa’ : 36)
3.      Meninggalkan dakwah (amar ma’ruf dan nahi mungkar).
Dakwah merupakan perkara penting yang harus ditegakkan di tengah-tengah masyarakat, karena jika tiang dakwah ini tumbang maka hancurlah masyarakat, tersebarlah maksiat, dan disaat itulah murka Alloh datang menyapa.
Berikut ini kami cantumkan hadits yang memberikan perumpamaan apik tentang akibat meninggalkan dakwah, Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Perumpamaan orang yang melaksanakan amar ma’ruf dan orang tidak melakukannya ibarat suatu kaum yang naik sebuah kapal kemudian sebagian ada yang di atas dan sebagian yang lain ada di bawah, kemudian orang yang berada di bawah apabila ingin mengambil air maka mereka melewati orang-orang yang ada di atasnya dan otomatis mengganggunya, maka (orang-orang yang ada di bawah) berkata : seandainya kita lubangi saja perahu ini niscaya kita bisa mengambil air dengan mudah tanpa mengganggu orang yang ada di atas kita, maka jika mereka biarkan melaksanakan apa yang mereka inginkan niscaya mereka semua akan tenggelam binasa, dan apabila mereka dicegah maka mereka semua akan selamat. (HR. Al-Bukhori : 2361)
Demikianlah Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi perumpamaan tentang bahaya meninggalkan amar ma’ruf, yang mana Alloh Ta’ala akan menyegerakan akibat menginggalkan dakwah, sebagaimana yang dituturkan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
Sesungguhnya jika manusia melihat orang yang berbuat dzolim kemudian tidak mencegahnya, maka dikhawatirkan Alloh akan mengirim adzab kepada mereka secara merata. (Diriwayatkan Abu Dawud dalamSunannya : 4340, dan dishohihkan al-Albani dalam asy-Shohihah : 1564).
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
Demi Alloh yang jiwaku ada di tanganNya, hendaklah kalian benar-benar mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran, atau jika tidak, hampir dipastikan Alloh akan mengiirm adzab untuk kalian. (Diriwayatkan at-Tarmidzi dalam Sunannya : 2169, dan Al-Albani mengatakan, “hasan lighorihi”, dalam Shohih at-Targhib wa at-Tarhib : 2313)
4.      Sombong
Sombong merupakan perangai tercela, yang mengundang murka Alloh Ta’ala, Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Alloh Azza wa Jalla berkata, ’Kemuliaan adalah sarungKu dan kesombongan adalah selendangKu, maka barangsiapa menyaingiKu dalam satu di antara dua hal tersebut, Aku akan mengadzabnya’. (HR. Muslim)
Tidak hanya cukup di sini, bahkan Allohpun menyegerakan balasan bagi orang yang berbuat sombong dengan menjadikannya dalam kehinaan, Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Tidaklah seorang hamba kecuali di atas kepalanya ada hakamah (kinayah untuk kehormatan atau kedudukan) yang berada di tangan malaikat, maka jika hamba tadi rendah hati (tawadhu’) maka dikatakan kepada malaikat : angkatlah kedudukannya dan jika dia sombong maka dikatakan kepada malaikat : rendahkankan dirinya. (HR. Thobroni dan dihasankan al-Albani dalam asy-Shohihah : 538).
5.      Al-Mas’alah (meminta-minta/mengemis)
Meminta-minta adalah pekerjaan hina dan nista yang dibenci Islam, dan barangsiapa menjadikan pekerjaan ini sebagai suatu profesi untuk menumpuk harta dan memperkaya diri, maka Alloh akan menjadikan dirinya terjatuh dalam lembah kemiskinan dan selalu dalam kekurangan.
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta kecuali Alloh bukakan untuknya pintu kefakiran. (HR. Ahmad dan dishohihkan al-Albani dalam shohih at-Targhib :2462)
Selain balasan yang disegerakan di dunia berupa kemiskinan, perbuatan meminta-minta juga diancam dengan adzab pada hari Kiamat.
Barangsiapa meminta-minta manusia untuk memperkaya diri, maka sebenarnya dia meminta bara api. (HR. Muslim).
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
Tidaklah salah satu di antara kalian selalu meminta-minta kecuali dia akan bertemu Alloh pada hari kiamat sedang wajahnya tidak berdaging. (HR. Bukhori : 1405 dan Muslim : 2443)
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam kitabnya Madarij as-Salikin :

”Hukum asal meminta-minta adalah haram kecuali dalam kondisi darurat.”

