Share
div id='fb-root'/>

Kaya tidak diukur dengan banyaknya harta

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bertakwa itu dimana saja

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutkanlah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapuskannya dan berakhlaqlah dengan sesama dengan akhlaq yang baik.”(HR Tirmidzi 1987)

Mudahkan Kesulitan Saudara Kita

“Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”(HR Muslim 2699)

Segeralah Bertaubat

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133)

Bersemangatlah untuk Beramal Shalih

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97)

Wednesday, November 2, 2011

Bolehkah Berhaji Tanpa Mahram?

An Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama berijma’ (sepakat) bahwa seorang wanita dinilai wajib menunaikan haji dalam Islam jika ia telah berkemampuan. Hal ini berdasarkan keumuman firman AllahTa’ala,

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS. Ali Imron: 97).
Mengenai kemampuan di sini sebenarnya sama halnya dengan pria. Namun para ulama berselisih pendapat apakah pada wanita disyaratkan harus adanya mahrom ataukah tidak.”[1]

Khilaf Ulama
Berikut adalah beberapa pendapat para ulama mengenai hukum berhaji tanpa mahrom.
Disyaratkan seorang wanita dalam safar hajinya untuk ditemani oleh suami atau mahromnya jika memang ia telah menempuh jarak safar ke Makkah selama tiga hari. Jarak seperti ini adalah jarak minimal untuk dikatakan bersafar, demikian pendapat ulama Hanafiyah dan Hambali.
Mereka berdalil dengan hadits Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ ثَلاَثًا إِلاَّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ
Tidak boleh seorang wanita bersafar tiga (hari perjalanan) melainkan harus bersama mahromnya.” (HR. Muslim no. 1338 dan 1339, dari Ibnu ‘Umar)
Ulama Syafi’iyah dan ulama Malikiyah membolehkan mahrom tersebut diganti. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa jika ada para wanita yang tsiqoh–dua atau lebih–yang memberikan rasa aman, maka ini cukup sebagai pengganti mahrom atau suami. Hal ini ditinjau jika wanita tersebut sudah dikenai kewajiban untuk berhaji dalam Islam. Menurut mereka, “Yang paling tepat, tidak disyaratkan adanya mahrom bagi para wanita tersebut (yang akan berhaji). Sudah cukup sebenarnya jika sudah ada jama’ah yang jumlahnya banyak.”
Namun jika didapati satu wanita tsiqoh, maka tidak wajib bagi mereka untuk berhaji (yang selain wajib). Akan tetapi boleh baginya berhaji jika hajinya adalah haji fardhu (wajib) atau haji nadzar. Bahkan boleh baginya keluar sendirian untuk menunaikan haji yang wajib atau untuk menunaikan nadzar, selama aman.
Ulama Malikiyah menambahkan yang intinya membolehkan. Mereka mengatakan bahwa jika wanita tidak mendapati mahrom atau tidak mendapati pasangan (suami untuk menemaninya), walaupun itu memperolehnya dengan upah, maka ia boleh bersafar untuk haji yang wajib atau haji dalam rangka nadzar selama bersama orang-orang (dari para wanita atau para pria yang sholih) yang memberikan rasa aman.
Ad Dasuqi (sala seorang ulama Malikiyah) berkata bahwa kebanyakan ulama Malikiyah mempersyaratkan wanita harus disertai mahrom.
Adapun haji yang sunnah para ulama sepakat bahwa tidak boleh seorang wanita bersafar untuk haji kecuali bersama suami atau mahromnya. Untuk haji yang sunnah tidak boleh ia bersafar dengan selain mahromnya, bahkan ia bisa terjerumus dalam dosa jika nekad melakukannya.
Demikian kami sarikan dari Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah. [2]
