Share
div id='fb-root'/>

Friday, September 30, 2011

Sudahkah Hidup Anda Benar-benar Bertauhid...?

Share on :

Sudahkah Hidup Anda Benar-benar Bertauhid...?

Seringkali dalam menjalani hidup di dunia ini, kita terlalu sering untuk berleha – leha (bersantai ria) tanpa mempedulikan tujuan hidup kita. Bercanda tanpa arah, serta bertindak seakan tak pernah ada dosa. Terlena…barangkali inilah kata yang tepat untuk mewakili kehidupan kita yang seringkali kita gunakan untuk bercanda dari pada beribadah, seringkali kita habiskan untuk banyak tertawa dan sedikit menangis. Padahal seandainya kita mengetahui apa yang diketahui oleh Nabi kita yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita akan lebih banyak menangis daripada tertawa.
Kembali pada tujuan hidup kita. Banyak di antara kita yang telah mengetahui tujuan hidupnya. Namun seringkali mereka acuh padanya. Entah apa yang menyebabkan itu semua, semoga kita segera menyadarinya, bertaubat pada-Nya dan kembali menjalani tujuan hidup kita sebagai seorang hamba.

Apa tujuan utama kita dicipta di dunia…??? Tidak ada jawaban yang lebih tepat untuk menjawab pertanyaan ini, melebihi tepatnya kata TAUHID. Ya…Tauhid ini-lah tujuan kita diciptakan Ar Rahman di dunia ini. Dari buku Kitab at Tauhid yang ditulis oleh al Imam Muhammad ibnu ‘Abdul Wahhab, akan sedikit kami kutipkan tentang apa itu tauhid. Tentunya dengan harapan agar penulis serta teman – teman semua bisa memahami, mengamalkan serta mendakwahkan apa yang telah beliau tuliskan di sini.