 6.      Memutus silaturahim, khianat dan berdusta.
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Tidaklah sebuah dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya di dunia dan juga disimpan di akhirat dibandingkan dosa memutuskan silaturrohim, khianat, dan juga berdusta, dan sesungguhnya amalan ketaatan yang paling disegerakan pahalanya adalah menyambung silaturrohim, sesungguhnya dengan silaturrohim keluarga akan bahagia, harta akan melimpah dan jumlah keluarga akan bertambah, jika mereka saling menyambung tali silaturrohim. (Dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Jami’ : 5591)
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juta bersabda :
Tali silaturrohim bergantung di Arsy, kemudian ia berkata : Barangsiapa menyambungku maka Alloh akan menyambungnya dan barangsiapa memutuskannya, maka Alloh akan memutuskannya. (HR. Muslim : 6683)
7.      Berprasangka buruk kepada Alloh
Su’udzon atau berprasangka buruk kepada Alloh merupakan sifat tercela yang mengakibatkan seseorang pesimis, takut, cemas dan khawatir dalam mengarungi kehidupan, serta membuat seseorang berputus asa dari rahmat Alloh Ta’ala.
Orang yang berprasangka buruk kepada Alloh, dikhawatirkan Alloh akan merealisasikan apa yang ia sangka dan Alloh menyegerakannya di dunia, hal ini sebagaimana yang disabdakan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
Aku sesuai dengan prasangka hambaku kepadaKu, jika ia berprasangka baik maka baginya kebaikan, dan jika ia berprasangka buruk maka baginyalah keburukan. (HR. Ahmad dan dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Jami’ : 4191)
Dari sini, maka wajiblah bagi kita kaum muslimin untuk berprasangka baik kepada Alloh sehingga kita mendapat kebaikan tadi.
8.      Membongkar aib saudaranya seiman dan menuduhnya
Termasuk dosa yang disegerakan balasannya di dunia adalah dosa ghibah, dosa yang Alloh perumpamakan dalam al-Qur’an dengan memakan daging bangkai saudara kita, sebagaimana yang difirmankan :
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati ? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurot : 12)
Dan balasan yang disegerakan bagi para pengghibah adalah Allohpun akan membeberkan aibnya di mata manusia. Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Janganlah membeberkan aib kaum muslimin dan janganlah mencari-cari kesalahan mereka, barangsiapa melakukannya maka Alloh akan mencari-cari aibnya dan Alloh akan membeberkannya (di hadapan manusia). (HR. Tirmidzi : 2032)
Dan Allohpun menyegerakan adzab yang pedih di dunia bagi para penyebar gosip dan tukang fitnah. Alloh Ta’alaberfirman :
Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang Amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. an-Nur : 19)
Alloh Ta’ala berfirman juga :
Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik yang lengah (untuk berbuat dosa) lagi beriman (berbuat zina), mereka terlaknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. (QS. an-Nur : 23)
9.      Riya’
Riya’ merupakan amalan yang paling ditakutkan oleh Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpa para umatnya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
”Sesungguhnya amalan yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil”, mereka bertanya, ”Apa syirik kecil itu ya Rosululloh ?” Beliau menjawab, ”Riya’”. (Dishohihkan al-Albani dalam asy-Shohihah : 951)
Maka tidaklah heran bila Alloh Ta’ala menyegerakan balasan orang yang melakukan riya’, hl ini sebagaimana yang disabdakan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
Barangsiapa melakukan amalan supaya didengar dan dilihat manusia maka Allohpun akan menampakkan niatnya (di hadapan manusia). (HR. Al-Bukhori : 6134, Muslim : 7667)
10.  Riba.
Riba merupakan dosa besar yang Alloh dan RosulNya menyatakan perang terhadap pelakunya, yang mana tidak ada dosa yang Alloh dan RosulNya menyatakan perang terhadap pelakunya kecuali dosa riba. Sebagaimana yang Alloh Ta’ala katakan dalam al-Qur’an :
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Alloh dan RosulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS. Al-Baqoroh : 278-279).
Dan Allohpun akan menyegerakan balasan bagi pelaku riba, Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Jika zina dan riba telah tampak pada suatu daerah maka penduduknya menghalalkan adzab Alloh turun atas mereka. (HR. Thobroni dalam al-Kabir dan dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Jami’ : 1859)
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Tidaklah seseorang membiasakan riba kecuali Alloh membalasnya dengan kekurangan. (HR. Ibnu Majah : 2279 dan dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Jami’ :5518)
Dan para pelaku riba akan mendapat laknat dari Alloh Ta’ala, hal ini sebagaimana yang ditegaskan RosulullohShallallahu ‘alaihi wa sallam :
Alloh melaknat pemakan riba dan juga pemberinya (dua pihak yang melakukan transaksi riba), saksinya dan juga juru tulisnya. (Dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Jami’ : 5089)
Dan makna dari laknat adalah dijauhkan dari rahmat.
11.  Berhutang dengan niat tidak membayar
Hutang merupakan perkara penting yang harus kita perhatikan karena seseorang bisa terhalangi masuk surga dikarenakan hutangnya, hal ini sebagaimana yang disabdakan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
Sesungguhnya saudara kalian tertawan di pintu surga dikarenakan hutangnya. (Dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Jami’ : 1550)
Allohpun menyegerakan balasan bagi orang yang berhutang dengan niat tidak membayarnya dengan menyulitkan dirinya untuk melunasi hutangnya sebagaimana yang ia inginkan sendiri, Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda :
Barangsiapa mengambil harta manusia dengan niatan mengembalikannya, Alloh akan melunasinya dan barangsiapa mengambilnya dengan niat merusaknya Allohpun akan merusaknya. (HR. Al-Bukhori : 2257)
Demikianlah telah kami paparkan secara singkat di antara dosa-dosa yang disegerakan balasannya di dunia. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca sekalian. Wallohu alhaadi ’ilaa aqwaami aath-thoriiq

Fadlan Fahamsyah, Lc.
Sumber: Majalah Adz-Dzakhiirah vol. 9 no. 2 edisi: 68. 1432/2011

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Apa itu Ihsan?