Terdapat tambahan dari penjelasan An Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim. An Nawawi berkata, “’Atho’, Sa’id bin Jubair, Ibnu Sirin, Imam Malik Al Auza’i dan pendapat Imam Asy Syafi’i yang masyhur berpendapat bahwa tidak disyaratkan adanya mahrom. Yang disyaratkan adalah si wanita mendapatkan rasa aman. Ulama Syafi’iyah menerangkan bahwa rasa aman tersebut bisa tercapai dengan adanya suami, mahrom atau wanita-wanita yang tsiqoh (terpercaya). Haji tidaklah diwajikan menurut madzhab kami kecuali dengan ada rasa aman dari salah satu hal tadi. Jika didapati satu wanita tsiqoh saja, maka haji tidak menjadi wajib. Akan tetapi wanita yang akan berhaji boleh bersafar dengan wanita lain walaupun bersendirian. Ini yang tepat. …
Pendapat yang masyhur dari Imam Asy Syafi’i dan mayoritas ulama Syafi’iyah adalah pendapat di atas. Ulama Syafi’iyah kemudian berselisih pendapat mengenai hukum wanita berhaji yang sunnah tanpa adanya mahrom atau untuk safar dengan tujuan ziaroh atau berdagang atau semacam itu yang tidak wajib. Sebagian ulama Syafi’iyah katakan bahwa hal-hal yang tidak wajib tadi dibolehkan sebagaimana haji (yang wajib). Namun pendapat mayoritas ulama, “Tidak boleh seorang wanita bersafar kecuali dengan suami atau mahromnya. Inilah yang tepat karena didukung oleh hadits-hadits yang shahih.”[3]
Titik Beda Pendapat
Al Qurthubi rahimahullah berkata,
Sebab perselisihan ulama dalam masalah ini adalah karena adanya pemahaman yang berbeda dalam menkompromikan berbagai hadits (yang melarang bersafar tanpa mahrom, pen) dengan firman AllahTa’ala,
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS. Ali Imron: 97).
Secara zhohir, yang dimaksud istitho’ah (dikatakan mampu dalam haji) adalah mampu pada badan (fisik).  Jadi jika secara fisik mampu, maka diwajibkan untuk haji. Barangsiapa yang tidak mendapati mahrom namun ia sudah memiliki kemampuan secara fisik, maka ia tetap diwajibkan untuk haji. Dari sini, ketika terjadi pertentangan antara tesktual ayat dan hadits, maka muncullah beda pendapat di antara para ulama.
Imam Abu Hanifah dan para ulama yang sependapat dengannya menjadikan hadits (tentang larangan safar wanita tanpa mahrom) sebagai penjelas dari dalil yang menjelaskan istitho’ah (kemampuan) pada hak wanita.
Imam Malik dan ulama yang sependapat dengannya berpendapat bahwa istitho’ah (kemampuan) yang dimaksudkan adalah bisa dengan cukup wanita tersebut mendapatkan rasa aman dari para pria atau wanita lainnya. Sedangkan hadits (yang melarang wanita bersafar tanpa mahrom) tidaklah bertentangan jika memang safarnya adalah wajib (untuk menunaikan haji yang wajib, pen).
Demikian sarian dari penjelasan Al Qurthubi rahimahullah.[4]
Intinya dari penjelasan Al Qurthubi rahimahullah, ada perbedaan dalam memahami dua dalil berikut. Dalil pertama tentang istitho’ah (kemampuan dalam berhaji).
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS. Ali Imron: 97).
Dalil kedua adalah tentang larangan bersafar tanpa mahram.
لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ ثَلاَثًا إِلاَّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ
Tidak boleh seorang wanita bersafar tiga (hari perjalanan) melainkan harus bersama mahromnya.” (HR. Muslim no. 1338 dan 1339, dari Ibnu ‘Umar)
Jadi ada ulama yang katakan bahwa ia tetap berangkat haji meskipun hanya mendapatkan rasa aman saja dengan ditemani para pria sholeh atau wanita yang tsiqoh (terpercaya). Karena para ulama yang berpendapat demikian menilai hajinya tetap ditunaikan, jika memang hajinya itu wajib. Sedangkan larangan untuk bersafar tanpa mahrom dinilai sebagai saddu dzari’ah, yaitu larangan yang bukan tertuju pada dzatnya akan tetapi terlarang karena dapat mengantarkan pada sesuatu yang terlarang. Dan mereka punya kaedah fiqh (yang tentu ini dibangun di atas dalil), “Sesuatu yang terlarang karena saddu dzari’ah dibolehkan jika dalam keadaan hajjah (butuh).” Dan mereka menganggap bahwa kondisi haji yang sudah wajib dilihat dari segi finansial dan fisik ini tetap dikatakan wajib meskipun akhirnya berangkatnya tanpa mahrom dan ditemani dengan para pria atau para wanita lain yang tsiqoh.
