Share
div id='fb-root'/>

Kaya tidak diukur dengan banyaknya harta

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bertakwa itu dimana saja

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutkanlah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapuskannya dan berakhlaqlah dengan sesama dengan akhlaq yang baik.”(HR Tirmidzi 1987)

Mudahkan Kesulitan Saudara Kita

“Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”(HR Muslim 2699)

Segeralah Bertaubat

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133)

Bersemangatlah untuk Beramal Shalih

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97)

Showing posts with label sedekah. Show all posts
Showing posts with label sedekah. Show all posts

Wednesday, August 15, 2012

[Hadits] Sedekah Jika Tak Sampai Yang Dituju

وعن أبي يَزيدَ مَعْنِ بنِ يَزيدَ بنِ الأخنسِ ، وهو وأبوه وَجَدُّه صحابيُّون ، قَالَ : كَانَ أبي يَزيدُ أخْرَجَ دَنَانِيرَ يَتَصَدَّقُ بِهَا ، فَوَضعَهَا عِنْدَ رَجُلٍ في الْمَسْجِدِ ، فَجِئْتُ فأَخذْتُها فَأَتَيْتُهُ بِهَا . فقالَ : واللهِ ، مَا إيَّاكَ أرَدْتُ ، فَخَاصَمْتُهُ إِلى رسولِ اللهِ ، فقَالَ : (( لكَ مَا نَوَيْتَ يَا يزيدُ ، ولَكَ ما أخَذْتَ يَا مَعْنُ )) رواهُ البخاريُّ .

Dari Abu Yazid Ma’n bin Yazid bin Al Akhnas radhiyallahu ‘anhu, -dia (Ma’n), bapak dan kakeknya adalah sahabat Nabi-, dia berkata, “Bapak saya, Yazid pernah mengeluarkan beberapa dinar untuk disedekahkan. Dia mempercayakan pada seseorang di masjid (untuk membagi-bagikannya). Kemudian saya datang (ke masjid itu) dan saya pun mengambilnya. Selanjutnya saya datang ke tempat bapak saya dengan membawa dinar tersebut. Lalu bapak saya berkata, “Demi Allah, bukan kamu yang aku tuju (untuk menerima sedekah itu). Kemudian kejadian itu kami sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, “Bagimu apa yang telah engkau niatkan, wahai Yazid. Dan bagimu apa yang telah kamu ambil, hai Ma’n.” (HR. Bukhari)

Faidah Hadits
  1. Hadits ini menunjukkan bolehnya memberitahukan karunia dan nikmat yang Allah berikan kepadanya.
  2. Bolehnya mewakilkan pembagian sedekah, terlebih sedekah yang sifatnya sunnah karena di dalamnya terdapat penyembunyian amal (merahasiakan amal).
  3. Diperbolehkannya mengajukan suatu permasalahan antara ayah dan anak kepada hakim. Dan hal itu tidak termasuk kedurhakaan.
  4. Diperbolehkan menyerahkan sedekah yang bersifat sunnah kepada furu’ (anak, cucu, dst)
  5. Orang yang bersedekah mendapatkan pahala sesuai dengan niatnya, baik sedekahnya sampai kepada orang yang berhak atau tidak.
  6. Tidak diperbolehkan seorang bapak mengambil kembali sedekah yang telah diberikan kepada anak. Dan sedekah ini berbeda dengan hibah/pemberian.
***
muslimah.or.id
disarikan dari kitab Bahjatun Naadziriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali
oleh Tim Penerjemah Muslimah.Or.Id

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Thursday, April 19, 2012

Shadaqah adalah Bukti Keimanan Kita

Kehidupan seorang manusia akan berakhir pada kematian, dan setelah itu dia akan dibangkitkan di hari kiamat. Pada hari itu harta dan anak keturunannya tidak akan dapat memberinya manfaat. Yang bisa dia lakukan hanyalah melihat seberapa banyak kebaikan yang telah dia lakukan dan seberapa banyak dosa dan kejahatan yang dia lakukan.
Allah ta’ala berfirman,
يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ * فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka balasan amalan mereka. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.” (QS Al Zalzalah: 6-8)
Di antara kebaikan yang akan bermanfaat bagi seorang manusia kelak di akhirat adalah shadaqah yang dia berikan ketika dia hidup di dunia. Allah ta’ala berfirman,
وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
“Dan barang-barang baik yang engkau semua nafkahkan itu adalah untuk dirimu sendiri dan engkau semua tidak menafkahkannya melainkan karena mengharapkan keridhaan Allah, juga barang-barang baik yang engkau semua nafkahkan itu, niscaya akan dibalas kepadamu dan tidaklah engkau semua dianiaya.” (al Baqarah: 272)

