Share
div id='fb-root'/>

Kaya tidak diukur dengan banyaknya harta

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bertakwa itu dimana saja

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutkanlah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapuskannya dan berakhlaqlah dengan sesama dengan akhlaq yang baik.”(HR Tirmidzi 1987)

Mudahkan Kesulitan Saudara Kita

“Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”(HR Muslim 2699)

Segeralah Bertaubat

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133)

Bersemangatlah untuk Beramal Shalih

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97)

Showing posts with label penuntut ilmu. Show all posts
Showing posts with label penuntut ilmu. Show all posts

Thursday, December 6, 2012

24 JAM 'BERSAMA' ASY-SYAIKH 'ABDUL 'AZIZ BIN BAZ RAHIMAHULLAH

1. Beliau bangun pagi kurang lebih 1 jam sebelum shubuh. Kemudian shalat tahajjud 11 raka’at dengan khusyu’ dan rendah diri kepada Allah. Sebagaimana pula beliau banyak berdoa
, di antaranya mendoakan umat Islam dan kebaikan para penguasa mereka, berzikir, membaca al-Qur’an, dan beristighfar.

2. Setelah azan subuh (terkadang sebelumnya), beliau pergi ke masjid dengan tenang dan penuh penghambaan kepada Allah dengan membaca doa keluar rumah (dan doa menuju masjid, -pen.) sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah n. Sesampainya di masjid, beliau masuk dengan mendahulukan kaki kanan seraya membaca doa masuk masjid dan shalat sunnah qabliyah. Kemudian memperbanyak doa hingga iqamat. Setelah itu menunaikan shalat shubuh berjama’ah. Selepas shalat, beliau membaca zikir-zikir yang khusus dibaca setelah shalat, kemudian membaca wirid-wirid doa dan zikir yang dituntunkan untuk dibaca di setiap pagi.

3. Setelah dirasa cukup membaca wirid-wirid pagi, beliau mulai taklim (kajian) rutin di masjid tersebut dari beberapa kitab yang dibacakan kepada beliau. Taklim (kajian) rutin itu menghabiskan waktu sekitar 3 jam, bahkan terkadang lebih. Setelah itu, menjawab berbagai pertanyaan agama yang diajukan kepada beliau dengan penuh perhatian dan ketelitian, kemudian pulang ke rumah. Jika berhalangan mengajar, beliau langsung pulang ke rumah seusai membaca wirid doa dan zikir pagi.

4. Kemudian beliau duduk di rumah sekitar dua jam. Beliau manfaatkan kesempatan itu untuk menjawab berbagai persoalan yang membutuhkan jawaban dari beliau, atau dibacakan kepada beliau beberapa kitab dan karya ilmiah. Setelah itu beliau masuk ke bagian dalam rumah guna beristirahat. Tepat pukul 08.00 pagi, beliau keluar dari tempat peristirahatan dan bersiap-siap untuk makan pagi. Setelah makan pagi, beliau berwudhu lalu shalat dua raka’at, kemudian berangkat ke kantor dengan tenang dan kemauan yang kuat. Begitu naik mobil, diajukan kepada beliau beberapa persoalan yang membutuhkan jawaban dari beliau, atau dibacakan kepada beliau beberapa kitab. Setibanya di kantor, beliau turun dari mobil dan berjalan kaki menuju ruangan pribadi beliau. Berbagai tulisan dan persoalan pun diajukan kepada beliau hingga memasuki ruangan tersebut.

5. Di ruangan pribadi tersebut, beliau mengerjakan berbagai tugas harian yang berat dengan penuh semangat seperti; menyelesaikan berbagai kasus dan persoalan yang diajukan kepada beliau, menyambut para delegasi/tamu, mengeluarkan fatwa terkait pertanyaan-pertanyaan yang berdatangan dari para penanya, melayani para pengunjung yang sedang mengalami kasus talak, dan sebagainya. Hal ini berlangsung hingga pukul 14.30 siang atau lebih sedikit. Dengan itu, seringkali beliau sebagai orang yang terakhir keluar dari kantor. Setelah itu beliau pulang ke rumah.

6. Dalam perjalanan menuju rumah (di atas mobil), diajukan kembali kepada beliau berbagai persoalan, atau dibacakan kitab. Jika tidak ada yang membacakan, beliau manfaatkan untuk berzikir dan membaca al-Qur’an. Dalam kesempatan itu pula terkadang beliau manfaatkan untuk mendengarkan siaran berita radio pukul. 14.30.

7. Setiba di rumah, beliau langsung disambut oleh banyak orang. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai keperluan dengan beliau. Ada yang meminta fatwa, ada yang sekadar mengucapkan salam, ada yang mempunyai kasus talak, ada yang meminta bantuan, orang fikir, pejabat, dan pengunjung dari daerah yang dekat maupun jauh. Beliau ucapkan salam kepada mereka, kemudian beliau mempersilakan para tamu tersebut untuk menyantap hidangan makan siang yang telah disediakan di rumah beliau. Beliau makan siang bersama mereka sembari berbincang dengan mereka, menanyakan keadaan mereka, dan menjawab berbagai pertanyaan mereka. Setelah dirasa cukup, beliau berhenti dan masih menemani mereka beberapa saat agar mereka tidak terburu-buru menyelesaikan makan. Kemudian beliau berdiri untuk mencuci tangan seraya mengatakan, tidak usah terburu-buru masing-masing hendaknya melanjutkan makannya. Ketika beliau berdiri menuju tempat cuci tangan, mulailah diajukan berbagai pertanyaan kepada beliau. Setelah mencuci tangan, beliau kembali ke tempat yang semula. Jika waktu agak akhir dan masuk waktu ashar maka beliau mengambil air wudhu, menjawab azan lalu berangkat ke masjid. Namun jika masih tersisa banyak waktu, beliau meluangkan waktu untuk duduk-duduk bersama para tamu sambil minum teh dan memakai minyak wangi, kemudian masuk ke dalam rumah sejenak, dan keluar saat dikumandangkan azan ashar guna berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat ashar.