Sedangkan ulama yang menganggap tetap harus dengan mahrom—seperti pendapat ulama Hanafiyah dan ulama Hambali–, menyatakan bahwa mahrom itu sebagai syarat istitho’ah karena mereka menyatakan ayat yang membicarakan tentang istitho’ah (kemampuan) dalam berhaji dijelaskan dengan hadits larangan bersafar tanpa mahrom.
Riwayat Haji Tanpa Mahrom
Disebutkan Ibnu Hazm rahimahullah dalam Al Muhalla,
Sebagian ulama mengatakan bahwa seorang wanita boleh berhaji jika ia ditemani oleh orang-orang yang memberikan rasa aman, meskipun wanita tersebut kala itu tidak ditemani suami dan tidak ditemani mahromnya. Sebagaimana kami riwayatkan dari jalan Ibnu Abi Syaibah, ia berkata bahwa Waki’, dari Yunus (Ibnu Yazid), dari Zuhri, ia berkata, “Ada yang menanyakan pada ‘Aisyah—Ummul Mukminin—wanita, apakah betul seorang wanita tidak boleh bersafar kecuali dengan mahromnya?” ‘Aisyah menjawab,
ليس كل النساء تجد محرما
“Tidak setiap wanita memiliki mahrom.”
Dari jalur Sa’id bin Manshur, ia berkata bahwa Ibnu Wahb, dari ‘Amr bin Al Harits, dari Bukair bin Asyja’, dari Nafi’ (bekas budak Ibnu ‘Umar), beliau berkata,
كان يسافر مع عبد الله بن عمر موليات (له) (1) ليس معهن محرم،
Para bekas budak wanita milik ‘Abdullah bin ‘Umar pernah bersafar bersama beliau dan tidak ada bersama mereka mahrom.
Pendapat di atas juga menjadi pendapat Ibnu Sirin, ‘Atho’, nampak dari pendapat Az Zuhri, Qotadah, Al Hakam bin ‘Utaibah, ini juga menjadi pendapat Al Auza’i, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Abu Sulaiman dan beberapa sahabat.[5]
Ibnu Hazm rahimahullah pun memberikan sanggahan terhadap pendapat Imam Abu Hanifah (yang mensyaratkan wanita harus berhaji dengan mahrom). Beliau rahimahullah berkata, “Adapun pendapat Imam Abu Hanifah dalam penentuan yang kami sebutkan (tidak boleh bersafar lebih dari tiga hari kecuali bersama mahrom), maka pendapat ini tidak diketahui adanya salaf dari para sahabat yang berpendapat seperti itu, tidak pula diketahui adanya pendapat tabi’in. Bahkan kami tidak mengetahui ada ulama yang berpendapat sebelum mereka seperti itu.”[6]
Pentarjihan Pendapat
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Wanita tidak wajib bersafar untuk haji dan tidak boleh ia melakukannya kecuali jika bersama suami atau mahromnya.”[7]
Lalu Ibnu Taimiyah membawakan di antara dalilnya sebagai berikut:
لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ ثَلاَثًا إِلاَّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ
Seorang wanita tidak boleh bersafar lebih dari tiga hari kecuali bersama dengan mahromnya.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)
لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ ، وَلاَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَجُلٌ إِلاَّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ » . فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أُرِيدُ أَنْ أَخْرُجَ فِى جَيْشِ كَذَا وَكَذَا ، وَامْرَأَتِى تُرِيدُ الْحَجَّ . فَقَالَ « اخْرُجْ مَعَهَا »
Tidak boleh seorang wanita bersafar kecuali bersama mahromnya. Tidak boleh berkhalwat[8] (berdua-duaan) dengan wanita kecuali bersama mahromnya.” Kemudian ada seseorang yang berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin keluar mengikuti peperangan ini dan itu. Namun istriku ingin berhaji.” Beliau bersabda, “Lebih baik engkau berhaji bersama istrimu.” (Diriwayatkan oleh Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