SEDIKIT TENTANG TAUHID
Tauhid adalah mengesakan Allah Subhanahu wata’ala dengan beribadah kepadaNya semata. Ibadah merupakan tujuan penciptaan alam semesta ini. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“Dan Aku (Allah) tidah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.” (QS. Adz-Dzaariyaat : 56)
Maksudnya, agar manusia dan jin mengesakan Allah Subhanahu wata’ala dalam beribadah dan mengkhususkan kepadaNya dalam berdo’a.
Tauhid berdasarkan Al-Qur’anul Karim ada tiga macam:
1. TAUHID RUBUBIYAH
Yaitu pengakuan bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala adalah Tuhan dan Maha Pencipta. Orang-orang kafir pun mengakui macam tauhid ini. Tetapi pengakuan tersebut tidak menjadikan mereka tergolong sebagai orang Islam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“Dan sungguh, jika Kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka’, niscaya mereka menjawab,…Allah.” (QS. Az-Zukhruf : 87)
Berbeda dengan orang-orang komunis, mereka mengingkari keberadaan Tuhan. Dengan demikian, mereka lebih kufur daripada orang-orang kafir jahiliyah.
2. TAUHID ULUHIYAH
Yaitu mengesakan Allah Subhanahu wata’ala dengan melakukan berbagai macam ibadah yang disyari’atkan. Seperti berdo’a, memohon pertolongan kepada Allah, thawaf, menyembelih binatang kurban, bernadzar dan berbagai ibadah lainnya.
Macam tauhid inilah yang diingkari oleh orang-orang kafir. Dan ia pula yang menjadi sebab perseteruan dan pertentangan antara umat-umat terdahulu dengan para rasul mereka, sejak Nabi Nuh alaihissalam hingga diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam.
Dalam banyak suratnya, Al-Qur’anul Karim sering memberikan anjuran soal tauhid uluhiyah ini. Di antaranya, agar setiap muslim berdo’a dan meminta hajat khusus kepada Allah semata.
Dalam surat Al-Fatihah misalnya, Allah berfirman:
“Hanya Kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah Kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)
Maksudnya, khusus kepadaMu (ya Allah) kami beribadah, hanya kepadaMu semata kami berdo’a dan kami sama sekali tidak memohon pertolongan kepada selainMu.
Tauhid uluhiyah ini mencakup masalah berdo’a semata-mata hanya kepada Allah, mengambil hukum dari Al-Qur’an, dan tunduk berhukum kepada syari’at Allah. Semua itu terangkum dalam firman Allah,
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku maka sembahlah Aku.” (QS. Thaha: 14)
3. TAUHID ASMA’ WA SHIFAT
Yaitu beriman terhadap segala apa yang terkandung dalam Al-Qur’anul Karim dan hadits shahih tentang sifat-sifat Allah yang berasal dari penyifatan Allah atas DzatNya atau penyifatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beriman kepada sifat-sifat Allah tersebut harus secara benar, tanpa ta’wil (penafsiran), tahrif (penyimpangan), takyif (visualisasi, penggambaran), ta’thil (pembatalan, penafian), tamtsil (penyerupaan), tafwidh (penyerahan, seperti yang banyak dipahami oleh manusia) .
Misalnya tentang sifat al-istiwa ‘ (bersemayam di atas), an-nuzul (turun), al-yad (tangan), al-maji’ (kedatangan) dan sifat-sifat lainnya, kita menerangkan semua sifat-sifat itu sesuai dengan keterangan ulama salaf (ulama pendahulu dari kalangan sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in). Al-istiwa’ misalnya, menurut keterangan para tabi’in sebagaimana yang ada dalam buku Shahih al Bukhari berarti al-’uluw wal irtifa’ (tinggi dan berada di atas) sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala. Allah berfirman:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. Asy-Syuura: 11)
Maksud beriman kepada sifat-sifat Allah secara benar adalah dengan tanpa hal-hal berikut ini:
1. Tahrif (penyimpangan): Memalingkan dan menyimpangkan zhahirnya (makna yang jelas tertangkap) ayat dan hadits-hadits shahih pada makna lain yang batil dan salah. Seperti istawa (bersemayam di tempat yang tinggi) diartikan istaula (menguasai).
2. Ta’thil (pembatalan, penafian): Mengingkari sifat-sifat Allah dan menafikannya. Seperti Allah berada di atas langit, sebagian kelompok yang sesat mengatakan bahwa Allah berada di setiap tempat.
3. Takyif (visualisasi, penggambaran): Menvisualisasikan sifat-sifat Allah. Misalnya dengan menggambarkan bahwa bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy itu begini dan begini. Bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy tidak serupa dengan bersemayamnya para makhluk, dan tak seorang pun yang mengetahui gambarannya kecuali Allah semata.
4. Tamtsil (penyerupaan): Menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhlukNya. Karena itu kita tidak boleh mengatakan, “Allah turun ke langit, sebagaimana turun kami ini”. Hadits tentang nuzul-nya Allah (turunnya Allah) ada dalam riwayat Imam Muslim.
Sebagian orang menisbatkan tasybih (penyerupaan) nuzul ini kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ini adalah bohong besar. Kami tidak menemukan keterangan tersebut dalam kitab-kitab beliau, justru sebaliknya, yang kami temukan adalah pendapat beliau yang menafikan tamtsil dan tasybih.
5. Tafwidh (penyerahan): Menurut ulama salaf, tafwidh hanya pada al-kaif (hal, keadaan) tidak pada maknanya. Al-Istiwa’ misalnya berarti al-’uluw (ketinggian), yang tak seorang pun mengetahui bagaimana dan seberapa ketinggian tersebut kecuali hanya Allah. Tafwidh (penyerahan): Menurut Mufawwidhah (orang-orang yang menganut paham tafwidh) adalah dalam masalah keadaan dan makna secara bersamaan. Pendapat ini bertentangan dengan apa yang diterangkan oleh ulama salaf seperti Ummu Salamah, Rabi’ah guru besar Imam Malik dan Imam Malik sendiri. Mereka semua sependapat bahwa, “Istiwa’ (bersemayam di atas) itu jelas pengertiannya, bagaimana cara/keadaannya itu tidak diketahui, iman kepadanya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah (tidak dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.)”
Setelah mengerti akan tauhid, ke depan akan coba kami kutipkan kembali tulisan para ulama’ kaum muslimin tentang keistimewaan tauhid, kedudukan serta apa saja konsekuensi dari seorang hamba yang bertauhid. Insya Allah…
Semoga sedikit apa yang kami kutipkan dari buku Al Imam Muhammad ibnu ‘Abdul Wahhab ini, bisa mengubah tujuan hidup kita dan semakin bisa mengarahkan diri kita menuju Syurga yang mulia dan penuh dengan kemuliaan bersama dengan orang – orang yang beriman. Amiiin…

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More