Ihsan secara bahasa adalah lawan dari perbuatan buruk.  Dan secara istilah adalah mendatangkan (sesuatu) yang dituntut secara syar’i di atas segi yang baik.  Dan sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan (makna) ihsan pada hadits  Jibril yang terkenal ketika malaikat Jibril ‘alaihis salam menanyainya tentang islam dan iman maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab keduanya, dan jawaban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika malaikat Jibril  ‘alaihis salam menanyai Nabi  tentang perbuatan Ihsan maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Maka jika kamu tidak dapat melihat-Nya maka sesungguhnya Dia (Allah) melihatmu”.
Maka sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan makna al-ihsan pada hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim ini,  agar seseorang melakukan sesuatu yang dengannya ia beribadah kepada Allah Ta’ala seakan-akan dia itu berdiri di hadapan Allah, dan yang demikian ini memerlukan kesempurnaan rasa takut dan inabah (kembali) kepada Allah Ta’ala dan mengharuskan/wajib untuk melaksanakan ibadah sesuai langkah yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menempuhnya.
Jawaban Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengandung penjelasan sebab  yang mendorong kepada perbuatan ihsan bagi siapa saja yang belum sampai pada derajat dan kedudukan yang tinggi ini.  Ingatlah! Jawaban itu adalah peringatan kepada pelaku ibadah bahwasanya Allah mengawasi dirinya, tidak tersembunyi bagi Allah sesuatu pun dari perbuatan-perbuatannya.  Dan Allah akan membalasnya atas perbuatan tersebut, jika (perbuatan itu) baik, maka (balasannya) baik dan jika buruk maka buruk.  Dan tidak diragukan lagi bahwasannya seorang yang berakal ketika dia mengingat bahwasannya Allah mengawasinya (maka) ia akan memperbaiki amalannya karena berharap apa yang adan di sisi Allah berupa ganjaran bagi orang-orang yang berbuat baik dan takut dari siksaan yang Allah janjikan pada orang-orang yang berbuat jelek.
Allah Ta’ala berfirman :
إن في ذلك لذكرى لمن كان له قلب أو ألقى السمع وهو شهيد
Sungguh pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikaní” (QS. Qoof : 37)
KEUTAMAAN PERBUATAN IHSAN
              Dan karena perhatian islam terhadap ihsan dan agungnya kedudukan ihsan tersebut (maka) Allah subhana wa ta’ala mengagungkan keutamaannya dan mengkhabarkan di dalam kitabnya yang mulia bahwasanya dia menyukai orang-orang yang berbuat ihsan dan Allah bersama mereka dan cukuplah yang demikian itu sebagai keutama’an dan kemulia’an, Allah Ta’ala berfirman :
وأحسنوا إن الله يحب المحسنين 
Dan berbuat baiklah sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS al-baqoroh :195)
     Allah Ta’ala berfirman :
والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وإن الله لمع المحسنين 
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) kami,kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami.dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik “(QS Al-Ankabut : 69)
BALASAN ORANG-ORANG YANG BERBUAT BAIK
Dan termasuk rahmat Allah Ta’ala dan karunianya adalah menjadikan balasan sesuai jenis amal, dan termasuk yang demikian itu adalah bahwasanya Allah Ta’ala menjadikan balasan perbuatan baik dengan kebaikan pula sebagaimana dalam firman-Nya :
هل جزاء الإحسان إلا الإحسان 
Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)” (QS Ar-Rahman : 60)
Maka barang siapa yang  memperbaiki amalannya maka Allah Ta’ala membaikkan balasannya,dan sungguh AllahTa’ala telah menjelaskan dalam kitab-Nya yang mulia balasan orang yang berbuat baik dan merupakan seagung-agung dan sesempurna-sempurna balasan.  Maka Allah Ta’ala berfirman:
للذين أحسنوا الحسنى وزيادة
“Bagi orang-orang yang berbuat baik al-husna (pahala yang terbaik) dan tambahannya” (QS. Yunus: 26)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menafsirkan ayat ini sebagaimana Imam Muslim meriwayatkan dalam shohihnya dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu bahwasanya (makna) al-husna adalah surga dan makna ziyadah adalah melihat wajah Allah ‘Azza wa jalla.
            Maka orang-orang yang berbuat ihsan yang dia menyembah Allah Ta’ala seakan-akan melihat-Nya maka Allah Ta’ala akan membalas mereka terhadap amalan itu dengan memandang wajah Allah Ta’ala di akhirat. Dan sebaliknya, orang-orang kafir yang telah tertutup hati mereka, maka tidak terdapat dalam hati mereka tempat untuk merasa takut kepada Allah Ta’ala dan merasa diawasi di dunia ini, maka Allah Ta’ala akan mengazab mereka atas perbuatan itu dengan menghijabi mereka dari melihat-Nya di akhirat kelak.
            Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
كلا إنهم عن ربهم يومئذ لمحجوبون 
Sekali-kali tidak. Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) tuhannya” (QS. Al-Muthoffifiin:15)
            Dan sebagaimana balasan orang-orang yang berbuat baik adalah kebaikan maka sesungguhnya kesudahan orang-orang yang berbuat buruk adalah keburukan, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman
ثم كان عاقبة الذين أساؤوا السوأى أن كذبوا بآيات الله وكانوا بها يستهزؤون 
Kemudian adzab yang lebih buruk adalah kesudahan bagi orang-orang yang  mengajarkan kejahatan. Karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya (QS. Ar-Ruum : 10)
Dan firman-Nya :
بلى من أسلم وجهه لله وهو محسن فله أجره عند ربه ولا خوف عليهم ولا هم يحزنون 
Tidak! Barangsiapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi tuhannya dan tidak ada rasa takut kepada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (QS. Al-Baqoroh :112)
Dan firman-Nya :
إن رحمة الله قريب من المحسنين
Sesungguhnya rahmat Allah adalah dekat dari orang-orang yang berbuat baik
 (QS. Al-A’rof:56)
JALAN-JALAN BERBUAT IHSAN
