Share
div id='fb-root'/>

Kaya tidak diukur dengan banyaknya harta

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bertakwa itu dimana saja

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutkanlah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapuskannya dan berakhlaqlah dengan sesama dengan akhlaq yang baik.”(HR Tirmidzi 1987)

Mudahkan Kesulitan Saudara Kita

“Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”(HR Muslim 2699)

Segeralah Bertaubat

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133)

Bersemangatlah untuk Beramal Shalih

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97)

Showing posts with label hikmah. Show all posts
Showing posts with label hikmah. Show all posts

Thursday, January 3, 2013

Ukhuwah itu Indah


Sebuah kisah dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam beserta sahabatnya Abu Bakar As Sidiq.
Suatu ketika dalam perjalanan ke Madinah, Rasululllah dan Abu Bakar  bersembunyi di gua tsur. Rasulullah tidak terbiasa menaiki tempat seperti itu. Tempat itu diimpit bebatuan runcing dan tajam sedangkan beliau tidak beralas kaki. Kaki beliau pun terluka parah. Melihat hal itu, Abu Bakar menuntun Rasulullah hingga mulut gua. Ketika Rasulullah akan masuk, Abu Bakar mencegahnya dan berkata,:Janganlah engkau masuk hingga aku masuk terlebih dahulu.”
Abu Bakar masuk dan meraba-raba rongganya. Ia mendapati tiga lubang kecil. Disobeknya kain untuk menutupi satu lubang dan dua lubang yang lain ditutup dengan kedua kakinya karena khawatir jika lubang itu adalah sarang binatang buas. Kemudian ia mengundang Rasulullah untuk masuk. Karena sangat letih, beliau tertidur.
Kekhawatiran Abu Bakar terbukti, disalah satu lubang yang ia tutupi dengan kakinya terdapat ular berbisa. Kaki Abu Bakar dipatuk. Namun, dalam keadaan demikian ia tidak menarik kakinya agar ular itu tidak keluar dari tempatnya kemudian membangunkan rasulullah. Karena rasa sakit yang begitu hebat, Abu Bakar tidak kuasa menahannya dan air mata kesakitan menetes di wajah Rasulullah. Beliau terkejut dan bangun.
Ketika beliau mengetahui kaki Abu Bakar dipatuk ular, maka beliau mengobati luka itu hingga sembuh.
Saat siang menjelang,cahaya pun masuk ke gua. Rasulullah melihat Abu Bakar tidak lagi memakai bajunya. Ketika ditanya Abu Bakar pun menceritakan tentang bajunya yang disobek untuk menutup lubang dalam gua. Rasulullah mengangkat tangan beliau sambil berdoa “ Ya Allah, jadikan Abu Bakar sederajat denganku di Hari Kiamat.”

Subhanallah,..begitu besar kekuatan ukhuwah hingga mengantarkan ia melihat wajah Allah.
Rasulullah bersabda: “laa yu’minu ahadukum hatta yuhibba li akhiihi maa yuhibbu linafsih”. Tidak beriman seorang diantara kamu hingga mencintai saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri.

Belajar dari kisah persahabatan di atas, Abu Bakar berusaha menjaga kenyamanan Rasulullah, mengutamakan beliau serta mencintai beliau lebih dari mencintai diri sendiri sampai dia rela mengorbankan diri. Dengan pengorbanan dan kecintaan kepada Rasulullah, Rasulullah pun mencintainya dan mendoakan kebaikan untuknya.
Akankah ukhuwah kita dengan sesama seperti itu?
Salah satu golongan yang akan dinaungi oleh ALLAH pada saat hari kiamat adalah dua orang yang bertemu dan berpisah karena Allah. Jika ukhuwah itu dilandasi dengan ketaqwaan, maka ketika dia bertemu dengan saudaranya, dia akan mengingat Allah.
Ada beberapa cara agar ukhuwah makin erat, antara lain:
  1. Katakanlah jika engkau mencintainya. Rasulullah terbiasa berkata:”Uhibbuka fillah” kepada sahabatnya.
  2. Berilah hadiah. Rasulullah bersabda “tahaadu tahaabbu”,saling memberi hadiahlah kamu maka kamu akan saling mencintai. Dengan memberi hadiah akan terjalin kedekatan hati.
  3. Menghibur saat sedih,mendengarkan dengan perhatian ketika sedang berbicara .
  4. Husnudzon, berbaik sangka terhadap saudara kita. Inna ba’ada dzanni itsmu. Sesungguhnya prasangka itu adalah dosa.
  5. Saling menolong dalam kebaikan. ….tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa…
  6. Itsar, mengutamakan kepentingan saudara kita demi kebaikan
  7. Saling mendoakan. Rasulullah bersabda.”Tidaklah seorang hamba muslim yang mendoakan (kebaikan) untuk saudaranya yang tidak sedang bersamanya kecuali malaikat berkata “semoga engkau mendapat yang semisalnya.” Ketika bertemu saudara kita, mengucapkan “assalamu’alaykum, barakallahu fiik, jazakallahu khairan” dsb juga merupakan doa yang akan membahagiakan hatinya.
  1. Saling menasihati. Nasihat merupakan salah satu bentuk kepedulian karena kita menghendaki kebaikan kepada saudara kita.”...saling menasihati supaya menaati kebenaran dan kesabaran.”
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa” (QS Az Zukhruf 67)

Khusnul Rofiana
3-1-2013
@green room Tambakbayan

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Saturday, September 8, 2012

[Kisah Nyata] Kecuali Pintu Langit Saja

Salah seorang ulama as-Salaf berkata: "Ada sebagian dosa yang hanya dapat diampuni dengan kesedihan terhadap anak istri.."