Shadaqah adalah Bukti Keimanan
Salah satu bukti keimanan seorang muslim adalah shadaqah. Ini ditunjukkan dalam hadits dari sahabat Al Harits bin Ashim Al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمان ، والحَمدُ لله تَمْلأُ الميزَانَ ، وَسُبْحَانَ الله والحَمدُ لله تَملآن – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَينَ السَّماوات وَالأَرْضِ، والصَّلاةُ نُورٌ ، والصَّدقةُ بُرهَانٌ
“Bersuci adalah separuh dari keimanan, ucapan ‘Alhamdulillah’ akan memenuhi timbangan, ‘subhanallah walhamdulillah’ akan memenuhi ruangan langit dan bumi, shalat adalah cahaya, dan shadaqah itu merupakan bukti.” (HR. Muslim)
Kenapa shadaqah disebut sebagai bukti keimanan? Hal ini karena harta adalah perkara yang dicintai oleh jiwa kita. Berat bagi diri kita untuk melepaskannya. Sehingga ketika seseorang merelakan hartanya tersebut di jalan Allah, maka ini adalah bukti yang menunjukkan kecintaannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Maka kita lihat sendiri, semakin tinggi keimanan seseorang, semakin banyak pula dia bershadaqah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling tinggi keimanannya. Beliau tidak pernah tanggung-tanggung dalam bershadaqah. Pernah beliau menyedekahkan kambing beliau. Apakah satu ekor, atau dua ekor saja? Tidak. Beliau bershadaqah dengan satu lembah kambing.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkisah,
وَلَقَدْ جَاءهُ رَجُلٌ ، فَأعْطَاهُ غَنَماً بَيْنَ جَبَلَيْنِ ، فَرجَعَ إِلَى قَوْمِهِ ، فَقَالَ : يَا قَوْمِ ، أسْلِمُوا فإِنَّ مُحَمَّداً يُعطِي عَطَاءَ مَن لا يَخْشَى الفَقْر ، وَإنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُريدُ إِلاَّ الدُّنْيَا ، فَمَا يَلْبَثُ إِلاَّ يَسِيراً حَتَّى يَكُونَ الإسْلاَمُ أحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا
Seorang lelaki datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka Nabi pun memberikannya kambing yang berjumlah satu lembah. Orang tersebut lalu kembali kepada kaumnya dan berkata, “Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian! Sesungguhnya Muhammad telah memberikan suatu pemberian, dia tidaklah khawatir akan miskin”. Orang itu masuk Islam karena menginginkan dunia namun begitu dia masuk Islam, Islam itu lebih dicintai dari dunia dan seisinya. (HR. Muslim)

Shadaqah Sebab Turunnya Keberkahan
Di dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam berkata,
Pada suatu ketika ada seorang lelaki berjalan di suatu tanah lapang, lalu ia mendengar suara dari dalam awan, “Siramlah kebun si Fulan itu!”
Kemudian menyingkirlah awan itu menuju ke tempat yang ditunjukkan, lalu menghabiskan airnya di atas tanah lapang berbatu hitam itu. Tiba-tiba sesuatu aliran air dari sekian banyak aliran airnya itu mengambil air hujan itu seluruhnya, kemudian orang tadi mengikuti aliran air tersebut….
Sekonyong-konyong tampaklah olehnya seorang lelaki yang berdiri di kebunnya mengalirkan air itu dengan alat keruknya.
Orang itu bertanya kepada pemilik kebun, “Wahai hamba Allah, siapakah namamu?”
Ia menjawab, “Namaku Fulan,” dan nama ini cocok dengan nama yang didengar olehnya di awan tadi.
Pemilik kebun bertanya, “Mengapa Anda menanyakan namaku?”
Orang itu menjawab, “Sesungguhnya saya tadi mendengar suatu suara di awan yang inilah air yang turun daripadanya. Suara itu berkata, ‘Siramlah kebun si Fulan itu!’ Nama itu sesuai benar dengan nama Anda. Sebenarnya apakah yang Anda lakukan?”
Pemilik kebun menjawab, “Adapun Anda menanyakan semacam ini, karena sesungguhnya saya selalu benar-benar memperhatikan hasil yang keluar dari kebun ini. Kemudian saya bershadaqah dengan sepertiganya, saya makan bersama keluarga saya yang sepertiganya dan saya kembalikan pada kebun ini yang sepertiganya pula (sebagai bibit).” (HR. Muslim)
Lihatlah betapa shadaqah telah menjadi sebab petani tersebut diberikan keberkahan oleh Allah ta’ala dengan menyedekahkan sepertiga dari hasil pertaniannya.

