[1] Kami terjemahkan dengan kata-kata banyak kesalahan karena bentuk kalimat semacam hadits di atas merupakan bentuk sighoh mubalaghoh yang bermakna banyak. Hal ini sebagaimana dikatakan Syaikh ‘Ali bin Hasan bin Abdul Hamiid Al Halabiy hafidzahullah. dalam salah satu muhadhorohnya yang berjudul Atsarut Taubah.
Monday, October 3, 2011
Teruntuk Saudaraku yang Tengah Terbaring
Teruntuk Bagimu Saudaraku yang Tengah Terbaring
Musibah, sakit, derita merupakan sebuah pemandangan yang amat sering kita lihat di sekitar kita, entah itu terjadi pada diri kita atau pada orang lain. Di lain sisi manusia merupakan mahluk Allah yang melakukan banyak kedzoliman pada dirinya sendiri berupa maksiat ataupun kepada orang lain. Sebagaimana sabda Nabi yang mulia alaihish sholatu was salam,
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Namun demikian diantara kemurahan Allah, diciptakanNya musibah yang bisa menghapus dosa hambaNya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah berupa rasa lelahnya badan, rasa lapar yang terus menerus atau sakit, rasa sedih/benci yang berkaitan dengan masa sekarang, rasa sedih/benci yang berkaitan dengan masa lalu, gangguan orang lain pada dirinya, sesuatu yang membuat hati menjadi sesak sampai-sampai duri yang menusuknya melainkan akan Allah hapuskan dengan sebab hal tersebut keslahan-kesalahannya”[3].
Maka lihatlah saudaraku betapa hal-hal di atas bisa menghapuskan dosa-dosa kita[4], sehingga sangatlah wajar jika orang-orang ‘alim sejak masa silam hingga sekarang bergembira jika mendapatkan hal di atas pada diri mereka. Sebagaimana yang dikatakan oleh Salman ketika beliau menjenguk orang yang sakit di Kindah sebagaimana yang dikabarkan oleh Sa’id dari bapaknya,
كُنْتُ مَعَ سَلْمَانَ وَعَادَ مَرِيْضًا فِيْ كِنْدَةَ فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ قَالَ أَبْشِرْ فَإِنَّ مَرَضَ الْمُؤْمِنِ يَجْعَلُهُ اللهُ لَهُ كَفَارَةً وَمُسْتَعْتَبًا وَإِنَّ مَرَضَ الْفَاجِرِ كَالْبَعِيْرِ عَقَلَهَ أَهْلُهُ ثُمَّ أُرْسِلُوْهُ فَلَا يَدْرِى لَمْ عُقِلْ وَلَمْ أُرْسِلْ
Aku (ayahnya Sa’id) suatu ketika bersama Salman menjenguk seorang yang sedang sakit di Kindah, ketika Salman menemuinya, Salman mengatakan, “Bergembiralah, karena sesungguhnya sakit yang dialami seorang mukmin Allah jadikan sebagai penghapus dosanya dan saat dimana ia taubat dari berbuatan maksiatnya serta mencari ridho Allah. Sedangkan sakit bagi orang yang fajir/kafir seperti onta yang diikat pemiliknya kemudian pemiliknya melepas ikatanya tanpa ia tahu kenapa ia diikat dan kenapa ia dilepas”[5].
Berkaitan dengan hadits ini Syaikh Husain Al ‘Uwaysyahhafidzahullah–salah seorang murid senior Syaikh Al Albani- mengatakan, “Hadits ini mengandung faidah bahwa orang kafir tidaklah mendapat balasan pahala atas musibah yang menimpanya (bahkan) mereka akan di azab di dunia dan akhirat karena mereka tidak ubahnya seperti binatang onta yang tidak tahu apa yang terjadi padanya (bahkan mereka lebih sesat), sebagaimana firman Allah Subahanahu wa Ta’ala,
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
“Apakah engkau mengira kebanyakan dari mereka mendengar (untuk memahami) dan berakal ? Mereka tidak lain seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi”. (QS : Al Furqon [25] :44).
Maka sakit dan musibah merupakan sebuah perkara yang bermanfaat bagi seorang (muslim dan) mukmin dan dapat menaikkan derajatnya dan tidak demikian halnya dengan orang kafir”[6].
Perhatikanlah lagi wahai saudaraku yang sedang dipembaringan di rumah sakit sabda orang yang tidak berkata kecuali apa yang diwahyukan kepadanyashollallahu ‘alaihi was sallam,
يُوَدُّ أَهْلُ العَافِيَةِ يَوْمَ القِيَامَةِ حِيْنَ يُعْطَى أَهْلُ البَلَاءِ الثَّوَابَ لَوْ أَنَّ جُلُوْدَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ فِيْ الدُّنْيَا بِالْمَقَارِيْضِ
“Kelak di hari qiyamat akan menyesal orang-orang yang tidak ditimpa musibah ketika orang-orang yang (sewaktu di dunia) ditimpa musibah diberi pahala. (sampai-sampai mereka bercita-cita) kalaulah dulu kulit mereka dipotong dengan gunting di dunia”[7].