Seseorang menceritakan kepadaku untuk meyakinkan hal itu: "Sesungguhnya keluarga adalah penyumpal kenyataan ini, bukan sekedar rajutan khayal, bukan pula sebuah dongeng. Aku adalah seorang ayah. Anakku selalu mencari fokus pembicaraan. Usai bulan Ramadhan, dan seiring dengan kedatangan hari Ied, kuperhatikan bahwa anakku Abdullah yang baru berusia 2 tahun setengah terlihat lemah sekali, dan panas tubuhnya meningkat drastis. Senyumannya sirna, dan kecerahan wajahnya terlihat layu. Ia belum terbilang mahir berjalan, namun kini justru menjadi lemah secara tiba-tiba. Pandangannya kosong dan suaranya terputus-putus, mencari tempat untuk berbaring...

Kami segera mengompres dan memberinya obat penenang sambil berusaha mencari dokter. Tetapi panas tubuhnya kembali meningkat. Tak ada pilihan lain, tidak ada lagi waktu untuk bermusyarah...

Semua rumah sakit segera tergambar dalam benakku. Tetapi kami sekarang dalam liburan, maka kami pun memutuskan untuk mencari dokter jaga. Aku berkata kepada ibunya sambil menggendong anak tersebut: "Jangan khawatir. Anak-anak biasa seperti itu." Aku terus berbicara untuk menenangkan jiwanya sebelum menutup pintu. "Anak kecil itu mudah sekali terkena penyakit, namun juga mudah sembuh. Tenangkan pikiranmu dan bertawakallah kepada Allah.."

Setelah berjalan tersendat-sendat karena kemacetan, sinar dari luar menyilaukan matamu. Kemudian engkau masuk ke dunia lain, menaiki jenjang-jenjang rumah sakit.....

Dunia yang lambat, menyembunyikan segala senyuman. Tidak ada tempat di situ buat kesombongan dan sikap semena-mena. Manusia dalam dunia ini amat lemah, lemah sekali. Ada yang tertunduk kepalanya, ada yang memegangi perutnya dengan kedua tangannya, ada lagi yang mengerang dengan rintihan yang mencegah kesunyian, namun tidak diketahui mana orangnya..

Adapun orang-orang yang terluka dan darah yang mengucur, bisa engkau lihat setiap saat, diawali dengan suara mobil ambulance di luar rumah sakit, tak lama kemudian engkau akan melihat dengan mata kepalamu.

Engkau tidak mengingat bahwa ada yang dinamakan dengan kondisi sehat wal afiat, kecuali bila engkau telah berada di tempat ini.

Di pojok kamar, terdapat orang tua berumur delapan puluh tahunan, seorang yang lanjut usia terlihat sudah kehilangan segala sesuatu!!

Pandangannya kosong, ke kiri dan ke kanan, mencari di mana dokter, mencari obat. Engkau tidak akan merasakan kenikmatan sehat, kecuali bila engkau melihat dan menyaksikan kejadian itu... Bisa jadi engkau akan melihat orang yang tampak sehat, tetapi berjalan lambat dan melompat-lompat seperti hendak menyeberangi lautan di mana orang-orang yang sakit... Kondisi putraku menjadi ringan bagiku, begitu kulihat bahwa rasa sakit itu ternyata memeras kondisi semua orang di situ..

Kami diberi berbagai macam obat. Aku sudah mencium bau kesehatan ketika keluar dari rumah sakit itu..

Pada hari pertama, kesehatannya sudah membaik sedikit. Namun setelah obat habis, panas itu datang lagi. Kami pun kembali ke dokter. Ketika aku menjelaskan kondisi anaakku, terlihat dalam pandangan mataku kegelisahan dan kegoncangan. Dokter itu berusaha menenangkan diriku: "Jangan khawatir." Lalu dia memberikan kepada kami obat-obatan yang sama seperti sebelumnya..!!

Kami gembira membawa obat tersebut. Namun kondisinya kembali seperti sebelumnya. Berulang-ulang kami berobat ke sana selama lima minggu berturut-turut, namun tidak ada hasilnya. Aku mulai dirundung rasa takut, sementara ibunya lebih takut lagi. Pembicaraan kami tinggal: Anak kita mulai melemah dan berkurang selera makannya. Berjalanpun ia lambat dan merasa sakit di tulang-tulangnya. Ibunya melihat wajahnya pucat sekali...

Dengan kondisi begini ia tidak hanya membutuhkan konsumsi obat dan pemeriksaan segera saja, tetapi harus diopname dan pemeriksaan lengkap. Aku merasa bahwa ada sesuatu, dan pasti ada hari-hari panjang yang menunggu kami. Aku mencium keningnya dan membawanya ke bagian rawat inap. Anakku mulai menerima berbagai jenis suntikan, sementara ia memelas-melas kepadaku. Aku hanya dapat memeganginya dengan kuat dan menyerahkannya untuk menerima suntikan...

Suaranya melengking keras, rintihannya pun terdengar kuat, sementara air matanya mengalir dan berjatuhan di tanganku, dan aku tetap memeganginya..

Air mata itu seolah berbicara kepadaku: "Kebekuan hati macam apa ini wahai ayahku?" Ada sesuatu dalam hatiku yang terbakar, dan dalam dadaku terasa jantungku mencair...

Air matamu wahai anakku, hanyalah sebuah titik di lautan luas. Wahai anakku, aku bukanlah patung dan hatiku bukanlah batu..

Beberapa hari berlalu sementara kami menanti-nanti. Setiap kali dokter menemui kami, kami selalu berusaha mendengar jawaban darinya. Kami menantikan kalimat yang dapat memberi harapan. Lukanya telah diobati. Namun meski banyak sudah pemeriksaan dilakukan, tidak juga membawa hasil!! Satu-satunya jawaban adalah, penyakit dalam darah..