Setelah membawakan dalil-dalil tersebut, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dalil-dalil dari Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut menunjukkan diharamkannya safar wanita tanpa mahrom. Dan dalil-dalil tersebut tidak menyatakan satu safar pun sebagai pengecualian. Padahal safar untuk berhaji sudah masyhur dan sudah  seringkali dilakukan. Sehingga tidak boleh kita menyatakan ini ada pengecualian dengan niat tanpa ada lafazh (pendukung). Bahkan para sahabat, di antara mereka memasukkan safar haji dalam hadits-hadits larangan tersebut. Karena ada seseorang yang pernah menanyakan mengenai safar haji tanpa mahrom, ditegaskan tetap terlarang.”[9]
Intinya, sejak dulu masalah ini ada silang pendapat karena beda dalam memahami dalil. Sehingga yang lebih kuat adalah yang lebih merujuk pada dalil. Alasan Ibnu Taimiyah ini lebih memuaskan karena didukung langsung oleh hadits yang shahih. Pendapat Ibnu Hazm cukup disanggah dengan alasan yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah di atas. Jadi, pendapat yang  menyatakan terlarangnya haji tanpa mahrom itu yang lebih kuat.
Dukungan dari Fatwa Al Lajnah Ad Daimah
Komisi Fatwa di Saudi Arabia, Al-Lajnah Ad-Daimah ditanya, “Seorang wanita shalihah setengah usia atau mendekati tua di Saba’ ingin haji dan tidak mempunyai mahram. Tapi di daerahnya ada seorang lelaki yang sholeh yang ingin haji bersama beberapa wanita dari mahramnya. Apakah wanita tersebut sah hajinya jika pergi bersama seorang lelaki sholeh yang pergi bersama beberapa wanita mahramnya dan lelaki tersebut sebagai pembimbingnya? Ataukah dia gugur dari kewajiban haji karena tidak ada mahram yang mendampingi padahal dia telah mampu dari sisi materi? Mohon fatwa tentang hal tersebut, sebab kami berselisih dengan sebagian kawan kami dalam hal tersebut.”
Jawaban:
Wanita yang tidak mempunyai mahram yang mendampingi dalam haji maka dia tidak wajib haji. Sebab mahram bagi seorang wanita merupakan istitho’ah (bentuk kemampuan) dalam melakukan perjalanan haji. Sedangkan kemampuan melakukan perjalanan merupakan syarat dalam haji. Allah Ta’ala berfirman,
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
 Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS. ‘Ali Imran : 97)
Seorang wanita tidak boleh pergi haji atau lainnya kecuali bersama suami atau mahramnya, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas, ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan (berkhalwat) dengan seorang wanita kecuali wanita itu disertai muhrimnya. Dan seorang wanita juga tidak boleh bepergian sendirian, kecuali ditemani oleh mahramnya.” Tiba-tiba berdirilah seorang laki-laki dan bertanya, “Ya, Rasulullah, sesungguhnya isteriku hendak menunaikan ibadah haji, sedangkan aku ditugaskan pergi berperang ke sana dan ke situ; bagaimana itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab, “Pergilah kamu haji bersama isterimu.
Demikian ini adalah pendapat Hasan Al Bashri, An Nakho’i, Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir dan Ahli Ra’yi (madzhab Abu Hanifah). Pendapat ini adalah pendapat yang lebih tepat karena sesuai dengan keumuman hadits-hadits yang melarang wanita bepergian tanpa suami atau mahramnya. Pendapat tersebut berbeda dengan pendapat Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Al-Auza’i. Di mana mereka menyebutkan syarat yang tidak bisa dijadikan hujjah. Ibnul Mundzir berkata, “Mereka meninggalkan pendapat yang begitu nampak jelas pada hadits. Masing-masing mereka menyebutkan syarat yang tidak bisa dijadikan hujjah“.
Wabillahit taufiq. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.[10]
Demikian yang kami sajikan sebatas ilmu kami. Semoga kajian ini bermanfaat.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