Maka lihatlah saudaraku betapa sungguh benar-benar musibah, sakit yang kau alami saat ini adalah nikmat bagimu kelak di akhirat yang tidak bermanfaat lagi harta, istri dan anak.
Jika itu belum cukup menghibur hatimu maka marilah kusampaikan padamu hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam,
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلاَهُ اللَّهُ فِى جَسَدِهِ أَوْ فِى مَالِهِ أَوْ فِى وَلَدِهِ. ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ. حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِى سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى
“Sesungguhnya seorang hamba jika telah ditentukan/ditaqdirkan padanya suatu tingkatan (di surgapent.) yang belum sampai dengan sebab seluruh amalnya maka Allah akan timpakan padanya musibah berkaitan dengan dirinya, hartanya atau pada anaknya, kemudian ia bersabar atas hal tersebut sehingga dengan sebab hal tersebut Allah sampaikan ia pada tingkatan (di surgapent.) yang telah ditetapkanNya”[8].
Sebagai penutup teruntuk buat saudaraku yang sedang terbaring di dipan rumah sakit, ketauhilah wahai saudaraku sakit yang engkau derita merupakan tanda orang penghuni surga, sebagaimana sabda Nabi kita Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi was sallam,
جاَءَ أَعْرَابِىٌّ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- هَلْ أَخَذَتْكَ أُمُّ مِلْدَمٍ؟ قَالَ وَمَا أُمُّ مِلْدَمٍ قَالَ حَرٌّ يَكُونُ بَيْنَ الْجِلْدِ وَاللَّحْمِ. قَالَ لاَ. قَالَ فَهَلْ صُدِعْتَ؟. قَالَ وَمَا هَذَا الصُّدَاعُ. قَالَ رِيْحُ تَعْتَرِضُ فِيْ الرَأْسِ تَضْرِبُ الْعُرُوْقَ. قَالَ لاَ. فَلَمَّا قَامَ قَالَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَيْ فَلْيَنْظُرْهُ
Seorang arab badui (orang arab yang nomaden) mendatangi Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam, lalu Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Apakah kamu pernah sakit ummu milldam?” Dia menjawab, “Apa itu ummu milldam?” Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “(Penyakit yangpent) panasnya di antara kulit dan daging (kitapent)[9]”. Dia menjawab, “Tidak”. Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam bertanya lagi, “Apakah engkau pernah sakit Shod’u ?” Dia menjawab, “Apa itu Shod’u ?” Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, ““(Penyakit yang disebabkan olehpent) angin yang menekan urat kepala[10]”. Dia mengatakan, “Tidak”. Ketika orang tersebut pergi Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Siapa yang ingin melihat seseorang yang merupakan ahli neraka maka lihatlah orang ini”[11].
Berkaitan dengan hadits ini Syaikh Husain Al ‘Uwaysyah hafidzahullah–salah seorang murid senior Syaikh Al Albani- mengatakan, “Hadits ini mengandung faidah bahwa seorang mukmin dicoba dengan ujian berupa penyakit-penyakit, kelaparan, musibah yang kesemuanya itu dapat menghapus dosa-dosanya”[12].
Maka sekali lagi kukatakan padamu wahai teman, bergembiralah karena jika engkau pernah sakit maka salah satu tanda penghuni surga ada pada dirimu dan berhati-hatilah wahai saudaraku yang belum pernah merasakan sakit karena Nabishollallahu ‘alaihi was sallam mengatakan salah satu tanda penghuni neraka adalah orang yang tidak pernah sakit. Mudah-mudahan Allah kumpulkan kita di surgaNya,, Amin. Allahu a’lam.
Aditya Budiman
[2] HR. Tirmidzi no. 2687, Ibnu Majah no. 4392, Ad Darimi no. 2783, Ahmad no. 13072. Hadits ini dinilai hasan oleh Al Albani rohimahullah.
[3] HR. Bukhori no. 5641, Muslim no. 2573 dengan redaksi yang sedikit berbeda (مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ)
[4] Tentu saja dosa yang berada di bawah kemusyrikan dan tidak berkaitan pelanggaran hak orang lain dan bukan dosa besar karena dosa besar membutuhkan taubat, hal ini Insya Allah telah diketahui oleh kaum muslimin.
[5] HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod no. 493. Hadits ini dinilai shahih oleh Al Albani rohimahullah dalam Shohih Adabul Mufrod no. 379.
[6] Lihat Syarh Shohih Adabul Mufrod oleh Syaikh Husain Al ‘Uwaysyahhafidzahullah hal. 112/II, terbitan Maktabah Islamiyah, Kairo, Mesir.
[7] HR. Tirmidzi no. 2402, dinyatakan hasan oleh Al Albani rohimahullah dalamAsh Shohihah no. 2206.
[8] HR. Abu Dawud no. 3090, hadits ini dinyatakan shahih oleh Al Albanirohimahullah.
[9] Mungkin kita sebut sebagai demam.
[10] Mungkin kita sebut sebagai
[11] HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod 397, dinyatakan oleh Al Albanirohimahullah.
[12] Lihat Syarh Shohih Adabul Mufrod oleh Syaikh Husain Al ‘Uwaysyahhafidzahullah hal. 115/II, terbitan Maktabah Islamiyah, Kairo, Mesir.
0 comments:
Post a Comment