Penurunan kesehatan anakku semakin bertambah, sehingga tidak mampu lagi untuk duduk, apalagi berdiri. Pandangan matanya yang tajam mengejarku terus setiap kali aku menghadap ke arahnya. Ada pertanyaan di kedua belah matanya: "Kapan aku keluar dari sini?"

Sinar harapan akan kesembuhannya mulai mengabur, ketika aku mendengar dokter itu berbicara kepada temannya: "Meskipun tubuhnya lemah sekali, tetapi kita tidak dapat mentransfusi darah kepadanya, karena itu akan mempengaruhi hasil pemeriksaan..

Dalam kondisi demikian, hari-hari berjalan lambat sekali, sementara anakku mulai kehilangan hidupnya... Dokter meminta kepada kami untuk memeriksakan sumsum tulangnya, karena itu ibarat pabrik darah bagi manusia.

Aku pun menyetujuinya tanpa ragu-ragu lagi, sementara hatiku bagaikan diperas menahan sakit, ketika aku melihat kepalanya. Tulang tengkoraknya kecil. Aku merasakan bulatan kepalanya itu dengan tanganku, seolah-olah aku mencari kesembuhan itu sendiri..

Setelah anakku dibius, diambillah sampel sumsum tulangnya. Dokter memintaku untuk memeriksakan ke rumah sakit spesialis. Aku berjalan membawa sampel sumsum itu. Mataku melotot sementara hatiku bergantung kepada Rabb dari langit ini, aku tidak lagi merasakan nikmatnya hidup dan nyamannya tidur...

Aku menyerahkan sampel itu kepada petugas laboratarium yang sudah disertai oleh jenis pemeriksaan yang dibutuhkan. Aku pun gembira. Mudah-mudahan hasil pemeriksaan ini dapat menghilangkan sakit yang dirasakannya.

Pada hari kedua, setelah masa-masa berlalu dengan lambat sementara detak jantungku berlomba dengan detak jarum jam. Aku tidak mampu lagi memikirkan segala sesuatu.

Aku menerima gagang telepon itu. Mudah-mudahan hasilnya sudah didapat. Aku menanti-nanti kesembuhan anakku...

Telingaku kembali lagi dapat mendengar dendang tawanya. Aku juga ingat bagaimana ia berlari untuk menyambut diriku, juga ketika ia duduk di atas punggungku dan juga ciumannya di keningku.

Dalam lantunan kegembiraan, ia menjawab dengan kata-kata yang meresahkan yang telah mencabik-cabik angan-anganku, mencerai-beraikan mimpi-mimpiku, memancarkan darahku di pembuluh darahku dan meninggalkan gemanya berbunyi di telingaku. Hatiku trenyuh dan air mataku pun berderai. Namun aku mengangkat jariku sambil berujar: "Alhamdulillah..."

Dokter berkata: "Penyakit anakmu adalah kanker darah..."

Berjalanlah waktu yang panjang, beku dan penuh kedukaan. Dunia terasa redup di pandangan mataku. Kedua kakiku tak mampu melangkah, seolah-olah jalan dihadapanku adalah jalan buntu, pintu-pintu tertutup, akan tetapi aku teringat masih ada satu pintu yang terbuka: pintu langit...

Aku gembira dengan keteguhan ini..

Alhamdulillah dan terus aku lanjutkan. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un. Jiwaku menyusul dan bergerak dengan berat. Dalam otakku berputar beberapa pertanyaan yang memiliki permulaan namun tidak pernah berakhir: "Sebentar lagi aku akan berpisah dengan anakku, bagaimana aku mengabarkan ini kepada ibu dan saudara-saudaranya? Bahkan bagaimana aku memandang kepadanya? Apakah dengan pandangan perpisahan? Atau dengan pandangan harapan? Berbagai pertanyaan datang silih berganti dan susul-menyusul mengetuk hatiku. Kemudian datang satu pertanyaan yang membuatku beranjak dari tempatku. Aku melompat dan berlari dengan kuat: "Apakah aku akan berjumpa dengannya di rumah sakit? Atau ia sudah meninggal dunia?"

Berbagai perasaan saling tindah menindih. Berbagai pertanyaan saling mengguntur. Aku membawa kakiku untuk berjalan di lorong-lorong rumah sakit sambil mengumpulkan kekuatan untuk berbicara..

Ibunya ada di sisinya dengan kegembiraan. Kabar gembira? Apa hasilnya?

Jawaban bagi kebingunganku lebih besar dari kebingungannya. Kebutuhanku untuk diam membungkam lebih besar dari kebutuhannya akan jawaban. Kelayuan dan kesuraman membayang di tempat tidur lagi. Aku menanti dengan cemas waktu demi waktu, menit demi menit. Kemudian ia akan diangkut ke Riyadh. Sedetik rasa bertahun-tahun dan semenit rasa berwindu-windu, berlalu dengan lambat dan berat. Akhirnya setelah lelah dan capek, ia pun dipindahkan...

Pada sore hari yang panjang, dan dalam sebuah perbincangan yang panjang pula..

Kesedihan menyelimuti sekeliling kami, rasa sakit seolah menegakkan panjinya di hati kami. Besok hari Raya Iedul Adha...

Satu waktu antara dua hari Raya Ied, seolah terdapat satu Ied lagi, yang dalam kondisi bagaimanapun engkau pasti datang, wahai Ied.

Bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah. Apapun yang ditakdirkan oleh Allah pasti akan terjadi. Aku mengusap kesedihan dari hatiku dan berdoa kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa doaku akan dikabulkan..

Pada hari kedua setelah Ied...

Terdengar teriakan anak-anak kecil yang mengusik telingaku, juga suara bercakap-cakap memperingatkan kegembiraan hati, ditambah ucapan selamat dari setiap lisan kaum muslimin...