12 Dzulqo’dah 1431 H (20/10/2010)
KSU, Riyadh, Kingdom of Saudi Arabia


[1] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots, 1392, 9/104
[2] Kami sarikan dari Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, index “hajj”, point 25, 17/35-36.
[3] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 9/104.
[4] ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Al ‘Azhim Abadi Abuth Thoyib, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, 1415, 5/103-104.
[5] Al Muhalla, Ibnu Hazm, Mawqi’ Ya’sub (sesuai standar cetakan), 7/47-48
[6] Al Muhalla, 7/48
[7] Syarh Al ‘Umdah, Ibnu Taimiyah, Maktabah Al ‘Ubaikan, 1413 H, 2/172
[8] Tafsiran seperti ini lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar, Darul Ma’rifah, 1379, 4/77
[9] Syarh Al ‘Umdah, 2/174.
[10] Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz sebagai ketua, Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai wakil ketua, Syaikh ‘Abdullah Ghudayan dan Syaikh ‘Abdullah bin Mani’ sebagai anggota. Fatwa no. 1173, 11/90
  • 19
    19
    19
    19
    19
    19
    19
    19
    19
  • 7
    7
    7
    7
    7
    7
    7
    7
    7

Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Bila Pegawai Swasta Suka Telat

Bila Pegawai Swasta Suka Telat

Pertanyaan:
Aku bekerja di suatu perusahaan swasta selama enam tahun dan sekarang aku bertekad untuk tidak lagi bekerja di sana. Aku sering telat masuk kantor antara lima menit sampai satu jam. Perlu diketahui, bahwasanya keterlambatan ini tidaklah mempengaruhi produktivitas kerjaku. Namun keterlambatanku ini menyebabkan gajiku di perusahaan tersebut tidak naik-naik. Telah kuputuskan untuk mengembalikan sejumlah uang kepada perusahaan atas kompensasi keterlambatanku masuk kantor, akan tetapi pihak perusahaan tidak mengizinkan pengembalian uang semacam ini. Bolehkah uang tersebut kuserahkan saja kepada pesantren tahfizhul qur’an?
Jawaban:
Nampaknya pihak perusahaan mengetahui kebiasaan Anda dengan memberikan hukuman tidak menaikkan gaji Anda. Jika memang demikian, maka Anda tidak memiliki kewajiban untuk bersedekah dengan sebagian gaji tersebut, karena pihak perusahaan telah mengambil haknya dengan cara tidak menaikkan gaji Anda.
Akan tetapi jika pihak perusahaan tidak mengetahui keterlambatan Anda, maka Anda punya kewajiban untuk mengembalikan ke perusahaan senilai dengan nilai total keterlambatan Anda. Jika mengembalikan uang adalah suatu hal yang tidak mungkin dilakukan karena sistem pembukuan pihak perusahaan tidak mengizinkannya, maka Anda wajib menyedekahkan uang tersebut untuk berbagai keperluan sosial.
Syekh Ibnu Jibrin mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, Jika seorang guru swasta tidak maksimal dalam bekerja karena sering datang telat, meninggalkan sekolah tanpa izin, baik karena ada keperluan atau pun tanpa ada keperluan, tidak maksimal dalam mengajar, dsb. Apakah gaji yang dia terima untuk bulan itu seluruhnya halal untuknya ataukah dia berdosa sehingga tidak berhak menerima gaji secara utuh?
Syekh Ibnu Jibrin menanggapi, “Dalam kondisi semacam ini, kami menilai pegawai tersebut tidak berhak menerima secara utuh. Dia berkewajiban untuk menyedekahkan sebagian gajinya yang meragukan. Uang gaji yang meragukan adalah yang senilai dengan waktu kerja yang disia-siakan.
Semoga Allah melimpahkan keberkahan dalam harta yang anda miliki.”
Sumber: http://www.alsalafway.com/cms/fatwa.php?action=fatwa&id=243




Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

10 Tips Untuk Memilih Bisnis Yang Tepat

1. Membuat daftar hobi anda. 


Hobi dapat digunakan sebagai lahan berbisnis. Anda ingin menikmati bisnis anda, mulailah dengan mendata hobi yang anda sukai. Lihat dimasing-masing item pada daftar anda, dan tentukan mana yang dapat direalisasikan kedalam bisnis.

2. Mendata apa yang anda ketahui

Selain hobi ada banyak hal yang anda ketahui. Buatlah data hal-hal yang anda ketahui dengan sangat baik. Jangan mendata hal-hal yang kurang anda minati, atau yang membosankan. Lihat pada daftar tersebut dan tentukan item mana yang dapat direalisasikan kedalam bisnis.

3. Membuat daftar ketiga dari informasi daftar satu dan dua diatas. 

Pada daftar ketiga, tulislah hal yang benar-benar dapat dijalankan sebagai bisnis.

4. Mencintai apa yang anda lakukan bukanlah satu-satunya pertimbangan ketika memilih bisnis. 

Orang lain juga harus mencintai apa yang anda lakukan, atau memerlukan hasil dari tindakan anda, jika tidak anda tidak akan mendapatkan pelanggan. Dengan daftar final anda, mulai lakukan riset.