8. Seusai shalat ashar, imam masjid membacakan beberapa poin dari kitab Riyadhush Shalihin, al-Wabilush Shayyib, atau Kitabut Tauhid, atau yang lainnya, lalu beliau menerangkannya kepada para jamaah. Berikutnya, beliau menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan di majelis tersebut. Kemudian beliau pulang ke rumah untuk beristirahat. Dalam perjalanan menuju rumah pun, beliau masih menjawab banyak pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang yang berjalan mengiringi beliau.

9. Menjelang maghrib, beliau mengambil air wudhu lalu pergi ke masjid untuk menunaikan shalat maghrib. Seusai shalat, beliau pulang ke rumah dan melakukan shalat ba’diyah maghrib. Kemudian beliau duduk bersama orang-orang yang mengunjungi beliau dengan problemnya masing-masing. Demikian itu, jika tidak ada jadwal mengajar atau memberikan catatan penting dalam acara seminar.

10. Saat azan isya’ dikumandangkan beliau menjawabnya, kemudian beranjak menuju masjid untuk menunaikan shalat isya’. Ketika tiba di masjid, beliau menunaikan shalat tahyatul masjid. Seusai shalat sunnah tersebut, imam masjid segera membacakan beberapa hadits untuk diterangkan kepada para jama’ah oleh beliau. Setelah itu beliau menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan. Kemudian menunaikan shalat isya’.

11. Seusai shalat isya’, jika tidak ada janji di luar rumah, ceramah, undangan khusus, undangan walimah nikah, mengunjungi orang sakit, atau agenda yang semisalnya, beliau langsung pulang ke rumah. Beliau manfaatkan waktu tersebut untuk membaca beberapa persoalan yang membutuhkan solusi, atau memuraja’ah sebagian kitab. Terkadang ada acara rapat di rumah beliau, terkadang pula kedatangan para tamu, atau ada rekaman untuk siaran radio, atau ceramah via telepon untuk kaum muslimin di luar negeri.

12. Setelah itu makan malam bersama para tamu beliau, para pegawai di kantor pribadi (di rumah) beliau, dan siapa saja yang hadir ketika itu. Selepas makan malam, beliau melanjutkan pekerjaan yang dilakukan sebelum makan malam, atau melanjutkan perbincangan dengan para tamu beliau, atau duduk untuk membaca beberapa kitab, atau menyelesaikan beberapa persoalan yang membutuhkan solusi dari beliau hingga larut malam. Terkadang hingga pukul 23.00 atau pukul 24.00 malam. Kemudian beliau masuk ke bagian dalam rumah, lalu berjalan-jalan sekitar 30 menit, kemudian beranjak tidur.

Dinukil dari Majalah Asy-Syari'ah no 88 " Asy Syaikh Bin Baz, Potret Perjuang Dakwah" hal 23-25

via Andri Maadsa Dua

Status Nasehat
http://www.facebook.com/PageStatusNasehat

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Friday, October 12, 2012

Download Ebook Offline Website Sunnah

Bismillah, 

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman. 

Alhamdulillah atas kemudahan yang telah Allah Ta'ala berikan kepada kami, dengannya kami bisa menyusun Ebook-Ebook Offline dari Website-website Bermanhaj Salaf. Semoga Ebook ini bermanfaat bagi Kaum Muslimin, menambahkan ilmu, iman serta amal bagi yang membacanya. Aamiin..



-Ebook Offline Muslimah.Or.Id dalam bentuk CHM file, dengan ukuran 4.3MB. Untuk download, klik salah satu link dibawah ini: 

  1. http://www.mediafire.com/?3f6j851csc7lelt
  2. https://www.box.com/s/1nh3fhe8sdkny5jvu0fa
  3. http://www.sharebeast.com/uh4xe4mv9pkd
  4. http://www.4shared.com/file/J2O7iBjp/Offline_Muslimahorid.html

- Ebook Offline Muslim.Or.Id bisa didownload di link-link berikut (Ukuran 14.3MB) http://www.mediafire.com/?4ti67ls8cz46liz
https://www.box.com/s/tifyb0yi7uqi6my0rx82
http://www.4shared.com/file/oRR4ez5Z/Offline_MuslimOrId_Versi_10_.html
http://www.sharebeast.com/i9k537987o5d

- Ebook Rumaysho.com (9.3 MB) download di link-link berikut:https://www.box.com/s/h6vilcjwxocygb1iul4i
http://www.mediafire.com/?mfgm3f2xegs8g1v
http://www.sharebeast.com/jkf9sl9khgzq 
http://www.4shared.com/file/Qy_hObS3/Offline_RumayshoCom_Versi_20.html

- Ebook Offline Firanda.com (Ukuran 9.3MB) :http://www.sharebeast.com/3x1elbhddebn
http://www.mediafire.com/?92v4alaf3ng637l
http://www.4shared.com/file/on1_ngZe/Offline_Firandacom_Versi_10.html
https://www.box.com/s/b71g0sowlt0cmjj6k1v4