Harta Tidak Akan Berkurang Bila Dishadaqahkan
Sebagian orang mungkin mengira kalau ketika harta dishadaqahkan maka dia akan berkurang. Ini tidaklah benar. Di dalam sebuah hadits dari Abu Kabsyah Umar bin Sa’ad al Anmari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَال ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْداً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزّاً ، وَمَا تَواضَعَ أحَدٌ لله إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ – عز وجل -
“Tidaklah shadaqah itu mengurangi banyaknya harta. Tidaklah Allah itu menambahkan pada diri seseorang sifat pemaaf, melainkan ia akan bertambah pula kemuliaannya. Juga tidaklah seorang itu merendahkan diri karena Allah, melainkan ia akan diangkat pula derajatnya oleh Allah ‘azza wajalla.” (HR. Muslim)
Harta yang dia shadaqahkan akan diganti oleh Allah ta’ala, sebaliknya bila dia menahan shadaqahnya maka Allah akan tahan pula curahan nikmat-Nya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصبحُ العِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزلانِ ، فَيَقُولُ أحَدُهُمَا : اللَّهُمَّ أعْطِ مُنْفِقاً خَلَفاً ، وَيَقُولُ الآخَرُ : اللَّهُمَّ أعْطِ مُمْسِكاً تَلَفاً
“Tiada seharipun yang sekalian hamba memulai paginya pada hari itu, melainkan ada dua malaikat yang turun. Seorang di antara keduanya itu berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menafkahkan itu akan gantinya,’ sedang yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menahan itu kerusakan pada hartanya.” (Muttafaq ‘alaih)
Dari Asma’ binti Abu Bakar ash Shiddiq radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,
لاَ تُوكِي فَيُوكى عَلَيْكِ. وفي رواية : أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ

“Jangan engkau menyimpan apa-apa yang ada di tanganmu, sebab kalau demikian maka Allah akan menyimpan terhadap dirimu (rezeki akan ditahan oleh Allah –pent.) Dalam riwayat lain disebutkan, “Nafkahkanlah, atau berikanlah atau sebarkanlah dan jangan engkau menghitung-hitungnya, sebab kalau demikian maka Allah akan menghitung-hitung juga karunia yang akan diberikan padamu. Jangan pula engkau menahan (menunda-nunda) shadaqahmu, sebab kalau demikian maka Allah akan mencegah pemberian-Nya padamu.” (Muttafaq ‘alaih)
Demikian sedikit pembahasan tentang shadaqah dan keutamaannya. Sebenarnya masih banyak lagi keutamaan shadaqah, tapi kita cukupkan dengan apa yang telah disampaikan karena keterbatasan tempat. Dan terakhir, marilah kita semua senantiasa mengingat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بشقِّ تَمْرَةٍ
“Takutlah kalian dari api neraka, walaupun hanya dengan (bersedekah) potongan kurma.” (Muttafaq ‘alaih)
Semoga Allah ta’ala menjadikan diri kita gemar bershadaqah dan menjadikan shadaqah kita sebagai benteng kita dari azab-Nya yang pedih kelak di akhirat.
Wallahu ta’ala a’lam.