            Perbuatan ihsan dituntut pada ibadah dan muamalah, maka ibadah apa pun yang Allah Ta’alamemfardukannya atas seorang hamba maka sesungguhnya wajib baginya agar mengerjakannya dan menyesuaikannya dengan syariat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana seseorang menyukai agar orang lain memperlakukan dirinya dengan perlakuan yang baik maka sungguh wajib baginya agar berbuat baik kepada orang lain dengan memperlakukannya semisal dengan apa-apa yang ia suka agar dia diperlakukan seperti itu.
            Dan yang demikian itu adalah dengan menempuh jalan-jalan yang kami akan memperlihatkan sebagiannya secara rinkas.
  1. Berbuat Ihsan Dengan Manfaat/Guna Badan
Yang demikian itu dengan mengurbankan pengorbanan apa saja yang ia sanggupi berupa kekuatan badan dalam menghasilkan kebaikan mencegah kerusakan,maka hendaknya ia mencegah orang-orang yang dzolim dari kezolimannya dan menyingkir gangguan dari jalan sebagai contoh, dan inilah jalan yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memaksudkannya pada sabdanya di dalam hadits:
كل سلامى من الناس عليه صدقة كل يوم تطلع فيه الشمس يعدل بين الاثنين صدقة ويعين الرجل على دابته فيحمل عليها أو يرفع عليها متاعه صدقة والكلمة الطيبة صدقة وكل خطوة يخطوها إلى الصلاة صدقة ويميط الأذى عن الطريق صدقة )
“Setiap persendian dari manusia itu ada sedekahnya disetiap hari yang matahari terbit padanya. Mendamaikan diantara dua orang adalah sedekah, dan menolong seseorang pada (urusan) kendaraannya lalu kamu naikkan dia di atas kendaraannya atau kamu naikkan perbekalannya di atas kendaraannya itu adalah sedekah, dan kalimat yang baik adalah sedekah, dan setiap langkah yang kamu jalni menuju (tempat) sholat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah”. (Muttafaqun ‘alaihi)
  1. Berbuat Ihsan Dengan Harta
            Dan orang yang telah melapangkan rizki dan mendatangkan kepadanya harta. Maka, wajib baginya bersyukur kepada Allah Ta’ala dari nikmat tersebut dengan membelanjakannya pada jalan-jalan yang Allah Ta’alasyari’atkan, seperti memunuhi kebutuhan,dan menolong orang yang di timpa bencana, membebaskan tawanan, menjamu tamu, memberi makan orang yang lapar , sebagaimana perwujudan bagi firman Allah Ta’ala :
وأحسن كما أحسن الله إليك
” Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu”
(QS. Al-Qoshosh : 77)
  1. Berbuat  Ihsan Dengan Kedudukan
            Ketika seorang muslim tidak dapat memenuhi kebutuhan saudaranya dengan harta dan secara langsung memberikan manfaat kepadanya maka hendaknya ia menjadi penolong bagi saudaranyadi dalam jalan memperoleh manfaat tersebut.
Yang demikan itu adalah meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti perintahnya.
Dan sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membantu memberi syafaat  Mughis di hadapan istrinya, yakni Bariiroh radhiyallahu ‘anhu dan juga memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk memberi pertolongan (syafaat) dengan sabdanya :
اشفعوا تؤجروا
“Berikanlah (syafaat), niscaya kalian mendapat pahala”  (Muttaffaqun alaih)
  1. Berbuat Ihsan Dengan Ilmu
            Ini adalah jalan yang paling agung dan paling sempurna manfaatnya, karena perbuatan ihsan (jenis) ini menyampaikan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat dan dengannya seorang hamba beribadah kepada AllahTa’ala di atas bashiroh, maka barang siapa yang Allah Ta’ala mudahkan baginya sebab-sebab memperoleh ilmu maka tanggungjawabnya itu adalah besar, berupa pengajaran bagi orang-orang jahil dan membimbing orang-orang yang kebingungan, memberi fatwa dari orang-orang yang bertanya, dan selain itu dari (sesuatu) yang bermanfaat yang bisa membantu orang lain.
  1. Berbuat Ihsan Dengan Amar Ma’ruf Dan Nahi Mungkar
Dan tidaklah keadaan umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebaik-baik ummat  yang dikeluarkan pada manusia kecuali dengan menempuh jalan amar ma’ruf dan nahi mungkar itu.
Allah Ta’ala berfirman dala menetapkan ummat ini :
كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله
Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan kepada manusia, kalian memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar , dan beriman kepada Allah“. (QS.Ali-Imran :110)
            Allah Ta’ala telah melaknat orang kafir dari bani Israil disebabkan karena mereka tidak mencegah kaumnya dari perbuatan mungkar. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
لعن الذين كفروا من بني إسرائيل على لسان داود وعيسى ابن مريم
ذلك بما عصوا وكانوا يعتدون كانوا لا يتناهون عن منكر فعلوه لبئس ما كانوا يفعلون
Telah dilaknat orang-orang kafir dan Bani Isra’il melalui lisan Dawud dan Isa bin maryam yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. mereka tidak saling mencegah dari perbuatan mungkar yang selalu mereka kerjakan”  (QS Al-Maidah : 78-79)
             Manfaat dari amar ma’ruf nahi mungkar tidak akan tercapai dan sempurna kecuali orang-orang yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar tidak melakukan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.  Jika tidak, maka akan berbahaya baginya, sebagaimana firman Allah Ta’ala :
كبر مقتا عند الله أن تقولوا ما لا تفعلون
Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan sesuatu yang kamu tidak kerjakan” (QS. As-Shof : 3)
Dan berbuat ihsan kepada manusia dengan amar ma’ruf nahi mungkar tentu saja harus berasal dari ilmu, karena sesungguhnya orang jahil terkadang memerintahkan kepada sesuatu yang mungkar dan terkadang melarang terhadap sesuatu yang baik, dan hendaknya ia menggabungkan pada ilmu itu hikmah dan bersabar terhadap sesuatu yang menimpanya.
            firman Allah Ta’ala :
وأمر بالمعروف وانه عن المنكر واصبر على ما أصابك
“Perintahkanlah kepada yang ma’ruf dan cegahlah dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap sesuatu yang menimpamu.”  (QS. Luqman: 17)
Wallahu a’lam

Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad

Diterjemahkan secara ringkas dari kitab Tsalatsu kalimaati fil ikhlasi wal Ihsan karya: Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafidhahullah. oleh: Al Akh Mujahid Abduh Al-Fana (Alumni Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari)

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Menuai Pahala Tak Terbatas dengan Sabar

Kadang terdengar keluhan dari para suami tentang istri-istri mereka terutama yang mempunyai anak yang masih kecil, tatkala mereka sedang mengalami sebuah ujian dari Alloh Ta’ala yang ditimpakan kepada anaknya, seperti ketika anaknya bandel, sedang sakitdan semisalnya, maka terdengarlah ucapan-ucapan yang apabila direnungkan, siapa saja yang mengatakannya akan menyesal, seperti ucapan ”Aku menyesal punya anak!” atau ”Kalau repot begini lebih baik tidak punya anak!” atau ”Kalau repot begini satu anak saja cukup!” dan ungkapan-ungkapan semisal.
Ungkapan-ungkapan di atas sebenarnya menyelisihi ajaran Agama Islam, sebab utamanya lantaran kurangnya kesabaran seorang ibu terhadap segala yang menimpa pada diri dan anaknya, padahal sabar adalah satu sifat yang terpuji dalam Islam dan suatu perangai selalu dianjurkan bagi setiap muslim, baik sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar menahan diri dari kemaksiatan dan sabar menerima cobaan.
Allah Ta’ala berfirman :
Dan bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru kepada tuhannya di pagi dan senja hari hanya mengharap wajah-Nya. (al-Kahfi [18] : 28).
Sebagai kaum wanita membantah dengan berkata ”Sabar ada batasnya, sebagai manusia, wajar suatu saat terucap kata-kata seperti itu.” Maka kita katakan bahwa sabar tidak lain hanya berkisar pada masalah menahan diri, yaitu dari hati yang sedang murka[1], dari lisan yang berkata kotor[2], dan dari anggota badan (seperti tangan) dari berbuat aniaya[3] (baik terhadap diri sendiri atau orang lain)[4].
Dari definisi sabar di atas, memang kadang terasa berat dilakukan tetapi semuanya menjadi ringan kalau dikembalikan kepada buah yang timbul dari kesabaran, sebagaimana pepatah mengatakan[5] :
Dan sabar itu sama seperti namanya yang pahit dirasa
Akan tetapi akibatnya lebih manis daripada madu
SABAR BERISTIQOMAH DALAM MENDIDIK ANAK
Hakikat sabar adalah kemampuan menahan diri untuk terus-menerus melaksanakan perbuatan yang dianjurkan dan menahan diri dari suatu yang tidak layak dilakukan, sehingga segala urusan menjadi baik[6].
Dan perintahkan keluargamu untuk melaksanakan sholat dan bersabarlah atasnya! (QS. Thoha [20] : 132)
Seyogyanya kita mengikuti jejak para Nabi ‘alaihis salam dan orang-orang sholih terdahulu dalam kesabaran anak-anaknya.
Dengarlah Luqman al-Hakim yang selalu menasehati anaknya supaya menjaga kesempurnaan tauhid, menjauhi segala bentuk kesyirikan, mengajari berbakti kepada orang tua, menanamkan keyakinan bahwa Allah selalu  mengawasi hamba-Nya (muroqqobah), memerintahkan sholat dan amar makruf nahi mungkar, sabar terhadap segala musibah, menghilangkan sifat sombong, dan selalu sederhana dalam menjalani kehidupan (lihat QS. Luqman [20] : 12-18).
SABAR KETIKA ANAK SEDANG SAKIT
Allah Ta’ala selalu menguji seorang hamba dengan ujian yang beragam sesuai dengan hikmah-Nya baik berupa sesuatu yang disenangi atau dibenci[7]. Sudah menjadi sunnatulloh, bahwa suatu ketika seorang anak akan mengalami sakit, semua cobaan bukanlah sia-sia, karena disinilah ladang pahala bagi orang tua yang bersabar merawatnya dan berharap pahala dari Allah berupa pahala yang berlipat ganda, bahkan ujian tersebut sebagai penghapus dosa, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Senantiasa orang mu’min laki-laki dan perempuan ditimpa ujian baik pada diri-diri mereka, anak-anaknya atau pada hartanya, sehingga berjumpa Alloh dalam keadaan bersih dari dosa. (Dishohihkan oleh al-Albanirahimahullah dalam Shohih al-Jami’ no. 5815).
Wahai para orang tua, ketahuilah bahwa semua cobaan datangnya dari Alloh, janganlah putus asa menghadapi cobaan, betapa banyak mereka yang sakitnya lebih parah, tetapi mereka masih diberi umur yang panjang, sebaliknya, betapa banyak anak yang sehat, tetapi tanpa diketahui sebab yang jelas, tiba-tiba Alloh mengambil mereka dari orang tuanya, ini menunjukkan bahwa ajal sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.
Utusan Allah Ta’ala Nabi Ayyub ‘alaihis salam ketika ditimpa musibah berupa penyakit yang sangat parah, beliau selalu berdoa kepada Allah yang Maha Pengasih dan yang menyembuhkan segala penyakit.
Demikian juga Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berwasiat kepada siapa saja yang ditimpa musibah supaya bersabar dan berharap pahala dari Allah, sebagaimana sabdanya terhadap seorang wanita yang sedang ditimpa musibah berupa kematian :
Hendaknya dia bersabar (atas musibah) dan berharap pahala (dari Allah)”[8]
SABAR KETIKA ANAKNYA MENINGGAL DUNIA
Termasuk salah satu tanda-tanda orang yang mendapatkan taufiq dan kemenangan di sisi Alloh adalah seorang yang sabar terhadap sesuatu yang menyakitinya, dan selalu lembut dalam menghadapi segala persoalan, AllahTa’ala berfirman :
Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Alloh supaya kamu menang/beruntung. (QS. Ali Imron 200)[9]
Ibnu Katsir rahimahullah berkata : ”Barangsiapa yang ditimpa musibah, kemudian dia yakin itu semua adalah keputusan dan takdir Allah, lalu bersabar dan menerimanya dengan lapang dada, maka pasti Allah mengganti apa yang tidak didapati di dunia dengan petunjuk dalam hatinya yang lebih baik berupa keyakinan dan sifat jujur, atau (kalau tidak demikian), maka pasti Allah Ta’ala akan menukar yang tidak didapatinya dengan suatu ganti yang lebih baik lagi”[10].
Oleh karenanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kita cara mendapatkan salah satu ganti yang lebih baik tersebut dengan mengucapkan do’a setelah tertimpa musibah sebagai berikut :
”Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kami kembali kepada Allah, Ya Allah berilah aku pahala atas musibah ini, dan gantilah untukku dengan (ganti) yang lebih baik darinya”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan keutamaan do’a ini dengn sabdanya : ”Seorang muslim apabila tertimpa musibah, lalu mengucapkan do’a tersebut, pasti akan diganti oleh Allah Ta’ala dengan ganti yang lebih baik lagi” (HR. Muslim dengan Syarah Imam Nawawi 3/475).
Do’a ini telah dibuktikan oleh salah seorang sahabat wanita yang bernama Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhayang tertimpa musibah, tatkala Abu Salamah (suaminya) meninggal, beliau teringat do’a tersebut, lalu diucapkanlah do’a ini walaupun hatinya mengatakan bahwa tiada lagi yang lebih baik dari Abu Salamah lantaran dia seorang sahabat ternama dan orang yang pertama kali hijrah ke Madinah membawa keluarganya. Akan tetapi setelah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengucapkan do’a tersebut, tak lama kemudian datanglah utusan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya melamar dirinya buat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan akhirnya menjadilah Ummu Salamah sebagai istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ummul mu’minin, dan Allah Ta’ala mengganti kematian suaminya dengan kehadiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih baik dari Abu Salamah (HR. Muslim dengan Syarah Imam Nawawi 3/475).
KEMATIAN ANAK MENGANTARKAN ORANG TUANYA KE SURGA
Sesungguhnya anak adalah sebuah musibah bagi orang tuanya, akan tetapi bagi yang bersabar dan mengharap pahala dari Allah Ta’ala, niscaya dia mendapatkan pahala, bahkan anak yang gugur dari perut ibunya menjadi pahala yang besar bagi orang tuanya yang sabar atas musibah ini, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Demi Dzat yang diriku berada ditangan-Nya, sungguh anak yang gugur dari perut ibunya akan menarik ibunya ke dalam surga dengan tali pusarnya apabila (ibunya) mengharap pahala dari Alloh. (HR. Ibnu Majah no. 1609, dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah dalam Shohih at-Targhib wa at-Tarhib no. 2008).
Dalam sabda Roasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
Anak-anak kalian (yang meninggal) adalah para pelayan di surga, yang berjumpa dengan ayahnya lalu menarik kainnya dan tidak henti-hentinya sampai Allah memasukkannya bersama ayahnya ke surga” (HR. Muslim 8/41, Ahmad 2/488, dan lihat Silsilah Shohihah no. 431).
Dalam hadits yang lain disebutkan (yang artinya) : dari Qurroh al-Muzani, bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama anaknya, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, ”Apakah engkau mencintai dia (anakmu) ?” Dia menjawab, ”Wahai Rasulullah, Alloh mencintaimu, sebagaimana aku mencintai dia (anakku)” Kemudian (tidak lama lagi) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjumpai anak tersebut, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya (kepada para sahabat) : ”Ada apa dengan anak fulan ?” Mereka menjawab, ”Telah meninggal wahai Rasulullah.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (kepada laki-laki itu) : ”Apakah engkau tidak mau, tatkala engkau mendatangi salah satu pintu surga, engkau menjumpai anakmu telah menunggumu di pintu surga itu ?” Lalu ada orang lain berkata,”Wahai Rasulullah apakah ini khusus (buat si fulan) atau buat kita semua ?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Bahkan buat kalian semua.”[11]
Apabila anak yang meninggal lebih dari satu, maka anak-anak tersebut menjadi penghalang orang tuanya dari api neraka, sebagaimana sabdanya :
”Tidaklah ada diantara kalian wahai wanita yang meninggal dunia tiga orang anaknya, kecuali (anak-anak tersebut) menjadi penghalangnya dari api neraka.” Lalu seorang wanita berkata, ”Bagaimana kalau dua anak (yang meninggal) ?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Demikian juga dua.”[12]
Demikianlah kondisi seorang muslim harus senantiasa sabar menghadapi segala cobaan dan musibah baik berupa harta, jiwa dan raga, karena semuanya hanya milik Alloh, kembali kepada-Nya, dan dengan takdir dan ketentuan-Nya.
Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali
Sumber: Majalah AL FURQON edisi 10 thn 6 Jumadil Ula 1428H