- Ebook Abumushlih.com (1.8 MB)http://www.sharebeast.com/7s0lpl11xdj9 
http://www.mediafire.com/?hcyfs5hkjww47g1
https://www.box.com/s/949daa1ypx83frncu8bj
http://www.4shared.com/file/0XvT76sp/Offline_Abumushlihcom_Versi_10.html 

- Offline Almanhaj.or.id (06 Oktober 2012) CHM ukuran 58MB:https://www.box.com/s/jwogcxvvuxxqk39wcam 
http://www.mediafire.com/?1kkff81uz0lzoi2
http://www.sharebeast.com/trhjhdfgq2ex

- Ebook Abiubaidah.com (Ukuran 1.1MB) :http://www.sharebeast.com/bfrs1tw0thq9
http://www.mediafire.com/?f8f0wmrcevhdist 
https://www.box.com/s/4e6glg0tr81nodxpe00z
http://www.4shared.com/file/iKWjHgUh/Offline_Abiubaidahcom_Versi_10.html

- Ebook Buletin Al-Ilmu (Ukuran 1.2MB) :http://www.sharebeast.com/dcfgrnahmpim
http://www.mediafire.com/?7dq69y31nf9ia0n 
https://www.box.com/s/w5qaba43mq6x1en2poc3 
http://www.4shared.com/file/OoXiwmoL/Offline_Buletin_Al_Ilmu.html

- Offline Blog Abul Jauzaa Versi 03 :

http://sites.google.com/site/4buluqman/MajalahAsySyariahvp_2.2chm.rar
__________________

Download Ebook-Ebook lainnya yang belum kami cantumkan di sini: http://faisalchoir.blogspot.com/2011/07/halaman-download.html
http://faisalchoir.blogspot.com/2011/09/download-ii_17.html
http://faisalchoir.blogspot.com/2012/02/halaman-download-iii.html
• Lainnya silahkan cari di Artikel kategori Download disini: http://faisalchoir.blogspot.com/search/label/Halaman%20Download

*****

Bagi yang mau silahkan bisa ditag / dishare sendiri.

Semoga bermanfaat.
Sahabatmu Faisal Choir.



Ebook-Ebook Lainnya >>>>> http://islamchm.blogspot.com/

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Tuesday, September 25, 2012

Mencari-Cari Ketergelinciran Ulama

Mencari-Cari Ketergelinciran Ulama
Sejelek-jelek hamba Allāh subḥānahu wa ta’ālā adalah mereka yang memungut masalah-masalah ganjil untuk menipu para hamba Allāhsubḥānahu wa ta’ālā.
(Ḥasan Al-Baṣri)
Disebutkan dalam sebuah kisah, Ismā’īl Al-Qāḍī raḥimahullāh pernah mendatangikhalifah Abbasiyyah ketika itu. Kemudian, disuguhkan kepada beliau sebuah kitab yang berisi keringanan dan ketergelinciran para ulama. Setelah membacanya, beliau berkomentar, “Penulis kitab ini adalah zindiq, karena orang yang membolehkan minuman memabukkan tidaklah membolehkan nikah mu’tah (nikah kontrak), dan orang yang membolehkan nikah mut’ah tidak membolehkan nyanyian. Tidak ada seorang ‘ālim (orang berilmu-ed) pun kecuali memiliki ketergelinciran. Barangsiapa memungut semua kesalahan ulama, niscaya akan hilang agamanya.”
Akhirnya, buku ini diperintah untuk dibakar.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’)
—–
Ternyata, sikap memanfaatkan ketergelinciran ulama untuk bermudah-mudahan dalam beragama terjadi pula di zaman sekarang. Kita dapati ada orang membolehkan musik karena mengikuti pendapat Ibnu Hazm. Ada pula yang bertukar foto untuk ta’aruf antara laki-laki dan perempuan, dengan alasan ada ulama yang tidak mengharamkan fotografi. Ada juga yang menganggap boleh-boleh saja jika wanita menikah tanpa wali karena mengikuti pendapat Hanafiyyah. Demikian seterusnya, dikumpulkanlah segenap pendapat-pendapat ulama yang menguntungkan hawa nafsu semata. Padahal, sejak zaman dulu, para ulama sudah memberikan peringatan akan bahaya melakukan perbuatan seperti ini. Sulaimān At-Taimi raḥimahullāh berkata,
“Apabila Engkau mengambil setiap ketergelinciran ulama, telah berkumpul pada dirimu seluruh kejelekan.”
Perlu diperhatikan oleh setiap pemuda muslim bahwa sikap mencari-cari kesalahan ulama (dan memanfaatkan kesalahan tersebut untuk kepentingan hawa nafsunya) memiliki banyak dampak negatif. Imam Asy-Syāṭibi raḥimahullāh (dalam Al-Muwafaqāt) menyebutkannya sebagai berikut:
  1. Keluar dari agama, karena tidak mengikuti dalil, tetapi mengikuti perselisihan
  2. Meremehkan agama
  3. Mencampuradukkan pendapat sehingga keluar dari ijma’ ulama
  4. Meninggalkan sesuatu yang maklum menuju sesuatu yang bukan maklum
  5. Merusak undang-undang politik syar’i yang dibangun di atas keadilan sehingga aan mengakibatkan kerusakan.
Akhirnya, semoga setiap pemuda muslim punya rasa takut kepada Allah ta’ālā dan ingat bahwa kelak setiap perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allāh, sehingga tidak menggampangkan diri untuk mencari-cari ketergelinciran dan keringanan ulama serta menyebarkan pendapat-pendapat ganjil, agar sesuai dengan hawa nafsunya.
Ibnul Qayyim raḥimahullāh (dalam Al-Wābiluṣ Ṣayyib) berkata,
“Termasuk tanda-tanda pengagungan perintah dan larangan adalah dengan tidak mencari-cari keringanan sehingga dia terjerumus pada batas yang menjadikannya tidak lurus di atas jalan yang lurus.”