Sumber:
- Syarah Riyadhis Shalihin, asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin

Oleh: Abu Umar al Bankawy
Salafy.or.id


Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Saturday, December 10, 2011

Barokah Sedekah


Masjid 170
Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari Kiamat.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

بَيْنَا رَجُلٌ بِفَلاَةٍ مِنَ اْلأَرْضِ فَسَمِعَ صَوْتًا فِي سَحَابَةٍ:
اسْقِ حَدِيْقَةَ فُلاَنٍ. فَتَنَحَّى ذَلِكَ السَّحَابُ، فَأَفْرَغَ مَائَهُ فِي حَرَّةٍ،
فَإِذَا شَرْجَةٌ مِنْ تِلْكَ الشِّرَاجِ قَدِ اسْتَوْعَبَتْ ذَلِكَ الْمَاءَ كُلَّهُ،
فَتَتَبَّعَ الْمَاءَ، فَإِذَا رَجُلٌ قَائِمٌ فِي حَدِيْقَتِهِ، يُحَوِّلُ الْمَاءَ بِمِسْحَاتِهِ،
فَقَالَ لَهُ: يَا عَبْدَ اللهِ مَا اسْمُكَ؟
قَالَ: فُلاَنٌ، لِلاِسْمِ الَّذِي سَمِعَ فِي السَّحَابَةِ.

“Tatkala seorang laki-laki berada di tanah lapang, tiba-tiba ia mendengar suara dari gumpalan awan: “Siramilah kebun si Fulan”. Lalu awan tersebut bergerak dan menumpahkan airnya di sebuah tanah yang banyak batu hitamnya (harroh). Ternyata di sana ada sebuah parit yang menampung semua air tersebut. Lalu ia mengikuti arah aliran airnya sehingga bertemu dengan seorang laki-laki yang berada di kebunnya sedang memindahkan air dengan sekopnya. Dia bertanya kepada orang tersebut: “Wahai hamba Allah, siapakah nama Anda?” Ia menjawab: “Fulan.” Nama yang sama dengan yang terdengar di awan.

فَقَالَ لَهُ: يَا عَبْدَ اللهِ لِمَ تَسْأَلُنِي عَنِ اسْمِي؟
فَقَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ صَوْتًا فِي السَّحَابِ الَّذِي هَذَا مَائُهُ يَقُوْلُ:
اِسْقِِ حَدِيْقَةَ فُلاَنٍ لاِسْمِكَ، فَمَا تَصْنَعُ فِيْهَا؟

Orang itu balik bertanya: “Wahai hamba Allah, mengapa Anda menanyakan namaku?” Dia menjawab: “Sungguh aku telah mendengar suara dari awan yang membawa air ini mengatakan, “Siramilah kebun si Fulan, sama persis dengan namamu. Apakah gerangan yang engkau lakukan pada kebun itu?”

قَالَ: أَمَّا إِذْ قُلْتَ هَذَا فَإِنِّي أَنْظُرُ إِلَى مَا يَخْرُجُ مِنْهَا،
فَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثِهِ، وَآكُلُ أَنَا وَعِيَالِي ثُلُثًا، وَأَرُدُّ فِيْهَا ثُلُثَهُ.

Orang itu menjawab: “Adapun apabila Anda mengatakan ini, maka sebenarnya aku hanya memperhatikan hasil yang keluar dari kebun itu, sepertiganya aku sedekahkan, sepertiganya lagi aku makan bersama keluargaku, dan sepertiganya lainnya aku kembalikan (untuk benih) ke kebun itu.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2984).
Kaum muslimin rahimakumullah, barangsiapa merenungi kandungan hadits di atas niscaya akan mendapatkan faedah yang banyak. Insya Allah pada kesempatan ini, kami akan menyampaikan sebagian saja, semoga bermanfaat.
Malaikat Pengatur Awan
Hadits di atas menunjukkan adanya para Malaikat yang ditugaskan mengatur awan. Mereka menggiring awan sesuai dengan perintah Allah Ta’ala ke tempat yang Allah kehendaki. Terkadang, mereka menyirami suatu negeri, tetapi tidak menyirami negeri yang lainnya; atau menyirami satu tanah, tetapi tidak menyirami tanah yang lainnya. Sebagaimana dalam hadits di atas, para Malaikat diperintahkan menggiring awan ke kebun orang sholih yang ahli sedekah dan menurunkan hujan di kebunnya, sedangkan kebun yang lain sekedar dilewati saja. Kejadian seperti ini juga sering kita dapatkan secara nyata dalam kehidupan kita sehari-hari.
Adapun Malaikat yang ditugaskan mengatur hujan adalah Mika-il ‘alaihis salam sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Katsir rahimahullah. Beliau mengatakan bahwa Mika-il ditugaskan untuk menurunkan hujan dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, yang dari keduanyalah lahirlah rizki di dunia ini. Mika-il memiliki para pembantu yang melaksanakan setiap apa yang diperintahkan berdasarkan perintah Rabbnya, yakni meniupkan angin dan awan sebagaimana dikehendaki Allah Yang Maha Mulia. (Al-Bidayah wan-Nihayah, I/41).
Keutamaan Bersedekah Di Jalan Allah
Allah Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk menafkahkan sebagian harta yang Allah Ta’ala berikan kepada-Nya dari yang baik-baik. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُوْا أَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ
وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأَرْضِ  (267)