Masalah yang dialami oleh Abdullah anakku berbeda. Ia justru meringkuk di tempat tidur menahan sakit. Aku memandanginya ketika ia sedang berbaring di atas kasurnya, berbolak-balik, tidak dapat bergerak bebas. Ia membuka kedua matanya dengan susah untuk menyakinkan bahwa aku ada di situ. Pandangan yang sulit dimengerti maksudnya. Aku mengusap air mata yang mengalir dari mataku karena melihatnya. Kondisi dan rasa sakit yang kualami bercerita:

Ketabahan enggan menerima segala tanda-tanda musibah yang kusaksikan

Aku melihat segala tali selain tali-Mu ya Allah pasti terputus

Setiap kali aku berdoa dengan menyebut nama-Mu tidak juga Engkau kabulkan

Padahal aku pantas untuk Engkau lihat dan Engkau dengarkan

Pada hari ini pengobatan secara kimiawi dilakukan terhadap anakku. Tahukah pembaca apa yang dimaksudkan dengan pengobatan kimiawi?

Yakni suntikan bercampur gizi makanan yang dimasukkan melalui darah untuk menghancurkan sel-sel busuk dan diganti dengan sel-sel bagus. Pengobatan itu membutuhkan waktu lama dan intensif selama tiga tahun..

Selama tiga bulan anakku dibius total untuk bergulat dengan penyakit dan agar tidak merasakan rasa sakit obat kimia itu selama tiga pekan. Akhirnya ada perkembangan baik sedikit. Ia mulai dapat berjalan dengan lambat dan gemetar. Dokter menyatakan kepada kami bahwa ada harapan ia akan diobati di kota kami itu. Dia melihat kesulitan yang kualami selama tinggal sendirian dengan anakku, sementara ibu dan saudara-saudaranya di sana.

Aku segera membawa anakku meninggalkan rumah sakit. Rasa duka dan kegundahan menggiring diriku. Seorang anak yang sedang bergulat dengan maut, dan di sana seorang ibu yang sedang bergulat dengan kesedihan, di sini seorang ayah sedang bergulat dengan hidupnya. Ada satu pertanyaan di mata anakku: "Kemana lagi engkau akan membawaku wahai ayahku? Tidakkah engkau lelah menggotongku? Kita hendak pergi ke rumah sakit lain, atau ke rumah kita saja? Aku ingin melihat ibuku..."

Kami tinggal sebentar saja, lalu kami terpaksa kembali lagi setelah dua bulan. Satu minggu setelah kami tinggal di rumah sakit, kami melakukan pemeriksaan lagi..

Kegembiraan masih memberi tempat, dan kebahagiaan mengelilingi kami. Akan tetapi datang hal yang mengejutkan kami... Penyakit anakku kembali kambuh, fase yang menyebabkan datangnya kekhawatiran.

Aku terserang goncangan yang memeras perasaan. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku harus berbuat? Sel-sel kanker itu kembali aktif. Harus diadakan pengobatan ulang dari awal lagi. Harus diulang lagi program pengobatan itu dari awal, dengan lebih intensif lagi..

Dokter itupun terpengaruh ketika membaca hasil pemeriksaan. Kemudian ia berkata seolah-olah meneriakkan rasa sakit anakku: "Kalau anda mau, biar pengobatan itu kita mulai lagi dari awal di sini, atau kembali ke Jeddah." "Lebik baik kembali ke Jeddah saja," jawabku.

Aku memegangi hasil pemeriksaan anakku itu dan membawa anakku ke luar rumah sakit tersebut. Suara dokter menyusulku dengan cepat: "Jangan lupa segera memberi pengobatan dan jangan melalaikannya. Kondisi anak itu mengkhawatirkan."

Aku mengetuk pintu rumah sakit-rumah sakit...

Anakku harus menanggung suntikan yang tidak biasa diterima oleh orang besar sekalipun. Tak ada lokasi baru pada tubuhnya yang belum tersentuh jarum suntik. Dokter sendiri sampai bingung di mana lagi ia harus menusukkan jarum suntiknya. Anakku harus menanggung rasa sakit, jauh dari ibu dan saudara-saudaranya yang banyak, mengenali muka-muka dokter dan bermacam-macam obat..

Adapun aku sendiri, juga sudah hafal berbagai rumah sakit. Karena semuanya sudah menjadi tempat tinggalku sehari-hari. Tangis, teriakan dan jeritan anakku ketika ia meminta tolong, sudah tidak berarti lagi bagiku. Ia biasa meminta tolong kepadaku karena saking sakitnya. Tetapi aku tidak memiliki daya apa-apa wahai anakku..

Semua pintu sudah diketuk, kecuali pintu Allah. Segala pintu juga sudah tertutup, kecuali pintu Allah...

"Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.." (An-Naml: 62)

Pada saat itu aku mendengar ada seorang Syaikh yang sudah biasa mengobati dengan ruqyah Al-Qur'an. Sebagian rekan mengusulkan aku untuk mencobanya. Alhamdulillah, ruqyah dengan Al-Qur'an memang obat,.

Namun hawa nafsu mendebatku. Banyak yang harus dipikirkan. Pikiranku sendiri menjadi bercabang-cabang. Bagaimana aku akan meninggalkan kedokteran modern? Bisa jadi, bisa jadi?

Sebelum pergi, aku beristikharah meminta pilihan dari Allah..

Malam itu aku tidur dan dalam tidurku aku bermimpi bahwa aku berdiri di pinggir lautan. Dan air di pinggir laut itu dangkal. Pada bagian tertentu terdapat tanah yang menonjol tampak oleh mata, tidak tersentuh air laut. Tiba-tiba terlihat lubang di bawah lautan, keluar dari laut itu yang biasa disebut sebagai kepiting laut (Sea Cancer) dan pergi jauh-jauh.