Artikel: www.ibnuabbaskendari.wordpress.com

[1]   Seperti murka dan marah terhadap Sang Pencipta yang memberinya ujian.
[2]   Seperti yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah ketika meratapi musibahnya dengan berteriak histeris, menangis berlebihan dan semisalnya, dan memanggil-manggil mayat yang telah meninggal.
[3]   Seperti menampar pipi, merobek pakaian, merusak benda-benda yang dimilikinya dan semisalnya.
[4]   Huquq al-Abna’ alal ‘Aba’ hal. 397.
[5]   Al-Qoulul Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid hal. 215.
[6]   Huquq al-Abna’ ‘alal’ ‘aba’ hal. 397.
[7]   Seperti dalam QS. al-Baqoroh [2] : 155.
[8]   HR. Bukhari no. 1284, dan Muslim no. 923.
[9]   Adabud Dunya wad-Din oleh Imam Mawardi hal. 276 (dinukil dari Huquq al-Abna’ alal’ Aba’ hal. 402.
[10]  Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim oleh Ibnu Katsir Juz 4 hal. 366.
[11]  HR. Ahmad dan Nasa’i, dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah (lihat Misykat al-Mashobih no. 1756.
[12]  Hadits ini dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah dalam Shohih wa Dho’if al-Jami’ no. 5805, Misykat al-Mashobih no. 1753, dan Silsilah Shohihah no. 3441.

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Orang yang Menyesal di Hari Kemudian