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.” (QS. Al-Baqarah: 267)
Allah Ta’ala mempunyai para Malaikat yang senantiasa mendo’akan kebaikan kepada orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيْهِ إلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيقُوْلُ أَحَدُهُمَا:
اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُوْلُ الآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Tidaklah waktu pagi muncul mendatangi seorang hamba melainkan dalam waktu yang bersamaan dua Malaikat turun. Salah satu dari dua Malaikat itu berkata: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya.” Sedangkan Malaikat yang satu lagi berkata: “Ya Allah, berikanlah kebinasaan kepada orang yang menahan hartanya (kikir).” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 1442 dan Muslim, no. 1010)
Harta Tidaklah Berkurang Karena Sedekah
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim no. 2558)
Janganlah kita mempunyai anggapan bahwa harta kita akan berkurang karena sedekah. Sebab, AllahTa’ala akan menggantinya dan memberikan berkah-Nya kepada harta kita. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ (39)

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).
Bahkan Allah Ta’ala akan menggantinya dengan yang lebih banyak sebagaimana firman-Nya:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيْرَةً
وَاللهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ (245)

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)
Meskipun Allah Ta’ala berjanji akan mengganti harta yang disedekahkan, namun banyak manusia yang enggan untuk menginfakkan hartanya karena syaithon menghalang-halangi mereka untuk berinfak dan menakut-nakuti mereka dengan kemiskinan. Allah Ta’ala berfirman:

اَلشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ
وَاللهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلاً وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ (268)

“Syaithon menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.” (QS. Al-Baqarah: 268)
Syaikh Muhammad bin Sholih al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang mengeluarkan hartanya, maka syaithon akan membisikkan kepadanya: ‘Jika engkau bersedekah, maka hartamu akan berkurang. Uangmu tinggal 100 riyal, jika engkau sedekahkan 10 riyal maka akan tersisa 90 riyal. Jadi, hartamu menjadi berkurang karena sedekah. Oleh karena itu, jangan engkau sedekahkan. Setiap kali engkau sedekahkan, maka berkuranglah hartamu.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 2/342)
Bersedekah Di Kala Sehat
Ketahuilah bahwa sedekah yang paling utama adalah tatkala kita masih sehat dan masih banyak keinginan.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبيِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أجْرًا؟
قَالَ: أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحيْحٌ شَحِيْحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ،
وَتَأْمُلُ الْغِنَى، وَلاَ تُمهِلْ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الحُلْقُوْمَ قُلْتَ:
لِفُلاَنٍ كَذَا وَلِفُلاَنٍ كَذَا، وقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ

“Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang palingbesar pahalanya?” Beliau menjawab: ‘Hendaklah engkau bersedekah ketika engkau dalam keadaan sehat, kikir, takut miskin dan masih mengharapkan kekayaan. Dan janganlah engkau menunda-nunda sehingga apabila nyawa sudah sampai di tenggorokan, barulah engkau mengatakan, ‘Untuk si Fulan sekian, dan untuk si Fulan sekian.’ Padahal sedekah itu sudah menjadi hak si Fulan.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 1419 dan Muslim, no. 1032)
Sedekah pada waktu sehat itu lebih utama daripada sedekah pada waktu sakit. Sebab, kekikiran itu pada umumnya menguasai jiwa manusia ketika ia berada dalam keadaan sehat. Pada saat itu, syaithon sedang gencar menakut-nakutinya dengan kemiskinan serta mengiming-iminginya dengan panjang umur dan kekayaan. Jika di kala itu dia mau mengeluarkan hartanya untuk sedekah, maka hal itu menunjukkan kesungguhan niatnya dan besarnya kecintaan dia kepada Allah Ta’ala.
Berbeda dengan keadaannya tatkala sakit, pada waktu itu keinginannya kepada harta kekayaan cenderung berkurang sehingga pahala sedekah pada saat itu tidak sebesar pahala sedekah ketika sehat. (Bahjatun Nazhirin, hal. 172)
Hadits di atas juga memberikan anjuran kepada kita untuk segera berbuat kebaikan dan memberikan sedekah sebelum ajal tiba. (Bahjatun Nazhirin, hal. 172)
Sumber : Buletin at-Taubah edisi ke-54

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Thursday, November 10, 2011

Kisah Kedermawaan Di tengah Kemiskinan

kisah-orang-miskin

Kedermawanan Di tengah Kemiskinan
Al-Mas’udi dalam kitab Murujuzd Dzahab  VII:73-75, dan Al-Qadhi Iyadh dalam Tartibul Madarik III: 212-213, menuturkan tentang biografi pakar peperangan dan sirah, Muhammad bin Umar Al-Waqidi (wafat tahun 207 H), bahwa Muhammad bin Sa’d telah berkata, ”Al-Waqidi pernah melihatku sedang gundah. Ia berkata kepadaku, ’Jangan gundah, karena rezeki datang dari arah yang tidak terduga.’ Suatu hari aku mengalami kesulitan sampai aku harus menjual kudaku. Yahya bin Khalid menungguku dalam waktu yang lama. Aku pun meminta maaf kepadanya, hingga akhirnya ia memahami kondisiku. Ia memberiku uang 500 dinar, lalu aku membawanya pulang ke rumah. Dalam benakku uang itu akan aku gunakan untuk membayar hutang dan memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, tiba-tiba pintu rumahku diketuk oleh seorang laki-laki dari Madinah yang telah dirampok hartanya. Ia adalah keturunan Abu Bakar Ash-Shidiq radhiallahu ‘anhu. Ia mengeluhkan keadaannya kepadaku. Maka, aku memberikan sisa uang itu kepadanya dan aku gagal untuk membeli kuda baru.