Aku bangun dari tidur. Pada malam itu, jiwaku sudah menjauh dari rasa takut akan kambuhnya penyakit anakku itu. Aku mengabarkan mimpi itu kepada orang yang kupercaya...

Ia berkata: "Bergembiralah, mudah-mudahan itu kebaikan bagimu insya Allah. Tanah dalam mimpi adalah manusia. Sementara kepiting yang keluar itu adalah penyakit yang keluar darinya insya Allah."

Aku terima kabar gembira itu. Aku pun memutuskan untuk pergi menemui ulama yang biasa membacakan ruqyah itu untuk meruqyah anakku dengan Al-Qur'an...

Di tengah penuh sesak orang-orang yang sakit, terdapat kenyamanan jiwa yang kurasakan. Kisah-kisah kesembuhan menghiasi tempat itu...

Sinar harapan itu tampak mulai melongok diriku. Awan kebajikan mulai menaungi diriku..

Selesai sudah pembacaan Al-Qur'an kepada anakku. Ia meminta kepadaku untuk mengulanginya sebanyak tiga kali setiap minggu. Ia juga meminta diriku untuk turut juga membacakan ayat-ayat Al-Qur'an kepadanya..

Aku memutuskan untuk berhenti berobat ke rumah sakit, karena aku tidak bisa mengajaknya keluar selama mulai menjalankan pengobatan kimiawi..

Tiga minggu pun berlalu. Pada masa itu, kondisi anakku membaik. Setiap waktu pengobatan, aku pergi dari Jeddah ke Riyadh, kemudian kembali lagi. Aku menanggung rasa lelah dan kesulitan yang besar sekali..

Tatkala selesai waktu pengobatan ruqyah yaitu selama tiga minggu. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Tetapi harus menunggu hingga ada kamar kosong..

Aku mendaftarkan nomor teleponku di rumah sakit itu, dan aku pun diberikan dispensasi untuk masuk, karena aku sudah terlambat untuk berobat. Anakku itupun dimasukkan, dan kata mereka, tidak boleh membuang-buang waktu meskipun satu menit...

Beberapa hari berlalu...

Tiba-tiba telepon berdering. "Coba anda datang. Kami ingin mengambil contoh sumsum tulang anak anda. Hendaknya ia berpuasa. Aku pun membawa anakku. Aku bingung, diiringi pula oleh rasa sakit yang dialami anakku yang masih kecil dan teriakannya... Aku pergi ke rumah sakit. Aku juga berdoa kepada Allah agar tidak kembali ke rumah sakit itu sekali lagi..

Contoh sumsum itupun diambil. Aku pun kembali ke rumah... Masalah kami sekarang ini: antara pemeriksaan dan hasilnya. Satu minggu penuh... Kami membiarkan urusan itu untuk diselesaikan: Apa yang akan terjadi? Di mana? Dan bagaimana?

Di lokasi pemeriksaan, kakiku melangkah cepat. Aku merasa bahwa ada kebaikan yang menantikanku di sana...

Aku duduk bersama dokter untuk bertanya kepadanya. Dan jawabannya sungguh menggetarkan lubuk hatiku yang paling dalam. Aku meyakinkan diriku bahwa aku dalam keadaan sadar ketika mendengar ucapannya. Membuat lemah pendengaranku dan menentramkan anggota-anggota tubuhku. Pada masa di mana sudah tidak ada lagi kesempatan bagi kegembiraan dalam hatiku, aku mencari anakku ke kanan dan ke kiri untuk menciumnya, untuk melihat kedua matanya, dan untuk mengusap air mataku...

Aku menoleh mencari tempat untuk melakukan sujud syukur kepada Allah. Siapa yang lebih berhak untuk mendapatkan selain Allah?

"Setelah mengalami kekambuhan kira-kira berbilion-bilion sel, kini tidak ada lagi bekas dari sel-sel penyakit kanker itu."

Dokter itu melanjutkan: "Itu disebut sebagai kondisi tersembunyi. Yakni tidak tampaknya sel-sel itu ketika diperiksa. Itu harus dicermati, untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. Aku pun keluar...

Aku menoleh untuk mencari telepon dan mengabarkannya kepada istriku. Tetapi langkah-langkahku lebih cepat daripada pandanganku..

Aku memuji Allah atas kenikmatan Islam, kenikmatan diturunkannya Al-Qur'an. Air mata kesedihan telah mengalir di hari-hariku yang panjang.

Adapun sekarang, bukan sekedar air mata kegembiraan semata, bahkan air mata kegembiraan dan rasa syukur.

Aku mengembalikan ingatanku:

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu." (Fushshilat: 53)

Aku melihat bukti ayat itu dalam diriku, dan aku hidup bersamanya dalam rumahku...

Di sini, di antara tumpukan hasil pemeriksaan medis, di antara angka-angka dan berbagai berkas pemeriksaan lainnya...

Di antara tangisan anak dan kesedihan ibunya, juga kedukaan sang ayah...

Maha Benar Allah Subhanallahu wa Ta'ala yang telah berfirman:

"Kami turunkan dalam Al-Qur'an itu penyembuh dan rahmat bagi kaum mukminin..." (Al-Isra': 82)

Sumber: Perjalanan Menuju Hidayah karya Abdul Malik Al-Qasim (penerjemah: Abu Umar Basyir), penerbit: Darul Haq, cet. I, Ramadhan 1422 H /2001 M, hal. 240-255.



Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Wednesday, September 5, 2012

Keutamaan dan Hikmah Ibadah Kurban

keutamaan dan hikmah qurbanSerial kedua kali ini membahas tentang pensyariatan udhiyah atau qurban, keutamaan dan hikmah dilaksanakan ibadah mulia tersebut. Namun perlu menjadi catatan penting di sini bahwa beberapa hadits yang menjelaskan keutamaan ibadah qurban adalah dho’if (lemah). Sudah cukup dengan hadits-hadits yang bersifat umum yang menunjukkan fadhilahnya.
Pensyariatan Udhiyah
Udhiyah pada hari nahr (Idul Adha) disyariatkan berdasarkan beberapa dalil, di antaranya,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2). Di antara tafsiran ayat ini adalah “berqurbanlah pada hari raya Idul Adha (yaumun nahr)”. Tafsiran ini diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu  ‘Abbas, juga menjadi pendapat ‘Atho’, Mujahid dan jumhur (mayoritas) ulama.[1]
Dari sunnah terdapat riwayat dari Anas bin Malik, ia berkata,
ضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ قَالَ وَرَأَيْتُهُ يَذْبَحُهُمَا بِيَدِهِ وَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا قَالَ وَسَمَّى وَكَبَّرَ
Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor kambing kibasy putih yang telah tumbuh tanduknya. Anas berkata : “Aku melihat beliau menyembelih dua ekor kambing tersebut dengan tangan beliau sendiri. Aku melihat beliau menginjak kakinya di pangkal leher kambing itu. Beliau membaca basmalah dan takbir” (HR. Bukhari no. 5558 dan Muslim no. 1966).
Kaum muslimin pun bersepakat (berijma’) akan disyari’atkannya udhiyah.[2]
Udhiyah disyari’atkan pada tahun 2 Hijriyah. Tahun tersebut adalah tahun di mana disyari’atkannya shalat ‘iedain (Idul Fithri dan Idul Adha), juga tahun disyari’atkannya zakat maal.[3]
Keutamaan Udhiyah
Tak diragukan lagi, udhiyah adalah ibadah pada Allah dan pendekatan diri pada-Nya, juga dalam rangka mengikuti ajaran Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kaum muslimin sesudah beliau pun melestarikan ibadah mulia ini. Tidak ragu lagi ibadah ini adalah bagian dari syari’at Islam. Hukumnya adalah sunnah muakkad (yang amat dianjurkan) menurut mayoritas ulama. Ada beberapa hadits yang menerangkan fadhilah atau keutamaannya, namun tidak ada satu pun yang shahih. Ibnul ‘Arobi dalam ‘Aridhotil Ahwadzi (6: 288) berkata, “Tidak ada hadits shahih yang menerangkan keutamaan udhiyah. Segelintir orang meriwayatkan beberapa hadits yang ajiib (yang menakjubkan), namun tidak shahih.”[4]
Sejumlah hadits dho’if yang membicarakan keutamaan udhiyah,
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا »
Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah pada hari nahr manusia beramal suatu amalan yang lebih dicintai oleh Allah daripada mengalirkan darah dari hewan qurban. Ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, rambut hewan qurban tersebut. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (ridha) Allah sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban.” (HR. Ibnu Majah no. 3126 dan Tirmidiz no. 1493. Hadits ini adalah hadits yang dho’if kata Syaikh Al Albani)
عَنْ أَبِى دَاوُدَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الأَضَاحِىُّ قَالَ « سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ». قَالُوا فَمَا لَنَا فِيهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ ». قَالُوا فَالصُّوفُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « بِكُلِّ شَعَرَةٍ مِنَ الصُّوفِ حَسَنَةٌ ».
Dari Abu Daud dari Zaid bin Arqam dia berkata, "Para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah maksud dari hewan-hewan kurban seperti ini?" beliau bersabda: "Ini merupakan sunnah (ajaran) bapak kalian, Ibrahim." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, lantas apa yang akan kami dapatkan dengannya?" beliau menjawab: "Setiap rambut terdapat kebaikan." Mereka berkata, "Bagaimana dengan bulu-bulunya wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Dari setiap rambut pada bulu-bulunya terdapat suatu kebaikan." (HR. Ibnu Majah no. 3127. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if jiddan)[5]
Hikmah di Balik Menyembelih Qurban
Pertama: Bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan.
Kedua: Menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim –kholilullah (kekasih Allah)- ‘alaihis salaam yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail ‘alaihis salaam ketika hari an nahr (Idul Adha).
Ketiga: Agar setiap mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salaam, yang ini membuahkan ketaatan pada Allah dan kecintaan pada-Nya lebih dari diri sendiri dan anak. Pengorbanan seperti inilah yang menyebabkan lepasnya cobaan sehingga Isma’il pun berubah menjadi seekor domba. Jika setiap mukmin mengingat  kisah ini, seharusnya mereka mencontoh dalam bersabar ketika melakukan ketaatan pada Allah dan seharusnya mereka mendahulukan kecintaan Allah dari hawa nafsu dan syahwatnya.[6]
Keempat: Ibadah qurban lebih baik daripada bersedekah dengan uang yang senilai dengan hewan qurban. Ibnul Qayyim berkata, “Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu’ dan qiron meskipun dengan sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan udhiyah.”[7]
Moga sajian ringkas ini semakin membuat kita bersemangat untuk melakukan ibadah yang mulia ini. Nantikan pembahasan serial ketiga mengenai hukum udhiyah atau qurban. Semoga Allah beri kemudahan dan kekuatan dalam beramal baik.
Baca pula artikel Meraih Takwa Melalui Ibadah Qurban di sini.
Mengenai hukum aqiqah, baca di sini.
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

@ Sakan 27 KSU, Riyadh, KSA, 17 Syawal 1433 H


[1] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 9: 249.
[2] Fiqhul Udhiyah, hal. 8.
[3] Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 5: 76.
[4] Fiqhul Udhiyah, hal. 9.
[5] Lihat berbagai hadits dho’if yang membicarakan fadhilah udhiyah dalam Fiqhul Udhiyah, hal. 9-11 dan Tanwirul ‘Ainain, hal. 346-352.
[6] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 5: 76.
[7] Lihat Talkhish Kitab Ahkamil Udhiyah wadz Dzakaah, hal. 11-12 dan Shahih Fiqh Sunnah, 2: 379.