(Kutipan perkataan salaf dalam artikel ini mengambil dari tulisan Ustaż Abū ’Ubaidah Yūsuf As-Sidawī, “Benang Tipis antara Kemudahan Islam dan Kemudahan Modern”, Majalah Al-Furqon, edisi 9 Rabi’uts-Tsani 1431).
—-
sumber ilustrasi gambar: http://ht.ly/dVJTQ
By: Ginanjar Indrajati

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Sunday, September 23, 2012

Ilmu Kebutuhan Sepanjang Waktu

Sahabat seakidah, para pemuda muslim yang dirahmati Allah… Kehidupan yang kita jalani penuh dengan warna. Tidak hanya suka, bahkan tidak jarang duka pun melanda. Tidak hanya sehat, bahkan sakit pun terkadang menimpa. Tidak hanya lapang, bahkan kesempitan pun menyapa. Hidup penuh dengan cobaan dan godaan.
Dengan latar belakang semacam itu, wajarlah jika setiap hari kita diperintahkan untuk berdoa memohon hidayah kepada Allah di dalam setiap raka’at sholat kita. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Dengan ucapan anda ‘Ihdinash shirathal mustaqim‘ itu artinya anda telah meminta kepada Allah ta’ala ilmu yang bermanfaat dan amal yang salih.” (lihat Tafsir Juz ‘Amma, hal. 12).
Lebih Urgen Daripada Oksigen
Nu’aim bin Hammad menceritakan: Aku mendengar Abdullah bin Mubarak -semoga Allah meridhainya- mengatakan -pada saat orang-orang mencela beliau karena begitu seringnya beliau mencari hadits-; ketika itu mereka berkata kepadanya,“Sampai kapan kamu akan terus mendengar hadits?”. Beliau pun menjawab,“Sampai mati!” (lihat al-’Ilmu, Syarafuhu wa Fadhluhu, hal. 77)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “… Kebutuhan kepada ilmu di atas kebutuhan kepada makanan, bahkan di atas kebutuhan kepada nafas. Keadaan paling buruk yang dialami orang yang tidak bisa bernafas adalah kehilangan kehidupan jasadnya. Adapun lenyapnya ilmu menyebabkan hilangnya kehidupan hati dan ruh. Oleh sebab itu setiap hamba tidak bisa terlepas darinya sekejap mata sekalipun. Apabila seseorang kehilangan ilmu akan mengakibatkan dirinya jauh lebih jelek daripada keledai. Bahkan, jauh lebih buruk daripada binatang di sisi Allah, sehingga tidak ada makhluk apapun yang lebih rendah daripada dirinya ketika itu.” (lihat al-’Ilmu, Syarafuhu wa Fadhluhu, hal. 96)
Syaikh Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah berkata, “Kebutuhan seorang muslim terhadap hidayah menuju jalan yang lurus lebih besar daripada kebutuhannya kepada makanan dan minuman. Sebab makanan dan minuman adalah bekal untuknya dalam kehidupan dunia, sedangkan hidayah jalan yang lurus adalah bekalnya untuk negeri akherat. Oleh sebab itulah terdapat doa untuk memohon hidayah menuju jalan yang lurus ini di dalam surat al-Fatihah yang ia wajib untuk dibaca dalam setiap raka’at sholat; baik sholat wajib maupun sholat sunnah.” (lihatQathfu al-Jana ad-Dani Syarh Muqoddimah Risalah Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani, hal. 114)
Sebagian orang yang arif mengatakan, “Bukankah orang yang sakit apabila dihalangi dari makanan dan minuman serta obat maka dia akan mati?”. Orang-orang menjawab, “Ya, benar.” Lalu dia menimpali, “Maka demikian pula hati, apabila ia terhalangi dari ilmu dan hikmah selama tiga hari niscaya ia akan mati.” (lihatal-’Ilmu, Syarafuhu wa Fadhluhu, hal. 144)
Lebih Penting Daripada Air
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah subhanahu menjadikan ilmu bagi hati laksana air hujan bagi tanah. Sebagaimana tanah/bumi tidak akan hidup kecuali dengan curahan air hujan, maka demikian pula tidak ada kehidupan bagi hati kecuali dengan ilmu.” (lihat al-’Ilmu, Syarafuhu wa Fadhluhu, hal. 227)
Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah utus aku untuk mendakwahkannya laksana hujan deras yang membasahi bumi. Di muka bumi itu ada tanah yang baik sehingga bisa menampung air dan menumbuhkan berbagai jenis pohon dan tanam-tanaman. Adapula jenis tanah yang tandus sehingga bisa menampung air saja dan orang-orang mendapatkan manfaat darinya. Mereka mengambil air minum untuk mereka sendiri, untuk ternak, dan untuk mengairi tanaman. Hujan itu juga menimpa tanah yang licin, ia tidak bisa menahan air dan tidak pula menumbuhkan tanam-tanaman. Demikian itulah perumpamaan orang yang paham tentang agama Allah kemudian ajaran yang kusampaikan kepadanya memberi manfaat bagi dirinya. Dia mengetahui ilmu dan mengajarkannya. Dan perumpamaan orang yang tidak mau peduli dengan agama dan tidak mau menerima hidayah Allah yang aku sampaikan.” (HR. Bukhari)
Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan segi keserupaan antara hujan dengan ilmu agama. Beliau berkata, “Sebagaimana hujan akan menghidupkan tanah yang mati (gersang), demikian pula ilmu-ilmu agama akan menghidupkan hati yang mati.” (lihat Fath al-Bari [1/215]).
Pondasi Tegaknya Ibadah
Ilmu merupakan pondasi tegaknya amalan dan ibadah. Sebagian salaf berkata, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu maka dia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.” (lihat al-’Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 93)
Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Tidak akan diterima ucapan kecuali apabila dibarengi dengan amalan. Tidak akan diterima ucapan dan amalan kecuali jika dilandasi dengan niat. Dan tidak akan diterima ucapan, amalan, dan niat kecuali apabila bersesuaian dengan as-Sunnah.” (lihat al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil munkar karya Ibnu Taimiyah, hal. 77 cet. Dar al-Mujtama’)