Yahya bin Khalid menungguku, maka aku beritahukan kepadanya apa yang telah terjadi. Maka, ia mendatangi laki-laki keturunan Abu Bakar tadi dan menanyainya. Laki-laki itu menjawab, ‘Benar, aku telah menerima dinar-dinar itu darinya, namun ketika aku sampai di rumah, datanglah fulan keturunan Anshar. Ia mengadukan keadaannya kepadaku, maka aku pun memberikan dinar-dinar itu kepadanya.’
Yahya mendatangi keturunan Anshar itu. Ia bertanya kepadanya, apakah laki-laki keturunan Abu Bakar itu telah memberinya uang ? Laki-laki itu pun menceritakan kejadian yang sebenarnya, dan Yahya bin Khalid takjub dengan kedermawanan kami.
Lalu. Yahya memberiku seribu dinar lagi, juga kepada laki-laki keturunan Abu Bakar dan keturunan Anshar itu dalam jumlah yang sama. Di tambah lima ratus untuk istriku, karena kesedihannya saat aku memberikan dinar-dinar itu kepada lai-laki keturunan Abu Bakar.”
Al-Waqidi menuturkan, “Aku memiliki dua teman, salah seorang dari keduanya adalah Al-Hasyimi. Kami sangat akrab laksana satu jiwa. Suatu saat aku ditimpa kesulitan yang amat sangat, padahal hari raya Ied sudah dekat. Istriku berkata kepadaku, ‘Kita masih bisa bersabar menghadapi kesulitan dan kesengsaraan ini,namun anak-anak kita, hatiku merasa teriris  karena kasihan kepada mereka. Mereka mellihat anak-anak tetangga berhias dan berpakaian bagus di hari raya, sementara anak-anak kita masih  tetap dengan pakaian usang mereka. Sekiranya engkau bisa mengusahakan sesuatu, sehingga kita bisa membelikan mereka pakaian yang pantas.’
Maka, aku menulis surat kepada kawanku, Al-Hsyimi. Aku meminta bantuannya. Ia pun mengirimkan kepadaku sebuah kantong bersegel. Ia menyatakan bahwa isinya uang seribu dirham. Aku belum berbuat sesuatu dengan uang itu, namun tiba-tiba kawanku yang lain menulis surat kepadaku. Ia mengeluhkan kepadaku seperti yang pernah aku keluhkan, maka kantong tersebut aku kirim kepadanya. Lalu, aku pergi ke masjid. Aku bermalam disana, karena aku merasa tidak enak kepada istriku. Kemudian aku pulang ke rumah. Saat aku masuk menemuinya, ia menganggap baik apa yang telah aku lakukan, sehingga ia tidak menyalahkanku.
Ketika dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba datanglah temanku, Al-Hasyimi, dengan membawa kantong tersebut seperti sedia kala. Ia berkata kepadaku, “Katakanlah kepadaku dengan jujur, apa yang engkau lakukan terhadap uang yang telah aku kirim kepadamu?” Makaaku pun menceritakan apa yang telah terjadi.
Ia berkata, “Engkau mengirim surat kepadaku meminta bantuanku. Aku tidak mempunyai sesuatu pun, selain apa yang aku kirim kepadamu. Dan, aku menulis surat kepada teman kita untuk meminta bantuan, maka ia pun mengirimkan kantongku ini masih dengan segelnya.”
Al-Waqidi berkata, “ Maka, kami memakai seribu dirham itu secara bersama-sama. Kami membaginya menjjadi tiga, setelah kami menyisihkan seratus dirham untuk istriku. Berita ini sampai ke telinga Al-Makmun. Ia memanggilku, lalu aku pun menjelaskan kejadian sebenarnya. Maka. Ia member kami 7000 dinar. Masing-masing dari kami mendapat 2000 dinar, dan 1000 dinar untuk istriku.”
Sumber: Dahsyatnya Kesabaran Para Ulama, Syaikh Abdul Fatah,  Zam-Zam Mata Air Ilmu, 2008
Judul asli: Shafahat min Shabril ‘Ulama’, Syaikh Abdul Fatah, Maktab Al-Mathbu’at Al-Islamiyyah cet. 1394 H./1974 M.

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Saturday, October 15, 2011

Gaji Pembantu Termasuk Pahala Sedekah

gaji pembantu













Apakah  Termasuk Pahala Sedekah?
Assalamu’alaikum. Apakah dengan kita menggaji  setiap bulannya selain kewajiaban kita memberi upah apakah termasuk sedekah juga? Mohon penjelasannya.
Dari Siti khodijah (Anggota milis fatwa kpmi)

Jawaban perihal gaji pembantu:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakuh.
Iya, gaji pembantu termasuk sedekah, bahkan hal itu jg mendatangkan pahala sebagaimana hadis Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, Bahwa Nabishallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إن المسلم إذا أنفق على أهله نفقة وهو يحتسبها كانت له صدقة
“Sesungguhnya seorang muslim apabila ia menafkahi keluarganya dengan suatu nafkah, sedangkan ia berharap pahala darinya, maka nafkahnya itu mnjadi suatu sedekah baginya.” (H.r. Bukhari dan Muslim)
Dan di dalam riwayat Sa’ad bin Abi Waqqash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ولست تنفق نفقة تبتغي بها وجه الله إلا أجرت عليها حتى ما تضعه في في امرأتك
“Tidaklah engkau memberikan suatu nafkah yang mana engkau mengharapkan wajah Allah dengannya, melainkan engkau diberi pahala karenanya, sampaipun (makanan) apa yang engkau berikan ke dalam mulut istrimu.” (H.r. Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan dua hadits di atas, seorang muslim ketika melakukan kewajiban2 atau hal2 yg dianjurkan yg pada asalnya bukan termasuk ibadah, jika ia menyertainya dengan niat yang baik (ikhlas karena Allah) dan mengharapkan pahala dari-Nya, maka ia akan diberi pahala oleh Allah. Wallahu a’lam bish-shawab.
Dari tanya jawab milis pm-fatwa@yahoogroups.com
Dijawab oleh ustadz Muhamad Wasitho, L.c.

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More