Sudah maklum bahwasanya penyesalan berada di belakang.  Ungkapan tidak ada kata terlambat, itu hanya berlaku di dunia.  Tidak ada kata terlambat bertobat kepada Allah Ta’ala dari bermaksiat kepada Allah Ta’ala.  Namun di akhirat nanti yang ada hanya ungkapan semua sudah terlambat, terlambat untuk melaksanakan amal-amal sholeh dan bertobat dari melakukan dosa.  Yang ada hanya penyesalan di atas penyesalan karena tidak mungkin lagi bisa kembali ke dunia.
Allah Ta’ala telah mengingatkan kita pada hari penyesalan tatkala segala perkara telah diputuskan
وأنذرهم يوم الحسرة إذ قضي الأمر وهم في غفلة وهم لا يؤمنون 
Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, 9yaitu) ketika segala perkara telah diputus.  Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak pula beriman.” (QS. Maryam : 39
As-sa’di rahimahullah menafsirkan ayat ini: Penyesalan yang sangat besar karena terlewatkan dari mendapatkan ridho Allah dan surganya dan pantas mendapatkan murka Allah dan neraka-Nya yang tidak memungkinkan lagi untuk kembali beramal karena tidak ada jalan baginya untuk bisa berubah keadaannya dengan kembali ke dunia (Taisir Karimu Rahman hal 527)
  • Ibnu Katsir rahimahullah dalam dalam tafsirnya III/129 menukil perkataan Ibnu Mas’ud tentang ayat itu : hari ketika penduduk surga telah menempati tempatnya, demikian juga penduduk nereka telah menempati tempatnya, maka didatangkanlah maut (kematian) dalam bentuk seekor kibas kemudian disembelih diantara surga dan neraka sehingga tidak ada lagi kematian setelahnya, yang ada adalah hidup kekal. Maka ahli jannah menjadi gembira dengan kehidupan yang kekal di surga sedangkan ahli nereka menjadi sangat menyesal dengan kekekalannya di neraka.
Dan juga Allah mengingatkan kita dalam Alqur’an
قل هل ننبئكم بالأخسرين أعمالا   الذين ضل سعيهم في الحياة الدنيا وهم يحسبون أنهم يحسنون صنعا
أولئك الذين كفروا بآيات ربهم ولقائه فحبطت أعمالهم فلا نقيم لهم يوم القيامة وزنا 
Katakanlah: “apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”.  Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.mereka itu adalah orang-orang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan perjumpaan dengan Dia.  Maka terhapuslah amalan-amalan mereka, dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi amalan mereka di hari kiamat.” (QS. Al-Kahfi :103-105)
Di antara orang-orang yang menyesal dihari kemudian adalah;
  1. Orang kafir yang tidak beriman kepada Allah dan mendustakan Rasul ketika ditanyakan dalam kubur, siapa Tuhanmu, Nabimu dan agamamu.  Maka dia tidak bisa menjawabnya sebagaimana dalam hadits riwayat Abu Dawud no 4753 dari hadits Barra’ bin Adzib radhiyallahu ‘anhu .
وإن الكافر ” فذكر موته قال ” وتعاد روحه في جسده ويأتيه ملكان فيجلسانه فيقولان له من ربك ؟ فيقول هاه هاه لا أدري فيقولان له ما دينك ؟ فيقول هاه هاه لا أدري فيقولان ما هذا الرجل الذي بعث فيكم ؟ فيقول هاه هاه لا أدري فينادي مناد من السماء أن كذب فافرشوه من النار وألبسوه من النار وافتحوا له بابا إلى النار ” قال ” فيأتيه من حرها وسمومها ” قال ” ويضيق عليه قبره حتى تختلف فيه أضلاعه ” زاد في حديث جرير قال ” ثم يقيض له أعمى أبكم معه مرزبة من حديد لو ضرب بها جبل لصار ترابا ” قال ” فيضربه بها ضربة يسمعها ما بين المشرق والمغرب إلا الثقلين فيصير ترابا ” قال ” ثم تعاد فيه الروح ” .
“…Sesungguhnya orang kafir tatkala disebutkan kematiannya : dikembalikan ruhnya kepada jasadnya kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukkannya maka keduanya bertanya kepadanya “siapa Tuhanmu?” maka orang kafir itu menjawab “hah,hah, saya tidak tahu”.  Maka keduanya bertanya lagi “apa agamamu?”.  Orang kafir itu menjawab “hah,hah, saya tidak tahu”.  Maka keduanya bertanya lagi “siapa orang yang orang telah diutus kepada kalian?”.  Maka dia menjawab  ”hah,hah, saya tidak tahu”.  Maka seorang penyeru dari langit berseru “sungguh dia telah dusta maka hamparkanlah ia tikar dari neraka dan  pakaikanlah ia pakaian dari neraka dan bukakan baginya pintu menuju neraka” maka didatangkan baginya dari panasnya neraka tersebut dan disempitkannya kuburannya sehingga tulang rusuknya saling bersilangan.  Kemudian didatangkanlah baginya seperti seorang yang buta dan tuli, yang memegang palu besi, seandainya dia memukulkannya kepada gunung maka gunung itu akan menjadi debu.  Maka dipukullah orang tersebut dengan palu besi, (maka dia berteriak dengan teriakan yang keras) yang mana semua makhluk diantara barat dan timur mendengarnya kecuali jin dan manusia (kalaulah mereka mendengarnya mereka akan pingsan).  Maka menjadilah dia debu kemudian dikembalikan lagi ruh pada jasadnya.” (As-Shohihah Syaikh Albani rahimahullah juz 2 hal 652)
Ini adalah gambaran siksaan yang diberikan kepada orang kafir dikuburnya.  Maka dia akan mendapat siksaan yang lebih pedih lagi di dalam neraka.
  1. orang-orang yang murtad dari agama dan melakukan perkara bid’ah adalah orang-orang yang akan diusir dari telaganya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan Muslim no 26.  yakni tatkala mereka diusir dari telaga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallammengatakan “sesungguhnya mereka adalah golonganku” maka dikatakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
                               إنك لاتدري ما عملوا بعدك
“Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka amalkan setelah kematianmu”
Berkata Al Qurtubi: yakni setiap orang yang murtad dari agama Allah atau setiap orang yang membuat perkara  baru dalam agama Allah yang Allah tidak meridhonya dan mengizinkannya,maka mereka adalah orang yang dijauhkan dan diusir dari telaga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.(Al-Iman bil Yaumil Akhir hal 158.  Muhammad bin Ibrahim Al-Hamdi). Padahal pada waktu itu orang sangat kehausan butuh kepada minum sedangkan barang siapa yang minum seteguk dari telaga tersebut dia tidak akan kehausan selamanya
من شرب لم يظمأ أبدا
“Barangsiapa yang telah meminumnya (dari telaga tersebut), maka tidak akan kehausan selamanya” (Bukhari no 6212)
  1. Orang yang meninggalkan sholat adalah orang yang mengalami kerugian nanti di hari kiamat.  Allah berfirman :
يا أيها الذين آمنوا لا تلهكم أموالكم ولا أولادكم عن ذكر الله ومن يفعل ذلك فأولئك هم الخاسرون 
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah (Sholat lima waktu).  Barang siapa yang melakukan ini maka dia termasuk orang yang merugi” (QS. Al-Munaafiqun :9)
Dan juga Allah Ta’ala berfiman :
ما سلككم في سقر  قالوا لم نك من المصلين 
Apakah yang memasukkan kamu kedalam saqar (neraka).”mereka menjawab: kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sholat” (QS. Al-Mudatsir  42-43)
                                               