Anda bisa melakukan riset dari http://www.overture.com. Klik "Advertiser Center" di bagian atas halaman.

Dengan menggunakan Keyword Selector Tool, ketikkan kata kunci bisnis yang anda rencanakan. Seberapa populer kata-kata tersebut? Apakah orang menunggu-nunggu apa yang dapat anda tawarkan pada mereka? Jika bisnis anda adalah bisnis offline, kebutuhan apa yang dapat anda tawarkan pada komunitas?.

Sangat penting untuk memiliki informasi ini sebelum menginvestasikan waktu dan uang. Beri tanda untuk hal-hal yang tidak penting.

5. Dengan daftar bisnis yang potensial yang ada, lakukan estimasi biaya dan operasikan masing-masing dalam tiga bulan pertama. 

Berapa banyak dana yang anda gunakan dalam bisnis baru tersebut? Ingatlah untuk menambahkan biaya periklanan. Anda juga harus mempertimbangkan biaya hidup anda jika tidak ada sumber pendapatan yang lainnya. Bisnis mana yang mampu anda mulai? Apakah pendanaan juga termsuk dalam opsi? Hilangkan bisnis yang tidak realistik dari daftar anda.

6. Membuat daftar baru untuk bisnis yang tersisa di daftar anda. 

Anda perlu tahu apa yang diperlukan untuk memulai dan menjalankan bisnis anda. Anda perlu tahu segala sesuatunya. Alat apa yang anda butuhkan? Bagaimana anda mengiklankannya? Bentuk apa yang diinginkan? Berapa banyak dana yang anda butuhkan diawal? Persyaratan lokal dan regional apa saja yang diperlukan untuk menjalankan bisnis anda? Berapa keuntungan yang dihasilkan dari masing-masing bisnis tersebut setiap tahunnya? Buatlah daftar pertanyaan, dan jawablah pertanyaan yang ada di daftar anda.

7. Berapa banyak waktu yang anda sediakan sebagai investasi bisnis anda? 

Perhatikan secara realistis waktu yang dibutuhkan untuk bisnis potensial anda.

8. Tempatkan orang-orang yang ada dalam daftar di bisnis anda.

Cari jalan untuk berbicara dengan mereka. Temukan apa yang menjadi kendala, dan bagaimana menghindarinya. Belajar sebanyak mungkin dari mereka yang telah memulai usaha, apa saja yang perlu diperhatikan, mulai dari finansial hingga pengaturan waktu, dan apa yang telah mereka lakukan agar bisnisnya berhasil. Bukanlah ide yang baik untuk memilih kompetitor dalam riset ini. Atau memilih seseorang yang bukan kompetitor, atau jangan sampai mereka tahu anda adalah kompetitor potensial mereka. Teleponlah atau datang pada saat pertemuan dengan membawa daftar pertanyaan.

9. Memikirkan sisa bisnis potensial yang ada dalam list anda. 

Pikirkan satu per satu. Bayangkan anda mengambil langkah yang diperlukan untuk memulai masing-masing bisnis. Bayangkan anda menjalankan bisnis tersebut.Mana yang menurut anda lebih tepat? Mana yang menurut anda ada yang salah? Jangan pernah menyalahkan insting keberanian anda. Dengan menjalankan beberapa bisnis sekaligus bisa menimbulkan masalah. Anda akan kewalahan menangani tugas yang sama berkali-kali. Anda perlu berpikir panjang terhadap opsi-opsi anda, kepribadian, kesukaan dan apa yang tidak anda sukai.

10. Dengan semua informasi yang anda kumpulkan di riset, Anda berada pada posisi terbaik untuk memilih bisnis baru.

Jangan buang list anda. Mungkin anda ingin mencoba salah satunya di masa datang - setelah berhasil dengan bisnis anda yang pertama.

Sumber: Kelly Lowe

Adalah pemilik Online Business Base. Kelly memberikan pelatihan pada siapa saja yang ingin mendirikan bisnis rumahan secara profesional. Selain itu, dia juga penulis lepas profesional, serta menyusun database ide dan peluang bisnis di web sitenya.
Kategori: Entrepreneurship


Sumber: http://yudatfort814.blogspot.com/2011/07/cara-membuat-pesan-peringatan-hak-cipta.html#ixzz1iGyhTDSY

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More