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Monday, August 27, 2012

Sudahkah Anda Merasakan Manfaat Shalat?

Shalat merupakan salah satu kewajiban bagi setiap muslim. Sebuah ibadah mulia yang mempunyai peran penting bagi keislaman seseorang. Sehingga Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam mengibaratkan shalat seperti pondasi dalam sebuah bangunan.
Beliau shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda:
hadist
Islam dibangun di atas lima hal: 
bersaksi bahwa tidak ada sesembahan 
yang berhak disembah dengan benar kecuali Allâh 
dan Nabi Muhammad adalah utusan Allâh,
menegakkan shalat…. 
(HR Bukhâri dan Muslim)

Oleh karena itu, ketika muadzin mengumandangkan adzan, kaum muslimin berbondong-bondong mendatangi rumah-rumah Allâh Ta'ala, mengambil air wudhu, kemudian berbaris rapi di belakang imam shalat mereka. Mulailah kaum muslimin tenggelam dalam dialog dengan Allâh Ta'ala dan begitu khusyu’ menikmati shalat sampai imam mengucapkan salam. Dan setelah usai, masing-masing kembali pada aktifitasnya.
Timbul pertanyaan, apakah masing-masing kaum muslimin sama dalam menikmati shalat ini? Apakah juga mendapatkan hasil yang sama? Perlu kita ketahui bahwa setiap amal shalih membawa pengaruh baik kepada pelaku-pelakunya. Pengaruh ini akan semakin besar sesuai dengan keikhlasan dan kebenaran amalan tersebut. Dan pernahkah kita bertanya, “Apakah manfaat dari shalatku?” atau “Sudahkah aku merasakan manfaat shalat?”
Imam Hasan al-Bashri rahimahullâh pernah mengatakan:
“Wahai, anak manusia. Shalat adalah perkara yang dapat menghalangimu dari maksiat dan kemungkaran. Jika shalat tidak menghalangimu dari kemaksiatan dan kemungkaran, maka hakikatnya engkau belum shalat”.[1]
Dari nasihat beliau ini, kita bisa memahami bahwa shalat yang dilakukan secara benar akan membawa pengaruh positif kepada pelakunya. Dan pada kesempatan ini, marilah kita mempelajari manfaat-manfaat shalat. Kemudian kita tanyakan kepada diri sendiri, sudahkah aku merasakan manfaat shalat?
<p > 
1. Shalat adalah simbol ketenangan.
Shalat menunjukkan ketenangan jiwa dan kesucian hati para pelakunya. Ketika menegakkan shalat dengan sebenarnya, maka diraihlah puncak kebahagiaan hati dan sumber segala ketenangan jiwa.
Dahulu, orang-orang shalih mendapatkan ketenangan dan pelepas segala permasalahan ketika mereka tenggelam dalam kekhusyu’kan shalat. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud rahimahullâhdalam Sunan-nya:
Suatu hari ‘Abdullah bin Muhammad al- Hanafiyah rahimahullâh pergi bersama bapaknya menjenguk saudara mereka dari kalangan Anshar. Kemudian datanglah waktu shalat. Dia pun memanggil pelayannya, ”Wahai pelayan, ambillah air wudhu! Semoga dengan shalat aku bisa beristirahat,” Kami pun mengingkari perkataannya. Dia berkata: “Aku mendengar Nabi Muhammad bersabda, ’Berdirilah ya Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat!’.”[2]
Marilah kita mengintrospeksi diri, sudahkah ketenangan seperti ini kita dapatkan dalam shalat-shalat kita? Sudah sangat banyak shalat yang kita tunaikan, tetapi pernahkah kita berfikir manfaat shalat ini? Atau rutinitas shalat yang kita tegakkan sehari-hari?
Suatu ketika seorang tabi’in yang bernama Sa’id bin Musayib rahimahullâh mengeluhkan sakit di matanya. Para sahabatnya berkata kepadanya: “Seandainya engkau mau berjalan-jalan melihat hijaunya Wadi ‘Aqiq, pastilah akan meringankan sakitmu,” tetapi ia menjawab: “Lalu apa gunanya aku shalat ‘Isya` dan Subuh?”[3]
Demikianlah, generasi terdahulu dari umat ini memposisikan shalat dalam kehidupan mereka. Bagi mereka, shalat adalah obat bagi segala problematika. Dengan hati yang ikhlas mereka menunaikan shalat, sehingga jiwa menuai ketenangan dan mendapatkan kebahagiaan.

2. Shalat adalah cahaya.
Ambillah cahaya dari shalat-shalat kita. Ingatlah, cahaya shalat bukanlah cahaya biasa. Dia cahaya yang diberikan oleh Penguasa alam semesta ini. Diberikan untuk menunjuki manusia ke jalan yang lurus, yaitu jalan ketaatan kepada Allâh Rabul ‘alamin.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullâh, dari sahabat Abu Mâlik al-’Asy’ari radhiyallâhu'anhu, Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda: (dan shalat itu adalah cahaya).
Oleh karena itu, marilah menengok diri kita, sudahkah cahaya ini menerangi kehidupan kita? Dan sungguh sangat mudah jika kita ingin mengetahui apakah shalat telah mendatangkan cahaya bagi kita? Yakni dapat lihat, apakah shalat membawa ketaatan kepada Allâh dan menjauhkan kita dari bermaksiat kepada-Nya? Jika sudah, berarti shalat itu telah menjadi sumber cahaya bagi kehidupan kita. Inilah cahaya awal yang dirasakan manusia di dunia. Dan kelak di akhirat, ia akan menjadi cahaya yang sangat dibutuhkan, yang menyelamatkannya dari berbagai kegelapan sampai mengantarkannya kepada surga Allâh Ta'ala .