  1. orang-orang yang berbuat riya dalam amalannya sebagaimana dalam hadits muslim no 1905 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
إن أول الناس يقضى يوم القيامة عليه رجل استشهد فأتى به فعرفه نعمه فعرفها قال فما عملت فيها ؟ قال قاتلت فيك حتى استشهدت قال كذبت ولكنك قاتلت لأن يقال جريء فقد قيل ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار ورجل تعلم العلم وعلمه وقرأ القرآن فأتي به فعرفه نعمه فعرفها قال فما عملت فيها ؟ قال تعلمت العلم وعلمته وقرأت فيك القرآن قال كذبت ولكنك تعلمت العلم ليقال عالم وقرأت القرآن ليقال هو قارئ فقد قيل ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار ورجل وسع الله عليه وأعطاه من أصناف المال كله فأتى به فعرفه نعمه فعرفها قال فما عملت فيها ؟ قال ما تركت من سبيل تحب أن ينفق فيها إلا أنفقت فيها لك قال كذبت ولكنك فعلت ليقال هو جواد فقد قيل ثم أمر به فسحب على وجهه ثم ألقي في النار
“Bahwa manusia yang pertama diadili pada hari kiamat adalah seseorang yang syahid.  Maka dihadapkanlah dia, diperlihatkan nikmatnya.   Kemudian ditanyakan apa yang telah kamu amalkan? Maka dia menjawab saya telah berperang di jalan-Mu sehingga saya mati syahid kemudian dikatakan kamu dusta, kamu berperang supaya dikatakan sebagai seorang pemberani.  Maka diperintahkanlah dia untuk diseret di atas wajahnya sehingga dilemparkan di dalam neraka.  Demikian juga seorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkan ilmu tersebut dan seorang pembaca Qur’an, ditanyakan kepadanya apa yang telah engkau amalkan? Maka dia menjawab saya mencari ilmu dan mengajarkannya dan saya membaca Al-Qur’an karena-Mu.  maka dikatakan, kamu dusta.  Kamu mempelajari ilmu supaya dikatakan sebagai seorang alim dan kamu membaca Qur’an supaya dikatakan sebagai seorang Qori’.  .  Maka diperintahkanlah dia untuk diseret di atas wajahnya sehingga dilemparkan di dalam neraka.  Dan kemudian seorang yang diberikan kelapangan harta kemudian dia menginfaqkan sebagian hartanya.  Maka dikatakan kepadanya apa yang telah amalkan dari nikmat yang telah diberikan kepadamu? Maka dia menjawab, tidak ada satu jalan yang aku suka berinfak di jalan tersebut kecuali aku telah menginfaqkan hartaku karena-Mu.  maka dikatakan kamu dusta.  kamu berinfaq supaya dikatakan sebagai seorang dermawan.  Maka diperintahkanlah dia untuk diseret di atas wajahnya sehingga dilemparkan di dalam neraka.”
5. Orang yang menerima catatan amal dari arah belakang, Allah berfirman:
وأما من أوتي كتابه وراء ظهره ويصلى سعيرا 
”Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak:”celakalah aku”.  Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)” (QS. al insyiqoq  10-12)
Berkata Syaikh Utsaimin rahimahullah dalam Syarah aqidah Wasithiyah : Disebabkan karena ketika di dunia ditawarkan kitabullah, dia membelakanginya.  Maka sebagai balasan darinya, maka Allah memberikan kitab catatan amalnya pada hari kiamat dari belakang punggungnya.
6.  Orang-orang yang berbuat zalim akan diqishosh atas kezalimannya.
Hadits muflis riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda :
                : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أتدرون ما المفلس ؟ قالوا المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع فقال إن المفلس من أمتي يأتي يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة ويأتي قد شتم هذا وقذف هذا وأكل مال هذا وسفك دم هذا وضرب هذا فيعطى هذا من حسناته وهذا من حسناته فإن فنيت حسناته قبل أن يقضى ما عليه أخذ من خطاياهم فطرحت عليه ثم طرح في النار
 ”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabanya, tahukah kalian orang yang bangkrut?.  Mereka menjawab, orang yang bangkrut adalah orang yang tidak mempunyai dirham dan perhiasan.  Maka berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  “sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang dating di hari kiamat dengan membawa pahala sholat dan puasa serta zakat.  Dan dia juga datang dengan dosa mencelanya, menuduh dan memakan harta orang lain, menumpahkan darah dan memukul orang.  Maka kebaikan-kebaikan dari amalan sholeh tersebut dibayarkankan kepada orang pernah dizaliminya.  Sampai jika kebaikannya telah habis maka dosa orang yang pernah dizalimi ditimpakan kepadanya sehingga dilemparkannyalah dia di neraka.” (Shohih Muslim no 59)
اتقوا الظلم فإن الظلم ظلمات يوم القيامة
“Takutlah kalian dari berbuat zalim karena kezaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” (Shohih Muslim no 56)
7.  Orang yang melalaikan amal sholeh, Allah Ta’ala menceritakan tentang keadaan orang kafir pada waktu menghadapi sakaratul maut, salah seorang diantara mereka berkata……
        حتى إذا جاء أحدهم الموت قال رب ارجعون 
لعلي أعمل صالحا فيما تركت كلا إنها كلمة هو قائلها ومن ورائهم برزخ إلى يوم يبعثون 
     “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila dating kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata : “ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang sholeh yang aku telah tinggalkan.  Sekali-sekali tidak, sungguh itu adalah perkataan yang diucapkan saja.  Dan di hadapan mereka ada dinding sampai mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun:99-100)
Demikianlah beberapa golongan dari orang-orang yang menyesal nanti di hari kemudian.  Karenanya, hendaklah bagi seorang muslim yang berakal mempersiapkan bekal yang banyak dan bermanfaat untuk menempuh perjalanan menuju ke kampung akhirat yang kekal dan abadi.  Allah Ta’ala telah menasehatkan kepada kita untuk berbekal dengan bekal takwa, sebagaimana dalam firman Nya:
      وتزودوا فإن خير الزاد التقوى
      “Berbekallah kalian maka sungguh sebaik-baik bekal adalah takwa” (Qs Al-baqoroh :197)

Ustadz Abu Bakar Ramli bin Haya

Maraji’ :
  1. Al-yaumil Akhir.  Muhammad Ibrahim bin Abdullah At-Tuwayjiriy
  2. Syarah Al-Kabair.  Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More