Imam Bukhari rahimahullah membuat sebuah bab dengan judul Bab. Ilmu sebelum ucapan dan amalan (lihat Shahih al-Bukhari cet. Maktabah al-Iman, hal. 30). Ibnul Munayyir rahimahullah mengatakan, “Beliau -Imam Bukhari- ingin menjelaskan bahwa ilmu menjadi syarat sah ucapan dan amalan. Keduanya tidak dinilai apabila tidak dilandasi ilmu. Oleh sebab itu ilmu lebih didahulukan di atas keduanya; sebab ilmu merupakan faktor yang meluruskan niat, dan niat itulah yang menentukan kelurusan amalan.” (lihat Fath al-Bari [1/195] cet. Dar al-Hadits)
Ilmu Yang Bermanfaat
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amalan. Kalau seorang hamba memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya maka dia telah mengikuti jalannya orang-orang yang dimurkai -al-maghdhubi ‘alaihim-. Adapun apabila dia beramal namun tanpa landasan ilmu maka dia telah mengikuti jalannya orang-orang yang sesat -adh-dhaallin-. Apabila ilmu dan amal itu berjalan beriringan pada diri seorang hamba maka dia telah berjalan di atas jalannya orang-orang yang diberi karunia oleh Allah; yaitu jalannya para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih (lihatThariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 21)
Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk menyelamatkan dirinya maka sedikit darinya telah mencukupi. Akan tetapi barangsiapa yang menuntut ilmu demi memenuhi kebutuhan seluruh manusia, maka kebutuhan manusia itu tidak ada habisnya.” Lalu Syaikh Ibrahim ar-Ruhailihafizhahullah mengatakan, “Oleh sebab itu sebenarnya tidak semestinya seorang memperbanyak ilmu namun tidak mengiringinya dengan amalan.” (dikutip dari rekaman ceramah Syarh Tsalatsat al-Ushul oleh Syaikh Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili hafizhahullah)
Imam Ibnul Qoyyim rahimahulllah berkata, “… Seandainya ilmu bisa bermanfaat tanpa amalan niscaya Allah Yang Maha Suci tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab. Dan jika seandainya amalan bisa bermanfaat tanpa adanya keikhlasan niscaya Allah juga tidak akan mencela orang-orang munafik.” (lihat al-Fawa’id, hal. 34).
al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ilmu yang tertancap di dalam hati dan ilmu yang sekedar berhenti di lisan. Ilmu yang tertancap di hati itulah ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu yang hanya berhenti di lisan itu merupakan hujjah/bukti bagi Allah untuk menghukum hamba-hamba-Nya.” (lihatal-Iman, takhrij al-Albani, hal. 22)
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat, akan tetapi hakikat ilmu itu adalah khas-yah/rasa takut kepada Allah.” (lihat al-Fawa’id, hal. 142). Beliau juga mengatakan, “Cukuplah rasa takut kepada Allah bukti keilmuan, dan cukuplah ketertipuan diri karena kemurahan Allah sebagai bukti kebodohan.” (lihat al-Iman, takhrij al-Albani, hal. 22).
Ibnus Samak rahimahullah berkata, “Wahai saudaraku. Betapa banyak orang yang menyuruh orang lain untuk ingat kepada Allah sementara dia sendiri melupakan Allah. Betapa banyak orang yang menyuruh orang lain takut kepada Allah akan tetapi dia sendiri lancang kepada Allah. Betapa banyak orang yang mengajak ke jalan Allah sementara dia sendiri justru meninggalkan Allah. Dan betapa banyak orang yang membaca Kitab Allah sementara dirinya tidak terikat sama sekali dengan ayat-ayat Allah. Wassalam.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 570)
Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Kelak pada hari kiamat didatangkan seorang lelaki, lalu dia dilemparkan ke dalam neraka. Usus perutnya pun terburai. Dia berputar-putar seperti seekor keledai mengelilingi alat penggilingan. Para penduduk neraka berkumpul mengerumuninya. Mereka pun bertanya kepadanya, “Wahai fulan, apa yang terjadi padamu. Bukankah dulu kamu memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar?”. Dia menjawab, “Benar. Aku dulu memang memerintahkan yang ma’ruf tapi aku tidak melaksanakannya. Aku juga melarang yang mungkar tetapi aku justru melakukannya.”.” (HR. Bukhari no. 267 dan Muslim no. 2989)
Waspadai Jebakan Setan!
Qatadah berkata, “Sesungguhnya setan tidak pernah membiarkan lolos seorang pun di antara kalian. Bahkan ia pun datang melalui pintu ilmu. Setan mengatakan,“Untuk apa kamu terus-menerus menuntut ilmu? Seandainya kamu mengamalkan semua (ilmu) yang telah kamu dengar, niscaya itu sudah cukup bagimu.” Qatadah berkata: Seandainya ada orang yang boleh merasa cukup dengan ilmunya, niscaya Musa ‘alaihis salam adalah orang yang paling layak untuk merasa cukup dengan ilmunya. Akan tetapi Musa berkata kepada Khidr (yang artinya), “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau bisa mengajarkan kepadaku kebenaran yang diajarkan Allah kepadamu.” (QS. al-Kahfi: 66).” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal [1/136])
Sufyan rahimahullah pernah ditanya, “Menuntut ilmu yang lebih kau sukai ataukah beramal?”. Beliau menjawab, “Sesungguhnya ilmu itu dimaksudkan untuk beramal, maka jangan tinggalkan menuntut ilmu dengan dalih untuk beramal, dan jangan tinggalkan amal dengan dalih untuk menuntut ilmu.” (lihat Tsamrat al-’Ilmi al-’Amal, hal. 44-45)
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabukan Doa.


Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Friday, September 14, 2012

Pilih Menghafal Quran Atau Menuntut Ilmu Dahulu?


menghafal al quranSatu prioritas yang mesti dikedepankan dalam mempelajari ilmu syar’i adalah menghafalkan Al Qur’an. Namun sedikit yang mau perhatian dengannya. Kalau sedikit demi sedikit ditekuni, sebenarnya kita pun bisa menjadi seperti mereka-mereka yang telah menghafalkan Al Qur’an. Menghafalkan satu dua juz saja, itu berarti kita sudah menjadi bagian dari penjaga Qur’an. Yang penting kontinu dan rutin dijaga. Namun apakah selalu menghafal Qur’an lebih didahulukan dari mempelajari ilmu syar’i lainnya? Dan apakah menghafal hanya sekedar menghafal tanpa direnungkan maknanya lalu diamalkan?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya, “Manakah yang lebih afdhol, mempelajari Al Qur’an ataukah menuntut ilmu (syar’i)?”
Jawaban beliau rahimahullah, “Ilmu yang wajib dipelajari setiap muslim adalah ilmu yang berisi perintah Allah dan larangan-Nya. Mempelajari ilmu semacam ini lebih didahulukan dari menghafalkan Al Qur’an yang tidak wajib. Mempelajari ilmu semacam tadi itu wajib sedangkan menghafalkan Al Qur’an ketika itu dihukumi sunnah. Dan sekali lagi, yang wajib lebih didahulukan dari ilmu yang sunnah.
Adapun menghafal Al Qur’an, maka itu didahulukan dari ilmu lainnya baik ilmu yang bathil atau ilmu yang sedikit manfaatnya. Menghafal Qur’an juga lebih didahulukan dari mempelajari ilmu ushul (pokok) dan furu’ (cabang). Untuk waktu saat ini, lebih baik mendahulukan menghafal Al Qur’an karena Qur’an adalah ushul setiap ilmu. Berbeda dengan yang dilakukan oleh kebanyakan ahli bid’ah dari kalangan non Arab dan selainnya di mana mereka lebih menyibukkan diri dengan ilmu yang tidak manfaat semacam banyak omongan, banyak berdebat, membahas masalah khilaf (perselisihan pendapat), ilmu furu’ yang tidak urgent dikaji, masalah taklid yang tidak perlu dibahas, atau membahas hadits ghorib (yang tidak shahih dan tidak ada manfaat untuk dikaji), begitu pula dengan ilmu matematika yang tidak bisa dijadikan hujjah yang kuat. Hal ini dilakukan sampai meninggalkan menghafal Al Qur’an, padahal Al Qur’an lebih penting dari semua ilmu tersebut.
Dan perlu sekali masalah ini didetailkan. Yang dituntut dari Al Qur’an adalah memahami maknanya dan mengamalkan isinya. Jika tujuannya menghafalnya bukanlah untuk maksud tersebut, maka tentu ia bukan seorang yang berilmu atau ulama. Wallahu subhanahu a’lam.” (Al Majmu’ Al Fatawa, 23: 54-55)
Tentu memiliki akidah yang benar dan cara ibadah yang benar, itu lebih didahulukan dari menghafal Qur’an. Jika cara ini sudah ditempuh dengan benar barulah mengambil prioritas untuk menghafal Qur’an daripada mengambil bagian untuk mempelajari ilmu lain yang tidak bermanfaat. Karena sebagaimana diterangkan di atas, Al Qur’an adalah ushul (pokok) segala ilmu.
Semoga Allah memudahkan kita untuk menjadi ahli Al Qur’an. Wallahu waliyyut taufiq.