3. Shalat sebagai obat dari kelalaian.
Lalai adalah penyakit berbahaya yang menimpa banyak manusia. Lalai mengantarkan manusia kepada berbagai kesesatan, bahkan menjadikan manusia tenggelam di dalamnya. Mereka akan menanggung akibat dari kelalaian yang mereka alami di dunia maupun di akhirat kelak. Sehingga lalai menjadi penutup yang menutupi hati manusia. Hati yang tertutup kelalaian, menyebabkan kebaikan akan sulit sampai padanya. Tetapi menegakkan shalat sesuai dengan syarat dan rukunnya, dengan menjaga sunnah dan khusyu di dalamnya, insya Allâh akan menjadi obat paling mujarab dari kelalaian ini, membersihkan hati dari kotoran-kotorannya. Allâh Ta'ala berfirman:
(Qs. al-A’raf/7:205)
Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu 
dengan merendahkan diri dan rasa takut, 
dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, 
dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. 
(Qs. al-A’ra/7:205)

Berkata Imam Mujahid rahimahullâh:
“Waktu pagi adalah shalat Subuh dan waktu petang adalah shalat ‘Ashar”.
Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda:
hadist
Barang siapa yang menjaga shalat-shalat wajib, 
maka ia tidak akan ditulis sebagai orang-orang yang lalai.[4]

4. Shalat sebagai solusi problematika hidup.
Sudah menjadi sifat dasar manusia ketika dia tertimpa musibah dan cobaan, dia akan mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahannya. Maka tidak ada cara yang lebih manjur dan lebih hebat dari shalat. Shalat adalah sebaik-baik solusi dalam menghadapi berbagai macam cobaan dan kesulitan hidup. Karena tidak ada cara yang lebih baik dalam mendekatkan diri seseorang dengan Rabb-nya kecuali dengan shalat. Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya mengucapkan:
hadist
Posisi paling dekat seorang hamba dengan Rabbnya yaitu ketika dia sujud, 
maka perbanyaklah doa. 
(HR Muslim)[5]

Inilah di antara manfaat shalat yang sangat agung, mendekatkan hamba dengan Dzat yang paling ia butuhkan dalam menyelesaikan problem hidupnya. Maka, kita jangan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Jangan sampai kita lalai dalam detik-detik shalat kita. Jangan pula terburu-buru dalam shalat kita, seakan tidak ada manfaat padanya. Shalat bisa menjadi sarana menakjubkan untuk mendatangkan pertolongan dan dukungan Allâh Ta'ala.
Dalam kisah Nabi Yunus 'alaihissalam, Allâh Ta'ala menceritakan:
(Qs. ash-Shafât/37:143-144)
Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allâh, 
niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. 
(Qs. ash-Shafât/37:143-144)

Sahabat Ibnu ‘Abbas rahimahullâh menafsirkan “banyak mengingat Allâh”, yaitu, beliau termasuk orang-orang yang menegakkan shalat.[6]
Sahabat Hudzaifah radhiyallâhu'anhu pernah menceritakan tentang Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wa sallam :
hadist
Dahulu, jika Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam tertimpa suatu urusan, maka beliau melaksanakan shalat. 
(HR Abu Dawud)
[7]

5. Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
Sebagaimana telah kita fahami, bahwasanya shalat akan membawa cahaya yang menunjukkan pelakunya kepada ketaatan. Bersamaan dengan itu, maka shalat akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. Sebagaimana hal ini difirmankan Allâh Ta'ala :
(Qs. al-Ankabût/29:45)
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Al-Qur‘an) 
dan dirikanlah shalat.
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. 
Dan sesungguhnya mengingat Allâh (shalat) 
adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). 
Dan Allâh mengetahui apa yang kamu kerjakan. 
(Qs. al-Ankabût/29:45)

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu ‘Abbas radhiyallâhu'anhu mengatakan, “Dalam shalat terdapat larangan dan peringatan dari bermaksiat kepada Allâh”.[8]

6. Shalat menghapuskan dosa.
Selain mendatangkan pahala bagi pelakunya, shalat juga menjadi penghapus dosa, membersihkan manusia dari dosa-dosa yang pernah dilakukannya.
Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda:
hadist
“Apa pendapat kalian,
jika di depan pintu salah seorang dari kalian ada sungai (mengalir); 
dia mandi darinya lima kali dalam sehari, apakah tersisa kotoran darinya?” 
Para sahabat menjawab: “Tidak akan tertinggal kotoran sedikitpun”.
Beliau shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda: 
“Demikianlah shalat lima waktu, 
Allâh Ta'ala menghapuskan dengannya kesalahan-kesalahan”. 
(HR Bukhâri dan Muslim)

Inilah sebagian manfaat shalat yang tak terhingga banyaknya, dari yang kita ketahui maupun yang tersimpan di sisi Allâh Ta'ala. Oleh karena itu, marilah kita memperhatikan diri kita masing-masing, sudahkah di antara manfaat-manfaat tersebut yang kita rasakan? Ataukah kita masih menjadikan shalat sebagai salah satu rutinitas hidup kita? Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang dicela Allâh dalam firman-Nya:
(Qs. al-Mâ’ûn/107:4-5)
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, 
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. 
(Qs. al-Mâ’ûn/107:4-5)

Semoga Allâh Ta'ala memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hambanya yang menegakkan shalat, dan memetik buahnya dari shalat yang kita kerjakan.

(Majalah As-sunnah Edisi 05/Tahun XII)
(Oleh: Ustadz Mochamad Taufiq Badri) 


Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More