@ Sakan 27 Kamar 201, Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh KSA, 22 Syawal 1433 H

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Friday, July 20, 2012

Berkorban Harta Demi Belajar


buku_belajarYang namanya belajar pasti membutuhkan kitab atau buku. Inilah yang dibutuhkan bagi setiap orang yang ingin belajar ilmu apa pun. Terutama lagi ilmu agama. Kebutuhan akan buku agama sangatlah urgent. Sampai-sampai para ulama menyebut kitab sebagai harta utama. Dan mereka menasehatkan agar membeli buku lebih diutamakan dari kesenangan dunia lainnya.
Di antara nasehat berharga Dzun Nuun al Mishriy:
Tiga perkara yang merupakan tanda kebaikan dari seseorang yang mempelajari ilmu agama,
1. Mengagungkan ulama dengan bersikap tawadhu' (rendah diri) terhadap mereka.
2. Menutup mata dari 'aib manusia, yang ia perhatikan adalah 'aib pada diri sendiri.
3. Mengorbankan harta untuk menuntut ilmu (agama) dan itu lebih diutamakan dari kesenangan dunia lainnya.
Kitab di mata para ulama terasa istimewa sampai-sampai mereka katakan sebagai harta utama mereka. Al Kholil bin Ahmad berkata, "Jadikanlah buku-buku kalian sebagai harta utama dan nafkah hati bagi kalian."
Saking semangatnya para ulama dalam mengumpulkan kitab, mereka pun jadi orang-orang pailit. Coba lihatlah keadaan Yahya bin Ma'in. Beliau mendapatkan harta peninggalan dari ayahnya yang amat banyak, "alf-alf (milyun) wa khomsiina alf dirham" (1 juta, 50.000 dirham). Seluruh harta tersebut beliau infakkan untuk mengumpulkan hadits dan mengumpulkan berbagai kitab. Sampai ia pun jatuh pailit. Sampai-sampai ia tidak memiliki sendal untuk digunakan. Namun karena kebangkrutannya ini, ia pun menjadi imam besar dalam jarh wa ta'dil, tanpa disangsikan lagi."
Oleh karena itu di antara ulama seperti Syu'bah bin Al Hajjaj pernah berkata,
من طلب الحديث أفلس
"Barangsiapa menuntut ilmu hadits, maka ia pasti akan jatuh bangkrut."
Namun catatan yang harus diingat. Mengumpulkan buku tidaklah bermanfaat sampai seseorang membukanya dengan bermajelis bersama para ulama. Imam Asy Syatibi mengatakan, "Dahulu ilmu itu berada dalam hati setiap orang. Kemudian ilmu tersebut berpindah ke buku. Namun buku tersebut punya kunci untuk membukanya. Buku saja dengan sendirinya tidak mendatangkan manfaat sampai buku tersebut dibuka oleh para ulama."
Syaikh Syarif Hatim hafizhohullah berkata, "Wajib bagi penuntut ilmu mencurahkan tenaganya untuk lebih perhatian pada kitab. Seharusnya ia mendahulukan membeli kitab dari kebutuhan makan, minum dan pakaiannya. Jangan sampai ia luput untuk mengumpulkan kitab kecil maupun besar dalam ilmu hadits maupun ilmu lainnya."
Catatan: Bukan berarti perkataan Syaikh Syarif Hatim ini sampai melalaikan kebutuhan primer yang dibutuhkan asal tidak sampai berlebih-lebihan. Karena jika kebutuhan primer berupa makanan, minuman dan pakaian sampai terlalaikan, maka ini bisa membinasakan diri sendiri. Padahal kita dilarang untuk membinasakan diri kita sendiri.
Semoga Allah senantiasa memberi kita taufik dalam ilmu, amal dan dakwah. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
SumberNasho-ihu Manhajiyyah lii Tholabi 'Ilmis Sunnah An Nabawiyah, karya Syaikh Syarif Hatim bin 'Arif Al 'Auni, hal. 123-126, terbitan Darush Shumai'iy, thn 1432 H.

@ Trip with Merpati Nusantara, Jogja-Makassar
27 Sya'ban 1433 H

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Indahnya Ramadhan Bersama Al Qur'an

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan warna ketaatan. Selain ibadah puasa di siang hari, kaum muslimin dapat menikmati keindahan tadabbur dan tilawah al-Qur’an di malam hari. Dengan merenungkan ayat-ayat al-Qur’an itulah ketenangan jiwa akan didapatkan.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah, bahwa dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan berdzikir kepada Allah dalam ayat ini adalah Kitab-Nya. Yaitu, tatkala seorang mukmin mengetahui kandungan hukum dari ayat-ayat Allah yang menunjukkan kepada kebenaran maka hatinya pun merasakan ketentraman. Sebab hatinya tidak bisa merasakan ketentraman tanpa ilmu dan keyakinan, sementara ilmu dan keyakinan itu bisa diperoleh dengan memperhatikan Kitabullah tersebut (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 418 cet. Ar-Risalah)

Membaca dan merenungkan ayat-ayat al-Qur’an adalah bagian dari dzikir. Sementara kedudukan dzikir bagi seorang insan laksana air bagi seekor ikan. Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah mengatakan, “Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Apakah yang akan terjadi jika ikan dipisahkan dengan air?” Bagaimana mungkin seorang hamba mengaku mencintai Allah, sementara hati dan lisannya kering dari mengingat dan memuji-Nya?!

Demikianlah yang telah dipraktekkan oleh salafus shalih. Mereka adalah suatu kaum yang mengagungkkan Kitabullah dengan semestinya. Mereka tidak hanya mengimani al-Qur’an sebagai bacaan ataupun wahyu dari sisi-Nya, tetapi mereka juga menerapkan ajarannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika mereka mendapatkan predikat generasi terbaik umat ini. Gelar yang layak mereka sandang, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu)

Para sahabat radhiyallahu’anhum telah menjadi teladan bagi generasi berikutnya dalam menjadikan al-Qur’an sebagai jalan hidup mereka. Oleh sebab itu mereka pun mulia di sisi Allah karena ketakwaan mereka, kedalaman ilmu mereka, amal salih mereka, dan kecintaan mereka yang teramat besar terhadap Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sebagian kaum dengan Kitab ini dan akan merendahkan sebagian yang lain dengan Kitab ini pula.” (HR. Muslim dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu)
Mereka adalah sebuah generasi yang telah ridha terhadap Allah, Islam dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak rela untuk menjual keimanan dan tauhid yang mereka miliki dengan kenikmatan dunia apapun. Mereka lebih memilih disiksa daripada harus menuruti kemauan thaghut dan dedengkot kekafiran. Seperti Bilal bin Rabah radhiyallahu’anhu yang rela tubuhnya tersengat teriknya panas padang pasir dan kesakitan di bawah tindihan batu dengan kalimat ‘Ahad, Ahad’ yang terus mengalir dari bibirnya yang mulia. Itulah manisnya iman yang mereka gapai dengan segenap pengorbanan dan perjuangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan manisnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim dari al-’Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu’anhu)
Para sahabat hidup di bawah naungan al-Qur’an. Sehingga ayat-ayat suci itu mewarnai hidup dan kehidupan mereka, mewarnai hati dan tingkah laku mereka. Tidak sebagaimana kaum Khawarij yang hanya menjadikan al-Qur’an sebagai hiasan di bibir dan lisan mereka. Akan tetapi, pemikiran dan keyakinan mereka melesat dari agama sebagaimana melesatnya anak panah menembus sasarannya.

Kaum Khawarij itulah -meskipun mereka memiliki banyak hafalan al-Qur’an dan bersungguh-sungguh dalam beribadah- kelompok orang yang mendapatkan celaan keras dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka lah yang disebut sebagai anjing-anjing neraka. Sejelek-jelek manusia dan seburuk-buruk kaum yang terbunuh di bawah kolong langit ini. Bahkan, bagi orang yang berhasil membunuh mereka Nabi janjikan pahala yang besar di sisi Allah pada hari kiamat kelak.

Para sahabat radhiyallahu’anhum tidak memandang al-Qur’an sebagai kumpulan dongeng atau cerita pelipur lara belaka. Bahkan, mereka menjadikan al-Qur’an sebagai undang-undang kehidupan mereka dalam hidup bermasyarakat dan bernegara, dalam hidup individu dan rumah tangga. Mereka pun tidak menganggap bahwa masa berlakunya hukum-hukum Kitabullah hanya untuk dua atau tiga generasi saja. Bahkan, al-Qur’an itu cocok dan sesuai dengan segala masa dan suasana. Oleh sebab itu Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berpesan, “Ikutilah tuntunan dan janganlah kalian mengada-adakan ajaran baru, karena sesungguhnya kalian telah dicukupkan.”

Para sahabat radhiyallahu’anhum menjadikan al-Qur’an sebagai sesuatu yang harus diyakini dan diamalkan, bukan sesuatu yang harus diragukan apalagi untuk diperdebatkan! Mereka sangat yakin bahwa al-Qur’an adalah sebaik-baik pembicaraan, sejujur-jujur perkataan, dan sebaik-baik petunjuk bagi kemanusiaan. Ia diturunkan dari sisi Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Tidaklah datang kepadanya kebatilan, dari arah depan, maupun dari arah belakang. Seandainya seluruh manusia bersatu padu untuk membuat sesuatu yang serupa dengannya, niscaya mereka akan gagal dan tidak sanggup melakukannya, meskipun mereka bahu-membahu dan saling membantu satu dengan yang lain. Tidak mungkin mereka bisa menandingi mukjizat yang agung ini. Inilah kemuliaan al-Qur’an yang akan membuat tentram dan sejuk hati insan beriman. Dan sebaliknya, ia tidak akan mendatangkan pengaruh kepada orang-orang yang zalim kecuali kerugian dan kebencian.

Salafus shalih telah memberikan teladan kepada kita dalam mewarnai bulan yang mulia ini dengan interaksi yang intensif bersama al-Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri setiap tahunnya menyetorkan hafalan al-Qur’an kepada Jibril ‘alaihis salam di setiap malam di bulan Ramadhan. Demikian pula salafus shalih, mereka memperbanyak membaca al-Qur’an di bulan Ramadhan, di dalam maupun di luar sholat. Az-Zuhri rahimahullah berkata apabila telah masuk bulan Ramadhan, “Sesungguhnya ini adalah kesempatan untuk membaca al-Qur’an dan memberikan makanan.” Imam Malik rahimahullah, apabila telah datang bulan Ramadhan maka beliau menutup majelis hadits dan mengkhususkan diri untuk membaca al-Qur’an dari mushaf. Qatadah rahimahullah pada bulan Ramadhan mengkhatamkan al-Qur’an setiap tiga malam, sedangkan pada sepuluh hari terakhir beliau mengkhatamkannya setiap malam. Begitu pula Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah, pada sepuluh hari terakhir beliau mengkhatamkan al-Qur’an setiap dua malam (lihat Majalis Syahri Ramadhan karya Syaikh Utsaimin, hal. 26-27 cet. Dar al-’Aqidah)

Wahai saudaraku, ucapan manusia…Telah membuat kita lupa akan ucapan Rabb kita Kita sibuk dengan perkataan si fulan atau ‘allanSementara kita lalai dari nasehat dan bimbingan ar-Rahman Saudaraku, bulan penuh berkah ada di hadapanJangan sampai ia berlalu sedangkan kita terus tenggelam dalam kelalaian Ya Allah, Ya Rabbi, pertemukanlah kami dengan bulan ituLarutkanlah kami dalam malam-malam indah bersama-Mu…

Penulis: Ari Wahyudi
Artikel Muslim.Or.Id

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More